COO Danantara: Konsolidasi BUMN Asuransi Ditargetkan Rampung 2026

COO Danantara, Dony Oskaria, memacu penyederhanaan besar-besaran sektor asuransi BUMN untuk memperkuat tata kelola.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 28 Januari 2026, 21:15 WIB
Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) Dony Oskaria dalam acara Danantara: Menggerakkan Raksasa, Menyalakan Mesin Ekonomi Indonesia, Rabu (28/1/2026). (Liputan6.com/Gagas)

Liputan6.com, Jakarta - Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) Dony Oskaria menyatakan target penyederhanaan jumlah badan usaha milik negara (BUMN) di sektor asuransi dari 15 perusahaan menjadi tiga entitas dapat diselesaikan pada 2026.

"Kita punya 15 perusahaan asuransi yang saat ini sedang dilakukan proses konsolidasi. Tahun 2026 ini akan kami 'push' untuk dilakukan (konsolidasi), hanya akan menjadi 3 perusahaan asuransi,” ujar Dony dalam acara Danantara: Menggerakkan Raksasa, Menyalakan Mesin Ekonomi Indonesia, Rabu (28/1/2026).

Ia menjelaskan, tiga entitas tersebut akan mencakup asuransi jiwa, asuransi umum, dan asuransi kredit.

Dony mengatakan bahwa asuransi kredit masih dalam tahap peninjauan, sehingga ke depan akan dilakukan pemisahan antara yang benar-benar masuk kategori asuransi umum dan yang berfungsi sebagai penjaminan, yang saat ini tengah dibahas bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Menurut Dony, sektor asuransi menjadi salah satu industri yang memerlukan penguatan tata kelola di Indonesia.

Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, ia mengungkapkan telah dua kali melakukan pertemuan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk membahas berbagai isu di industri asuransi.

Pembahasan tersebut mencakup aspek tata kelola, potensi risiko yang dihadapi, serta peluang pertumbuhan perusahaan asuransi ke depan.

“Kami lakukan pemetaan permasalahan yang ada di perusahaan asuransi BUMN. Harus diakui, bahwa perusahaan-perusahaan asuransi di BUMN menghadapi persoalan yang tidak sedikit,” jelas Dony.

Ia menambahkan, tantangan yang dihadapi BUMN asuransi tidak hanya berkaitan dengan kondisi keuangan. Meski demikian, Dony tidak merinci lebih lanjut persoalan lainnya dan menegaskan bahwa langkah yang tengah ditempuh Danantara saat ini berfokus pada proses konsolidasi.

 

Prabowo Pamer Danantara Jadi Kekuatan Masa Depan Indonesia di WEF Davos

Hal itu dipaparkan Presiden Prabowo saat berpidato pada pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, pada Kamis 22 Januari 2026. Tampak dalam foto, Presiden Indonesia, Prabowo Subianto mengangkat tangan saat menyampaikan pidato khusus (special address) pada pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, pada Kamis 22 Januari 2026. (Fabrice COFFRINI/AFP)

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) kepada publik internasional dalam forum internasional World Economic Forum (WEF) Davos, Swiss pada Kamis (22/1/2026).

Pada kesempatan itu, Prabowo menyampaikan maksud pembentukan Danantara pada Februari 2025. Lantaran pertumbuhan ekonomi membutuhkan tata kelola negara dan pemasukan modal, khususnya alokasi dan realisasi modal yang efisien. 

"Danantara berarti energi untuk menggerakkan masa depan Indonesia. Danantara merupakan sovereign wealth fund (SWF) dengan aset kelolaan mencapai USD 1 triliun," ujar Prabowo. 

"Dengan Danantara, saya bisa berdiri di sini di hadapan Anda sebagai mitra yang setara. Indonesia saat ini bukan hanya negara dengan kedamaian dan stabilitas, tak hanya negara dengan peluang besar," tegasnya. 

 

Industri Masa Depan

Bersama Danantara, kata Prabowo, Indonesia kini mampu berinvestasi dengan negara luar. Danantara disebutnya hadir untuk membiayai industri masa depan yang akan dijalankan oleh Indonesia. 

"Itulah mengapa kami membangun Danantara dengan pengawasan yang kuat dan tanggung jawab kelembagaan. Kami berupaya menemukan kepala eksekutif terbaik untuk memimpinnya, baik warga negara Indonesia maupun asing," ucap Prabowo. 

"Inilah sebenarnya bagaimana kita sekarang menjalankan Indonesia. Mulai dari program-program sosial kita,hingga upaya kita untuk memanfaatkan sumber daya alam kita secara maksimal,hingga upaya kita untuk mencapai swasembada pangan dan energi. Semuanya kini disertai dengan pengawasan yang ketat, dan para pemimpin yang cakap," tuturnya. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya