Penularan Virus Nipah Bisa Picu Kematian, Ini Cara Virus Menyebar Diam-Diam

Penularan Virus Nipah bisa memicu kematian. Kenali cara virus menyebar diam-diam dari hewan ke manusia hingga antar manusia.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 04 Februari 2026, 15:31 WIB
Penularan Virus Nipah berisiko fatal. Ketahui jalur penyebaran virus dari kelelawar, babi, hingga penularan antar manusia. (Foto dibuat oleh AI).

Liputan6.com, Jakarta - Penularan virus Nipah menjadi perhatian serius dunia kesehatan karena tingkat kematiannya yang tinggi dan cara penyebarannya yang kerap tidak disadari. Virus ini termasuk penyakit Zoonosis, yakni dapat menular dari hewan ke manusia, bahkan berlanjut dari manusia ke manusia.

Virus Nipah pertama kali terdeteksi pada 1999 saat terjadi wabah di Malaysia dan Singapura. Kala itu, ratusan orang jatuh sakit dan lebih dari sepertiganya meninggal dunia. Sejak saat itu, penularan virus Nipah terus dipantau karena berpotensi menimbulkan wabah mematikan jika tidak diantisipasi dengan baik.

Penularan Virus Nipah Berawal dari Kelelawar Pemakan Buah

Sumber utama penularan virus Nipah adalah kelelawar pemakan buah dari genus Pteropus atau yang dikenal sebagai flying fox. Hewan ini membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit. Masalah muncul ketika air liur, urine, atau kotoran kelelawar mencemari buah dan minuman yang dikonsumsi manusia, seperti dikutip dari CDC.

Salah satu jalur penularan virus Nipah yang paling sering terjadi adalah konsumsi buah yang telah digigit atau terkontaminasi kelelawar, serta nira kurma mentah yang dibiarkan terbuka. Dalam banyak kasus, penularan awal dari hewan ke manusia ini terjadi tanpa disadari, sehingga disebut sebagai peristiwa limpahan atau spillover.

Penularan Virus Nipah Lewat Hewan Ternak

Selain langsung dari kelelawar, penularan virus Nipah juga dapat terjadi melalui hewan perantara, terutama babi. Hewan ternak yang terinfeksi dapat menularkan virus kepada manusia, terutama pada pekerja peternakan atau orang yang melakukan kontak dekat dalam waktu lama.

Situasi ini membuat penularan semakin berbahaya karena virus bisa menyebar lebih luas sebelum terdeteksi. Pada wabah pertama Nipah, kontak intensif antara manusia dan babi terinfeksi menjadi faktor utama tingginya jumlah korban.

Penularan Virus Nipah Antarmanusia

Yang membuat Virus Nipah semakin berbahaya, penularannya tidak berhenti pada kontak hewan. Setelah seseorang terinfeksi, virus ini dapat menyebar dari manusia ke manusia melalui cairan tubuh, seperti air liur, darah, atau cairan pernapasan.

Penularan antar manusia banyak terjadi pada anggota keluarga yang merawat pasien serta tenaga kesehatan. Tanpa perlindungan yang memadai, risiko tertular menjadi sangat tinggi, terutama di fasilitas kesehatan dengan keterbatasan alat pelindung diri.

 

 

Penularan Virus Nipah, Apa Saja Gejalanya?

Penularan Virus Nipah berisiko fatal. Ketahui jalur penyebaran virus dari kelelawar, babi, hingga penularan antar manusia. (Foto dibuat oleh AI).

Infeksi Virus Nipah bisa menyebabkan gejala ringan hingga berat. Pada awalnya, penderita mengalami demam, sakit kepala, batuk, dan nyeri tenggorokan. Namun dalam beberapa hari, infeksi dapat berkembang menjadi pembengkakan otak atau ensefalitis.

Pada kondisi berat, pasien dapat mengalami kebingungan, kejang, penurunan kesadaran, hingga koma dalam waktu 24 s.d 48 jam. Inilah yang membuat Penularan Virus Nipah sangat berbahaya dan berpotensi memicu kematian.

Hingga kini, belum tersedia obat khusus maupun vaksin untuk Virus Nipah. Penanganan masih terbatas pada perawatan suportif untuk meredakan gejala. Karena itu, pencegahan menjadi langkah paling efektif.

Masyarakat diimbau untuk tidak mengonsumsi buah yang terbuka atau jatuh ke tanah, menghindari minuman nira mentah, serta menjaga kebersihan tangan.

Selain itu, menghindari kontak langsung dengan hewan liar dan segera memeriksakan diri jika mengalami gejala setelah bepergian ke wilayah berisiko juga sangat dianjurkan.

Penularan Virus Nipah memang terjadi secara diam-diam, tetapi kewaspadaan dan perilaku hidup bersih dapat menjadi benteng awal untuk mencegah dampak yang lebih fatal.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya