Cek Kesehatan Reproduksi Perempuan Sebaiknya Sejak Menstruasi Pertama

Cek kesehatan reproduksi perempuan perlu dilakukan sejak remaja. Tak perlu tunggu ada keluhan untuk memeriksakan kesehatan reproduksi.

oleh Pramita TristiawatiDiterbitkan 29 Januari 2026, 20:00 WIB
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Budi Santoso dari Eka Hospital BSD mengungkapkan kesehatan reproduksi perempuan ternyata penting menjadi perhatian sedini mungkin. Bahkan, pengecekan ke dokter kandungan pada saat wanita remaja pertama kali menstruasi.

Liputan6.com, Jakarta - Kesehatan reproduksi perempuan penting menjadi perhatian sedini mungkin, bahkan remaka putri disarankan rajin melakukan pengecekan ke dokter kebidanan dan kandungan saat pertama kali menstruasi. Lewat pemeriksaan, maka bisa mendeteksi keberadaan penyakit yang kemungkinan mengintai seperti miom ataupun kista.

"Disarankan melakukan medical check-up untuk kesehatan reproduksi perempuan dilakukan sedini mungkin. Bisa sejak wanita tersebut sudah akil baligh, sudah menstruasi, tidak harus menunggu ada keluhan dulu,"ujar dokter Budi Santoso, SpOG, FMAS dari Eka Hospital BSD ditemui pada Rabu, 28 Januari 2026. 

Pengecekan akan dilakukan oleh dokter dengan cara wawancara dan USG perut. Bila masih remaja atau belum menikah dan tidak ada keluhan pada saat menstruasi, pengecekan kesehatan bisa dilakukan satu tahun sekali.

Sebab yang dikhawatirkan, salah satu masalah kesehatan reproduksi wanita yang umum terjadi adalah munculnya miom atau kista di rahim. Meski jarang bersifat ganas, kondisi ini dapat mengganggu kesehatan reproduksi wanita, bahkan memengaruhi kesuburan.

 

Mengenal Miom dan Kista, Apa Bedanya?

Budi juga menjelaskan miom dan kista adalah dua penyakit berbeda, meski keduanya merupakan tumor di dalam rahim atau fibroid rahim, pertumbuhan jaringan yang terbentuk di dinding rahim.

"Umumnya, pertumbuhan jaringan ini tidak bersifat ganas. Sementara itu, kista rahim adalah sebuah kantong yang berisi cairan. Walau sering disebut kista rahim, kista sering terbentuk di ovarium sehingga juga dikenal dengan sebutan kista ovarium," katanya.

Jadi, miom serupa dengan tumor yang terbentuk dari jaringan dan otot, sedangkan kista adalah kantong yang biasanya berisi cairan.

Jika melihat dari gejalanya, miom bisa menimbulkan gejala yang beragam. Mulai dari tanpa gejala hingga nyeri berat dan perdarahan vagina di luar jadwal menstruasi.

Di sisi lain, kista lebih jarang menimbulkan gejala dan seringnya bersifat ringan. Dokter kadang menemukan pasien memiliki kista rahim saat melakukan pemeriksaan panggul atau USG untuk tujuan yang lain.

"Lalu kapan harus operasi atau pengangkatan kista, miom? Ketika memang ukurannya sudah besar, jumlahnya banyak dan membahayakan pasien, sudah sesak karena menekan organ lain," ujarnya.

 

Apa Estrogen Punya Peran Pembentukan Miom dan Kista?

Sementara, bila sejak awal wanita ditemukan bibit-bibit muncul miom dan kista, dokter akan memberi saran untuk membatasi konsumsi makanan atau minuman yang mengandung estrogen.

"Kita, di Asia ini sangat dekat dengan makanan atau minuman yang mengandung estrogen. Kedelai, itu ada ditempe, tahu, dan olahannya,"ujar Budi.

Menurutnya, jika memang seorang wanita ditemukan bibit miom atau kista, disarankan membatasi makanan atau minuman mengandung estrogen. Bila tidak, sama saja memberi pupuk agar miom dan kista tersebut tumbuh subur di rahim.

"Itu sebabnya, miom lebih sering muncul pada wanita usia produktif. Miom diketahui berpotensi tumbuh besar saat kadar hormon tinggi dan mengecil ketika kadar hormon rendah," ujarnya.

Sementara, ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko terbentuknya miom pada wanita. Seperti obesitas, riwayat miom dalam keluarga, tidak memiliki anak, mengalami menstruasi pertama yang terlalu dini, berusia terlalu tua saat menopause, ketidakseimbangan hormon, dan lainnya.

"Segera konsulkan ke dokter dan itulah pentingnya lakukan medical check up reproduksi wanita, agar bisa tertangani sedini mungkin," katanya.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya