IHSG Trading Halt, Dirut BEI Minta Investor Ritel Tak Panik

Bursa Efek Indonesia membekukan sementara perdagangan saham menyusul penurunan tajam IHSG hingga 8%.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 28 Januari 2026, 15:40 WIB
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman di Gedung Bursa Efek Indonesia, Rabu (28/1/2026). Iman menjelaskan tindakan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan hari ini.

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan tindakan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan pada Rabu, (28/1/2026) pukul 13:43:13 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS). Hal ini seiring Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 8% pada sesi kedua perdagangan saham.

Perdagangan dilanjutkan pada pukul 14:13:13 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan. Tindakan ini dilakukan karena terdapat penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 8%.

Terkait hal ini Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menegaskan bahwa kondisi pasar yang bergejolak saat ini tidak perlu direspons dengan kepanikan, terutama oleh investor ritel domestik. Ia menyebut kepanikan lebih merupakan faktor perilaku (behavior) yang justru perlu dikelola melalui komunikasi dan langkah nyata dari otoritas pasar.

“Panik itu kan behavior. Justru makanya hari ini kami direksi juga menyampaikan komitmen yang kita lakukan,” ujar Iman kepada wartawan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Rabu (28/1/2026).

Menurut dia, narasi yang berkembang belakangan ini cenderung menyoroti sisi negatif pasar. Padahal, kata Iman, tetap ada sisi positif yang perlu disampaikan kepada pelaku pasar agar kepercayaan tidak semakin tergerus. Ia menegaskan BEI tidak tinggal diam dalam menghadapi situasi tersebut.

“Semua bicara negatif side, downside-nya. Perlu ada yang meyakinkan bahwa ini juga ada positif side-nya. Dan kita tidak diam saja,” katanya.

 

Jaga Stabilitas Pasar

Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menghentikan perdagangan sementara selama 30 menit atau trading halt karena penurunan lebih dari 8%. Liputan6.com/Herman Zakharia)

Iman menambahkan, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) terus melakukan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas pasar. Upaya ini, lanjut dia, juga ditujukan agar investor ritel dan domestik tidak ikut-ikutan panik di tengah tekanan yang terjadi.

“Artinya dengan kondisi begini bursa, OJK dan KSEI juga tidak tinggal diam. Ini perlu memastikan terutama investor ritel kita atau domestik untuk tidak ikut-ikutan panik,” ujar Iman.

Terkait evaluasi dari MSCI, Iman menyatakan pihaknya menghargai metodologi yang digunakan lembaga tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa proses komunikasi belum selesai dan masih ada ruang untuk menjelaskan kondisi riil pasar Indonesia.

“Apa yang disampaikan oleh MSCI ini belum end of the kondisi yang terburuk. Kami mengapresiasi dan menghargai metodologi mereka, tapi kami juga berusaha membantu mereka menjelaskan bagaimana kondisi riil yang ada di Indonesia,” kata dia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya