Pakai Tanda Nomor Kendaraan Bermotor Palsu di Jakarta, Bakal Langsung Ditindak Polisi

Penggunaan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) palsu turut jadi salah satu target Operasi Keselamatan Jaya 2026 yang digelar Polda Metro Jaya.

oleh Ady AnugrahadiDiterbitkan 02 Februari 2026, 12:10 WIB
Petugas mengawasi kendaraan yang melintas di pos penyekatan ganjil-genap di Bundaran Senayan, Minggu (5/9/2021). Pembatasan kendaraan dengan sistem pelat nomor kendaraan ini tetap berlaku di akhir pekan, Sabtu dan Minggu. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Penggunaan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) palsu menjadi salah satu sasaran Operasi Keselamatan Jaya 2026 yang digelar Polda Metro Jaya selama 14 hari ke depan. Penertiban dilakukan di seluruh wilayah Jakarta.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komarudin menyebut, masih banyak ditemukan kendaraan menggunakan TNKB tidak sesuai peruntukan, mulai dari TNKB palsu hingga TNKB kementerian/lembaga yang dipakai kendaraan pribadi.

"Banyak juga ditemukan penggunaan-penggunaan TNKB ataupun kendaraan-kendaraan yang menggunakan TNKB yang boleh dikatakan palsu, ya. TNKB kementerian/lembaga yang digunakan, banyak kita temukan, ini pun akan kita sasar. Namun itu tidak menjadi prioritas utama," kata Komarudin kepada wartawan, Senin (2/2/2026).

Dia menegaskan, penindakan difokuskan pada kendaraan yang jelas melanggar dan berpotensi menimbulkan masalah hukum maupun ketertiban lalu lintas.

"Beberapa target yang kami sasar di antaranya, belakangan ini fenomena yang muncul, di antaranya pengendara-pengendara yang melawan arus. Ini akan menjadi sasaran utama kami. Terutama pada ruas-ruas jalan yang memang kerap kali ditemukan banyak pelanggaran-pelanggaran melawan arus," ujar dia.

"Karena ini tentunya bukan hanya mengancam keselamatan dirinya, tapi orang di sekitarnya pun ikut terancam. Ini akan menjadi sasaran utama kami," dia menambahkan.

 

Ribuan Personel Dikerahkan

Polisi menghentikan pengendara ojek online saat menggelar Operasi Keselamatan Jaya 2018 di Jalan Letjen Suprapto, Jakarta Pusat, Senin (5/3). Operasi Keselamatan Jaya ini diisi 80 persen kegiatan preemtif dan preventif. (Liputan6.com/Arya Manggala)

Sebanyak 2.939 personel gabungan dikerahkan. Di samping itu, Ditlantas Polda Metro Jaya menggandeng Polisi Militer atau POM TNI untuk memetakan dan mendeteksi kendaraan yang menggunakan TNKB dinas atau kendaraan peruntukan TNI secara tidak sah.

"Mengingat belakangan ini ada ditemukan, ada beberapa pelanggaran ditemukan penggunaan TNKB milik dinas ataupun kendaraan peruntukan TNI. Ya, ini juga kita sasar. Makanya beliau-beliau nanti akan bersama-sama dengan kita turun ke lapangan untuk memetakan/mendeteksi penggunaan TNKB kepemilikan kendaraan TNI," jelas Komarudin.

Sebelumnya, Operasi Keselamatan Jaya 2026 digelar serentak selama 14 hari terhitung mulai 2 hingga 15 Februari 2026.

Operasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan kepatuhan masyarakat berlalu lintas serta menekan angka pelanggaran, kecelakaan, dan fatalitas korban. Sasaran diarahkan pada pelanggaran yang berpotensi menimbulkan kecelakaan.

 

Gelar Operasi Keselamatan Jaya, Wakapolda: Operasi Bukan untuk Cari-Cari Kesalahan

Petugas kepolisian memeriksa kelengkapan surat-surat pengendara bermotor saat Operasi Keselamatan Jaya 2018 di Jalan Letjen Suprapto, Jakarta, Senin (5/3). Dalam operasi hari pertama, Polda Metro menerjunkan 2.704 personel. (Liputan6.com/Arya Manggala)

Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol Dekananto Eko Purwono menerangkan, menjelang bulan suci Ramadan, mobilitas masyarakat cenderung meningkat dan berdampak langsung pada kepadatan lalu lintas serta potensi pelanggaran dan kecelakaan.

"Wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya sebagai pusat aktivitas nasional merupakan etalase bangsa, sehingga kondisi lalu lintas yang tertib dan aman menjadi cerminan kedisiplinan dan budaya masyarakat," ujar Dekananto saat memimpin apel gelar pasukan Operasi Keselamatan Jaya 2026 di Lapangan Presisi Ditlantas Polda Metro Jaya, Senin (2/2/2026).

Dalam pelaksanaannya, lanjut dia, kepolisian mengedepankan langkah preemtif dan preventif, disertai penegakan hukum secara proporsional. Edukasi dan sosialisasi dilakukan berkelanjutan, dengan peningkatan kehadiran personel di titik-titik rawan.

Menurut Dekananto, penindakan didukung Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) statis dan mobile, drone patroli presisi, serta penindakan manual secara efektif dan humanis.

"Operasi ini tidak dimaksudkan untuk mencari-cari kesalahan. Saya ulangi, operasi ini tidak dimaksudkan untuk mencari-cari kesalahan, melainkan membangun budaya tertib berlalu lintas demi keselamatan bersama," jelas Dekananto.

INFOGRAFIS: Deretan Aksi Arogan Pengendara Moge (Liputan6.com / Triyasni)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya