Liputan6.com, Jakarta - Sebuah kompleks bangunan rusak di Kota O’Smach, wilayah perbatasan Kamboja dengan Thailand, menyimpan jejak aktivitas kejahatan lintas negara. Bangunan-bangunan yang kini kosong itu sebelumnya menjadi markas online scam atau pusat operasi penipuan daring berskala internasional, sebelum akhirnya dikuasai militer Thailand usai bentrokan bersenjata pada Desember 2025 lalu.
Kompleks tersebut mengalami kerusakan akibat tembakan artileri dalam beberapa pekan terakhir. Menurut pejabat Thailand, sebelum ditinggalkan, lokasi ini dikenal sebagai salah satu pusat scam paling aktif di Kamboja.
Advertisement
Dalam kunjungan yang difasilitasi militer Thailand pada Senin, 2 Februari 2026, jurnalis dan pengamat internasional diperlihatkan sebuah gedung enam lantai yang dipenuhi sisa-sisa aktivitas operasi penipuan. Dokumen, perangkat elektronik, hingga barang pribadi tampak berserakan, diduga ditinggalkan dalam keadaan terburu-buru.
“Mereka terorganisir dengan baik. Mereka memiliki infrastruktur dan sistem yang bagus, serta alur kerja dan banyak sekali taktik dan teknik untuk melakukan penipuan,” kata Letjen Teeranan Nandhakwang, Direktur Unit Intelijen Angkatan Darat Thailand, dikutip Rabu (4/2/2026), seperti dilansir dari Associated Press (AP).
Temuan di lapangan menunjukkan tingkat profesionalisme yang tinggi. Puluhan ruangan dilengkapi bilik kayu berlapis busa peredam suara, naskah penipuan dalam berbagai bahasa, daftar kontak, monitor komputer, serta rak hard drive yang kini kosong.
Tidak hanya itu, aparat juga menemukan set tiruan yang menyerupai kantor kepolisian lengkap dengan seragam aparat penegak hukum dari sedikitnya tujuh negara, termasuk China, Australia, India, Indonesia, Vietnam, Singapura, dan Brasil.
Bahkan terdapat ruangan yang dibuat menyerupai cabang bank Vietnam dengan meja layanan dan ruang tunggu.
Total Kerugian Ditaksir Miliaran Dolar
Para ahli menilai, operasi penipuan semacam ini telah menjerat korban dari berbagai negara dengan total kerugian mencapai miliaran dolar. Tak sedikit pula pekerja yang direkrut secara paksa dan dipaksa bekerja dalam kondisi yang menyerupai perbudakan.
Militer Thailand menyebut, kompleks tersebut diamankan saat bentrokan Desember karena digunakan pasukan Kamboja sebagai basis militer. Dalam kesepakatan gencatan senjata yang dicapai bulan itu, kedua pihak sepakat meredakan ketegangan dan mempertahankan posisi pasukan seperti sebelum perjanjian.
Ketentuan tersebut mencakup kompleks di wilayah Kamboja yang kini berada di bawah penguasaan pasukan Thailand.
Berbagai set dan properti di lokasi itu disebut berperan penting dalam skema penipuan. Para pelaku berpura-pura sebagai pejabat atau figur berwenang untuk menekan korban, menggunakan ancaman penangkapan atau proses hukum guna memaksa korban mengikuti instruksi mereka.