Menhut Raja Juli Dorong Lahan Basah Jadi Pusat Biodiversitas dan Ekonomi Masyarakat Pesisir

Menhut menegaskan komitmen Indonesia sebagai anggota Konvensi Ramsar, dengan telah mendaftarkan delapan situs lahan basah penting.

oleh Tim NewsDiterbitkan 07 Februari 2026, 04:05 WIB
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan, Kalimantan Utara (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan pentingnya perlindungan dan pengelolaan lahan basah berbasis pengetahuan tradisional. Raja Antoni berharap lahan basah menjadi kawasan dengan biodiversitas tinggi dan menjadi sumber ekonomi untuk masyarakat pesisir.

“Kita berharap Lahan basah bukan hanya tanah yang basah, tetapi kawasan dengan biodiversitas yang sangat tinggi, sumber ekonomi yang baik, sekaligus memiliki kemampuan penyerapan karbon yang sangat besar,” ujar Menhut Raja Antoni di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan, Kalimantan Utara, dalam keterangan diterima, Sabtu (7/2).

Hal ini disampaikan Raja Antoni dalam peringatan Hari Lahan Basah Sedunia dengan mengusung tema ‘Lahan Basah dan Pengetahuan Tradisional: Merayakan Warisan Budaya’. Dalam acara turut dihadiri Head of Development Cooperation and Counsellor, Embassy of Canada to Indonesia Ms. Alice Birnbaum, Gubernur Kalimantan Utara Zainal A. Paliwang dan jajaran Kementerian Kehutanan.

Raja Antoni mengatakan kemajuan ilmu pengetahuan modern telah membawa banyak progres dalam pengelolaan kehutanan dan lingkungan. Namun, kearifan lokal tetap memiliki peran strategis sebagai sumber pengetahuan yang harus diakui dan dirayakan.

“Masyarakat kita sejak dulu sudah sangat terbiasa dengan sistem pasang surut, sistem pertanian di lahan basah, hingga memahami pola migrasi burung di kawasan basah sejak zaman nenek moyang,” jelasnya.

“Hal-hal seperti ini perlu kita institusionalisasikan untuk melengkapi riset-riset yang dilakukan oleh universitas dan lembaga-lembaga kita,” sambungnya.

 

Komitmen

Lebih lanjut, Menteri Kehutanan menegaskan komitmen Indonesia sebagai anggota Konvensi Ramsar, dengan telah mendaftarkan delapan situs lahan basah penting. Indonesia, lanjutnya, dianugerahi kekayaan lahan basah yang luar biasa, sehingga perlu adanya kerjasama dan kolaborasi semua pihak baik nasional maupun internasional.

“Sekitar 23 persen mangrove dunia berada di Indonesia, dan kita juga memiliki gambut tropis terbesar di dunia. Ini adalah titipan dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang harus kita jaga bersama-sama,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Head of Development Cooperation and Counsellor, Embassy of Canada to Indonesia Ms. Alice Birnbaum mengatakan pihaknya bangga dapat bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan. Ia juga mengaku berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem mangrove dan masyarakat pesisir.

“Mangrove ini tidak hanya indah tapi juga diakui secara global sebagai penopang keanekaragaman hayati dan pondasi bagi ekosistem. Canada sangat bangga dapat bermitra dengan Kementerian Kehutanan dan banyak pihak lainnya. Kami berkomitmen untuk melindungi ekosistem sekaligus memperkuat masyarakat pesisir. Kita di sini hadir ini menjadi babak baru menuju keberlanjutan,” ujar Alice.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya