Menkeu Purbaya Usul Penonaktifan Peserta PBI JKN Tak Mendadak

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengusulkan masa transisi 2–3 bulan sebelum penonaktifan peserta PBI JKN diberlakukan.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 09 Februari 2026, 12:00 WIB
Dokter Natasha memeriksa kulit tangan pasien BPJS Kesehatan yang menderita penyakit kulit di Faskes Tingkat 1 Klinik Kesehatan Prima Husada di Depok, Jawa Barat. Beri masukan penonaktifan massal 11 juta peserta PBI JKN, Menkeu Purbaya ingatkan pemerintah agar tidak merugikan rakyat yang sedang berobat. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti polemik penonaktifan peserta Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI JKN) yang dinilai terlalu mendadak dan memicu keresahan di masyarakat. Bendahara negara ini mengingatkan agar perubahan status kepesertaan PBI JKN tidak dilakukan secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan yang jelas.

"Jangan sampai sudah sakit tiba-tiba begitu mau cuci darah lagi gak berhak, kan itu kayaknya kita konyol ya padahal uang yang saya keluarin (alokasi kesehatan untuk PBI JK) sama, saya rugi disitu, uang keluar image jelek jadinya. Pemerintah rugi dalam hal ini," kata Purbaya dalam Rapat Konsultasi Komisi DPR dengan Pemerintah, di Jakarta, Senin (9/2/2026).

Ia menekankan bahwa kebijakan pemutakhiran data memang penting untuk memastikan bantuan tepat sasaran. Namun, proses pelaksanaannya harus mempertimbangkan dampak langsung bagi masyarakat, terutama mereka yang sedang menjalani pengobatan rutin.

Purbaya mengingatkan agar masyarakat tidak sampai mengetahui status nonaktifnya saat sedang membutuhkan layanan kesehatan. Ia mencontohkan kondisi pasien yang tengah menjalani cuci darah, yang bisa menghadapi situasi sulit bila tiba-tiba tidak lagi ditanggung karena perubahan data yang tidak tersosialisasi.

 

Usul Masa Transisi 2–3 Bulan

Dokter Desman Siahaan memberikan sosialisasi langsung mengenai tata cara rumah sakit rujukan kepada pasien BPJS Kesehatan yang sedang antre berobat di Faskes Tingkat 1 Klinik Kesehatan Prima Husada di Depok, Jawa Barat, Senin (23/5/20222). Sejumlah terobosan saat ini dilakukan paramedis di Faskes Tingkat 1, diantaranya sosialisasi langsung di tempat bagi pasien peserta program JKN mengenai proses rujukan pasien. (merdeka.com/Arie Basuki)

Sebagai solusi, Kementerian Keuangan mengusulkan agar penonaktifan peserta PBI JKN tidak diberlakukan secara langsung. Purbaya menyarankan adanya masa transisi selama dua hingga tiga bulan sebelum status nonaktif benar-benar diterapkan.

Menurutnya, masa jeda tersebut penting agar masyarakat memiliki waktu untuk menyesuaikan diri. Mereka bisa mencari informasi, mempersiapkan pembayaran iuran mandiri, atau mengurus kembali status kepesertaan jika masih memenuhi kriteria penerima bantuan.

"Begitu mereka tidak masuk list mereka langsung trigger sosialisasi ke mereka bahwa mereka tidak masuk lagi ke list itu sehingga mereka bisa melakukan tindakan yang diperlukan, entah bayar ditempat lain atau gimana," ujarnya.

 

Lonjakan Penonaktifan Jadi Pemicu Gejolak

Petugas memeriksa tekanan darah pasien BPJS Kesehatan yang berobat di Faskes Tingkat 1 Klinik Kesehatan Prima Husada di Depok, Jawa Barat, Senin (23/5/20222). Sejumlah terobosan saat ini dilakukan paramedis di Faskes Tingkat 1, diantaranya penilaian peserta program JKN melalui fitur Kessan (Kesan Pesan Peserta Setelah Layanan) dalam aplikasi Mobile JKN. (merdeka.com/Arie Basuki)

Purbaya menilai gejolak yang muncul belakangan ini tidak lepas dari besarnya jumlah peserta yang dinonaktifkan dalam waktu singkat. Pada Februari 2026, jumlah peserta PBI JKN yang dihapus dari daftar mencapai sekitar 11 juta orang, atau hampir 10% dari total penerima bantuan.

Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan periode sebelumnya, yang biasanya hanya berkisar di bawah satu juta hingga sekitar tujuh juta orang. Lonjakan drastis ini membuat banyak masyarakat tidak menyadari perubahan status mereka hingga merasakan langsung dampaknya.

"Sebelumnya (yang dihapus) 7 juta orang, 1 juta orang, dibawah 1 juta orang. Jadi, ini yang menjadi kejutan kenapa tiba-tiba rame di bulan Februari di tahun ini, menurut dugaan kami karena sedemikian besar yang terpengaruh dan mereka tidak tahu bahwa mereka sudah tidak masuk dalam daftar lagi, sehingga kerasa lah itu. Kalau 1% gak ribut orang-orang, begitu 10% hampir yang sakit itu semuanya kena, dugaan saya," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya