BGN Minta Pengawas Gizi dan Asisten Lapangan Cek Bahan Baku Sebelum Dimasak: Kalau Ada Intervensi, Lapor Saya!

Waka BGN mendapat laporan kerap kali mitra SPPG mengintevensi dengan mengubah menu yang sudah disusun pengawas Gizi dengan dalih belum pengalaman.

oleh Lia HarahapDiterbitkan 09 Februari 2026, 10:22 WIB
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, memastikan bahwa tidak boleh ada pemaksaan bagi sekolah mana pun untuk menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Foto: Dokumentasi BGN)

Liputan6.com, Jakarta - Pengawas gizi, pengawas keuangan, dan Asisten Lapangan (Aslap) diminta mengecek secara teliti setiap bahan baku yang akan diolah termasuk ketika makanan selesai dimasak. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, mengatakan dengan ketelitian ekstra dapat mencegah terjadinya insiden keamanan pangan dari awal.

"Bahan baku kalau memang dari awal sudah ada tanda-tanda ayam itu enggak sehat, sayuran enggak sehat, tahu mungkin enggak sehat, segera kembalikan ke mitra," kata Nanik pada saat memberikan pengarahan langsung dalam acara Koordinasi dan Evaluasi untuk para Ahli Gizi Akuntan, dan Chef se Kabupaten Pacitan, Ponorogo, dan Trenggalek, di Hurya Balroom, Pacitan, pada akhir Februari 2026 lalu.

 

Tolak Intervensi Mitra SPPG

Nanik juga mengingatkan para Pengawas Gizi dan Pengawas Keuangan untuk menolak intervensi yang sering dilakukan mitra SPPG ke dapur-dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Apalagi jika mereka dengan sembarangan mengubah-ubah menu yang sudah disusun Pengawas Gizi. Biasanya mereka mengintervensi dan mengatur-atur, dengan dalih, karena para Ahli Gizi masih junior, masih belum berpengalaman, dan tidak tahu harga pangan.

“Laporkan ke saya. Kalau ada intervensi saya tutup langsung dapurnya. Enggak boleh, enggak boleh, enggak ada urusan dengan Mitra. Apalagi mengubah menu (yang telah disusun) Ahli Gizi. Kalau ada yang berani mengubah, saya suspend! Biar mereka rasakan,” kata Ketua Harian Tim Koordinasi 17 Kementerian dan Lembaga untuk Pelaksanaan Program MBG itu dengan tegas.

 

Modus Mitra Cari Cuan

Menurutnya, modus-modus yang disampaikan mitra SPPG itu semata-mata demi meraup cuan yang banyak.

"Karena saya tahu, mereka akan memilihkan produk yang kurang bagus, supaya bisa ambik untung banyak. Awas saja! Ini yang bikin keracunan mulai dari pemilihan bahan baku yang nggak bener,” ujarnya pula.

Para Pengawas Gizi dan Jurutama Masak juga harus mengerti cara menangani bahan, dan memahami petunjuk teknis pemakaian alat. Hal ini penting, agar tidak terjadi insiden keracunan gara-gara ketidakfahaman mereka dalam cara menangani bahan dan pemakaian alat. Saat barang datang wajib dicek kualitasnya. Pada ayam misalnya, ahli gizi bisa menentukan apakah ayam itu langsung direbus, atau disimpan di dalam chiller dengan suhu di bawah 5 derajat.

"Ada di Magelang, (ayam itu) disimpan di chiller dengan suhu 19 derajad. Rak edan. Ini sama dengan mengungkep ayam mentah. Akibatnya salmonella datang dan terjadilah keracunan di Magelang, 200 orang teler,” ujarnya.

Situasi lebih menyedihkan, katanya, terjadi di salah satu SPPG di Boyolali yang pekan lalu mengalami insiden keamanan pangan. Mitra SPPG ternyata hanya menyediakan chiller dan kulkas bekas dalam kondisi bermasalah. Karena itu, Nanik berpesan kepada Chef yang lebih memahami kondisi alat, untuk memberitahu Kepala SPPG agar segera meminta alat pengganti kepada Mitra. Sebab, Mitra-lah yang bertanggung jawab untuk menyediakan peralatan dapur yang baru, dan berkualitas. Mitra yang tidak mau memperbarui peralatan dapur akan disuspend, sampai mereka memenuhi kewajibannya.

“Kalau alat-alat rusak, Chef saya minta, tolong beritahu bahwa alat yang tidak layak dipakai. Jangan dipaksakan. Minta! Karena kita sewa. Kalau ada alat rusak, harus mitra yang ganti. Peralatan minta yang bagus, seperti apa di juknisya. Jangan kayak di Boyolali, chillernya bekas, kulkasnya bekas, semuanya bekas. Ini kan kurang ajar. Dia terima 6 juta sehari tapi barang bekas ditaruh,” kata Nanik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya