Liputan6.com, Jakarta - Hoaks menjadi permasalahan di tengah derasnya arus informasi yang kian tak terbendung. Pasalnya, informasi palsu tersebut dapat menimbulkan berbagai dampak negatif baik untuk pemerintah dan masyarakat. Namun perlu khawatir, ada cara mudah agar kita terhindari dari jebakannya.
Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya mengatakan, masyarakat saat ini tidak lagi sekadar menghadapi banjir informasi, melainkan sudah berada dalam situasi tsunami informasi yang berpotensi menggerus daya kritis publik.
Advertisement
Menurutnya, melimpahnya informasi tidak selalu diiringi dengan kemampuan memilah dan menguji kebenaran sehingga banyak orang dengan mudah menelan informasi mentah berbasis impresi semata.
"Impresi sering kali lebih dominan dibandingkan nalar. Padahal, yang kita butuhkan hari ini adalah malar kritis dan akal sehat agar tidak mudah terjebak pada hoaks," kata Willy, dikutip dari Antara, Minggu (8/2/2026).
Willy menegaskan pentingnya literasi dan kemampuan berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi yang kian tak terbendung. Di tengah inflasi informasi, akal sehat dan common sense menjadi fondasi utama dalam berdemokrasi.
Menurut Willy gelar akademik tidak otomatis melahirkan kemampuan berpikir kritis. Sebab itu setiap individu membutuhkan latihan untuk berpikir kritis. Selain itu, keberanian bertanya serta konsistensi dalam memverifikasi informasi sebagaimana prinsip 5W+1H dalam kerja jurnalistik.
"Critical thinking itu proses ketat. Kita harus bertanya siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana. Tanpa itu, hoaks akan lebih cepat dipercaya daripada fakta," ucapnya.
Tips Menghindari Penyebaran Hoaks
Selain mengenali hoaks, mencegah penyebarannya juga sama pentingnya. Setiap individu memiliki peran dalam menghentikan rantai disinformasi.
Tidak Menyebarkan Kembali
Setelah Anda membaca dan meneliti suatu informasi, jika ternyata itu adalah hoaks, jangan pernah mengirim ulang atau membagikannya. Tindakan ini dapat secara efektif menghentikan penyebaran informasi palsu yang merugikan banyak orang.
Penyebaran informasi palsu hanya akan memperkuat persebarannya dan memperluas dampak negatifnya. Bertanggung jawab dalam berbagi informasi adalah kunci untuk menjaga ketenangan publik.
Dengan tidak menyebarkan kembali hoaks, Anda turut berkontribusi dalam menjaga ekosistem informasi yang sehat dan terpercaya, terutama di masa-masa kritis seperti bencana.
Melaporkan Hoaks
Jika Anda menemukan informasi palsu, segera laporkan kepada platform media sosial yang bersangkutan menggunakan fitur pelaporan yang tersedia. Tindakan ini membantu platform untuk menindaklanjuti dan menghapus konten yang tidak benar.
Pengguna internet juga dapat mengadukan konten negatif ke Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melalui email aduankonten@mail.kominfo.go.id. Pemerintah juga berupaya menutup akses tautan atau akun penyebar hoaks.
Kerja sama antara masyarakat dan pemerintah dalam melaporkan hoaks sangat penting untuk meminimalkan dampak negatifnya. Pelaporan yang cepat dan tepat dapat mencegah hoaks menyebar lebih luas.
Edukasi Anti-Hoaks
Pemerintah memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi media dan digital masyarakat melalui kampanye kesadaran publik dan edukasi etika digital. Program pelatihan literasi digital perlu diperluas, terutama di daerah pedesaan.
Hal ini untuk memastikan masyarakat dapat memanfaatkan teknologi dengan baik dan tidak mudah termakan informasi palsu. Polri juga aktif memberikan edukasi anti-hoaks kepada masyarakat untuk mencegah perpecahan dan gangguan keamanan.
Edukasi yang berkelanjutan dan menyeluruh akan membekali masyarakat dengan kemampuan untuk mengidentifikasi dan menolak hoaks. Ini merupakan investasi jangka panjang dalam membangun ketahanan informasi.