Liputan6.com, Bandung - Pencegahan dan intervensi dini masalah kesehatan mental pada siswa tengah digalakkan di Kota Bandung. Salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Bandung dengan program psikolog ke sekolah.
"Kita sedang gelisah. Anak-anak kita sedang menghadapi tekanan yang jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya," ujar Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dalam siaran medianya ditulis Bandung, Senin (9/2/2026).
Advertisement
Farhan mengatakan gangguan kesehatan jiwa tidak muncul secara tetiba. Stres yang berkepanjangan dapat berkembang menjadi depresi dan pada kondisi ekstrem, mendorong munculnya pikiran bunuh diri.
Farhan mengatakan persoalan ini harus dipahami sebagai tragedi kemanusiaan yang membutuhkan empati dan penanganan komprehensif. Belum lagi paparan tekanan sosial di era digital yang membuat anak-anak lebih rentan. Jika dulu ejekan hanya terjadi di lingkungan sekolah, kini perundungan dapat menyebar luas melalui media sosial dan disaksikan publik secara masif.
"Sekarang satu kesalahan bisa ditertawakan satu dunia. Tekanan psikologisnya jauh lebih berat. Ini berbahaya kalau kita anggap sepele," kata Farhan.
Program intervensi kesehatan mental di sekolah dijelaskan Farhan, akan melibatkan guru Bimbingan Konseling (BK), psikolog, serta psikolog klinis untuk melakukan asesmen dan pendampingan langsung kepada siswa.
Koordinasi dengan Orangtua
Farhan mengimbau para orangtua agar tidak tersinggung atau menolak ketika anak mereka masuk dalam asesmen kesehatan mental. Ia menekankan asesmen bukan bentuk pelabelan negatif, melainkan upaya perlindungan dini agar anak mendapatkan dukungan yang tepat.
"Bukan berarti anak kita dianggap bermasalah. Justru ini bentuk kepedulian. Apa yang dialami anak-anak di luar rumah sering kali di luar jangkauan orang tua," jelas Farhan.
Selain intervensi psikologis, Farhan menekankan pentingnya penguatan literasi digital sebagai bagian dari pencegahan.
Kemampuan anak menyaring informasi, menghadapi perundungan daring serta mengelola tekanan sosial di ruang digital dinilai krusial untuk menjaga kesehatan mental generasi muda.
"Penguatan literasi digital penting karena sebagai bagian dari pencegahan, kemampuan anak dalam menyaring informasi serta dapat memahami situasi media sosial," terang Farhan.
Disdik Bandung Perkuat Peran Guru BK
Dilansir Liputan6, kesehatan mental anak penting untuk diperhatikan. Maka dari itu Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung memperkuat peran guru Bimbingan Konseling (BK) sebagai garda terdepan untuk mendeteksi dan menangani persoalan kesehatan mental siswa sejak dini.
Menurut Kepala Disdik Kota Bandung, Asep Saeful Gufron dalam waktu dekat seluruh guru Bimbingan Konseling (BK) se-Kota Bandung untuk mendapatkan penguatan kapasitas.
Selain itu, Disdik juga akan menggandeng Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) dalam memberikan pelatihan dan pemetaan kompetensi guru BK agar lebih tajam membaca situasi psikologis siswa di sekolah masing-masing.
"Nanti para guru BK akan dibekali keilmuan oleh para psikolog, supaya bisa lebih fokus mendeteksi perubahan perilaku, pola pikir dan potensi risiko pada anak-anak. Usia SMP ini masa yang sangat rentan, tergantung bagaimana kita mengarahkan dan mengisi pola pikir mereka," ungkap Asep.
Selain penguatan guru BK, Disdik juga memiliki tenaga psikolog untuk melakukan asesmen terhadap siswa yang terindikasi mengalami persoalan kesehatan mental.
Asep menjelaskan hasil asesmen akan menjadi dasar penanganan lanjutan, mulai dari pendampingan intensif di sekolah hingga rujukan ke layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak.
"Kalau hasil asesmen masih memungkinkan anak tetap belajar di sekolah umum, maka guru BK akan mengawal secara khusus. Tapi jika kemampuan anak berada jauh di bawah rata-rata, tentu kami komunikasikan dengan orang tua dan mengoordinasikan kemungkinan rujukan ke sekolah berkebutuhan khusus seperti SLB," terang Asep.
Berdasarkan data Dapodik, ribuan peserta didik berkategori disabilitas di Kota Bandung yang menjadi perhatian khusus Disdik. Penanganan dilakukan tidak hanya di sekolah negeri, tetapi juga swasta dengan skema akomodasi sesuai regulasi yang berlaku.
Siswa Terindikasi Miliki Masalah Mental Akan Dirujuk
Mendatang, Asep menyebut kolaborasi dengan Dinkes juga akan diperkuat hingga tingkat kewilayahan melalui puskesmas. Anak-anak yang terindikasi mengalami persoalan kesehatan mental akan ditangani secara bertahap di sekolah lalu dirujuk ke layanan kesehatan jika diperlukan.
"Harapannya, sekolah bisa menjadi ruang aman bagi anak-anak. Bukan hanya tempat belajar akademik, tapi juga tempat bertumbuh secara mental dan emosional," sebut Asep.