Liputan6.com, Ngada - Kematian tragis YBR (10), seorang siswa sekolah dasar di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga kuat bunuh diri, menyisakan duka mendalam sekaligus sorotan tajam pada sistem administrasi kependudukan.
Bocah malang tersebut diduga nekat mengakhiri hidupnya karena himpitan ekonomi yang membuatnya tidak mampu membeli perlengkapan sekolah dasar seperti buku dan pena.
Advertisement
Menanggapi peristiwa tersebut, Pemerintah Kabupaten Ngada melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) turun tangan menelusuri penyebab keluarga korban tidak tersentuh bantuan pemerintah.
Kepala Dinas Dukcapil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo, memastikan bahwa keluarga YBR memang tidak pernah menerima bantuan sosial (bansos) apa pun. Hal ini bukan karena unsur kesengajaan, melainkan kendala administrasi kependudukan (Adminduk) yang belum tuntas selama belasan tahun.
Gerardus menjelaskan, ibu korban secara de facto telah tinggal di Desa Naruwolo selama 11 tahun. Namun, secara de jure, status kependudukannya masih tercatat di Kabupaten Nagekeo.
"Ibu korban masih ber-KTP Nagekeo, meski sudah 11 tahun tinggal di Desa Naruwolo. Kondisi tersebut membuat keluarga korban tidak tercatat dalam sistem bantuan sosial di wilayah setempat," ujar Gerardus, Kamis (5/2/2026).
Pindah Domisili
Pasca tragedi ini, pihak Dukcapil langsung melakukan jemput bola untuk memproses perpindahan domisili keluarga korban agar mereka bisa masuk ke dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
"Saat itu juga kami langsung mendata dan memproses pindah penduduk. Besok, seluruh dokumen kependudukan sudah selesai," tegas Gerardus.
Himpitan Ekonomi
YBR ditemukan meninggal dunia di pondok bambu sederhana yang menjadi tempat tinggalnya bersama neneknya berusia 80 tahun pada Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 12.30 Wita. Informasi yang dihimpun, korban merasa tertekan karena kesulitan mengikuti kegiatan belajar mengajar tanpa alat tulis yang memadai.
Sehari sebelum mengakhiri hidupnya, YBR tidur bersama ibunya, MGT (47). Saat itu, ia sempat meminta dibelikan buku dan pena. Namun, permintaannya itu tidak dikabulkan ibunya, karena belum memiliki uang.
Sebelum gantung diri, YBR juga menulis sebuah pesan terakhir untuk ibundanya yang menolak permintaannya.
Kata Kepala BP Taskin
Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko saat dihubungi tim Liputan6.com, Rabu (4/2/2026) mengatakan, kasus bocah SD bunuh diri ini menunjukkan bahwa memang masih ada persoalan kemiskinan yg mendera sebagian keluarga Indonesia. Dan ini berakibat pd beban psikologis anak.
"Karena itu pemerintah sedang menggalakkan soal Sekolah Rakyat (SR) agar tak ada lagi kasus-kasus serupa terjadi lagi di Indonesia," katanya.
Dengan dibangunnya SR maka anak-anak dari keluarga miskin ekstrem sedang dintegrasikan dengan sistem sekolah dan fasilitas-fasilitas belajar yang memadai.
"Pemda setempat harus segera turun tangan dan pemerintah pusat akan terus mengatasi persoalan sistemik kemiskinan dan juga kesehatan mental anak-anak agar tak melakukan hal-hal serupa," katanya.
Atas kasus yang menimpa bocah SD di Ngada, Budiman secara pribadi mengaku minta maaf karena proses ini (sekolah rakyat) belum sepenuhnya menyentuh tiap anak dari keluarga miskin ekstrem.
Tapi bapak Presiden mengatakan bahwa pendirian SR-SR ini harus diintegrasikan dengan perumahan rakyat dan jejaring ekosisitem pemberdayaan ekonomi. Semuanya sedang dikerjakan," katanya.
Budiman juga meminta pemda Kabupaten Ngada untuk segera melakukan segala upaya untuk memulihkan ekonomi serta kondisi psikologis mereka.
KONTAK BANTUAN
Bunuh diri bukan jawaban apalagi solusi dari semua permasalahan hidup yang seringkali menghimpit. Bila Anda, teman, saudara, atau keluarga yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, dilanda depresi dan merasakan dorongan untuk bunuh diri, sangat disarankan menghubungi dokter kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan (Puskesmas atau Rumah Sakit) terdekat.
Bisa juga mengunduh aplikasi Sahabatku: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.icreativelabs.sahabatku
Atau hubungi Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567 yang melayani berbagai pengaduan, permintaan, dan saran masyarakat.
Anda juga bisa mengirim pesan singkat ke 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat surat elektronik (surel) kontak@kemkes.go.id.