Bos ITSEC Asia: 65 Persen Pengguna HP Indonesia Terpapar Scam Tiap Minggu

President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher, mengungkapkan sebanyak 65% pengguna HP di Indonesia menghadapi berbagai bentuk serangan siber tiap minggu.

oleh IskandarDiterbitkan 27 Januari 2026, 16:47 WIB
President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher. Liputan6.com/Iskandar

Liputan6.com, Jakarta - Ancaman keamanan siber pada perangkat seluler di Indonesia telah mencapai level yang mengkhawatirkan. President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher, mengungkapkan data mengejutkan bahwa sebanyak 65 persen pengguna telepon seluler di Indonesia menghadapi berbagai bentuk serangan siber.

Antara lain mulai dari tautan mencurigakan (phishing), panggilan penipuan, hingga berbagai modus scam setiap minggunya.

Untuk diketahui, hingga Juni 2025, tercatat jumlah pengguna ponsel pintar (HP) di Tanah Air diperkirakan mencapai 187,7 juta orang dari total populasi sekitar 275,5 juta jiwa. Jika ditotal, 65 persen dari 187,7 juta adalah adalah sekitar 122 juta.

Dalam acara kolaborasi strategis bersama Infinix, Selasa (27/1/2026), Patrick menekankan pentingnya perlindungan proaktif bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan pemahaman mengenai keamanan digital.

"Kita harus melakukan segala upaya untuk melindungi masyarakat, terutama mereka yang tidak terlalu paham tentang keselamatan digital. Keamanan siber itu kompleks, tidak mudah, dan bukan sesuatu yang menyenangkan, tetapi perlindungan harus diberikan sebelum kejahatan terjadi," ujar Patrick menjelaskan.

Sebagai bentuk solusi nyata, ITSEC Asia resmi menjalin kemitraan dengan Infinix. Langkah awal dari kolaborasi ini adalah penyematan fitur keamanan IntelliBron Aman yang terpasang secara langsung (pre-installed) pada Infinix NOTE Edge 5G+ di pasar Indonesia.

Program ini ditargetkan dapat melindungi 100.000 pengguna HP Infinix di Indonesia dari ancaman siber yang kian masif. Patrick menegaskan bahwa langkah ini merupakan fondasi awal dari upaya panjang menciptakan ekosistem digital yang lebih aman.

"Kami menyadari bahwa kami tidak bisa bergerak sendiri. Memiliki teknologi keamanan yang terinstal langsung di perangkat Infinix adalah langkah pertama yang krusial untuk membuat keamanan siber dapat diakses oleh semua orang dengan cara yang mudah digunakan," ia menambahkan. 

Teknologi Keamanan Siber Harus Memudahkan

Patrick menyampaikan visinya tentang masa depan teknologi keamanan. Ia meyakini bahwa teknologi canggih seharusnya tidak membuat pengguna merasa kesulitan atau membosankan.

Sebaliknya, teknologi harus hadir sebagai solusi yang memudahkan aktivitas sehari-hari tanpa mengorbankan aspek keamanan.

"Teknologi membantu, dan teknologi seharusnya sederhana serta mudah digunakan. Keamanan siber tidak boleh menjadi beban, melainkan harus memfasilitasi penggunaan smartphone yang aman dan nyaman bagi setiap individu," pungkasnya.

Kolaborasi antara ITSEC Asia dan Infinix ini diharapkan menjadi katalisator bagi produsen perangkat lain untuk mulai memprioritaskan fitur keamanan bawaan demi melindungi basis pengguna internet di Indonesia yang terus tumbuh pesat.

ITSEC dan Infinix Kolaborasi Benamkan Sistem Keamanan AI untuk Bentengi Pengguna HP dari Phishing

Di tengah masifnya serangan siber yang menyasar pengguna individu, keamanan smartphone (HP) kini bukan lagi sekadar fitur tambahan, melainkan kebutuhan fundamental. 

Menjawab tantangan tersebut, produsen smartphone Infinix menggandeng perusahaan keamanan siber PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) untuk mengintegrasikan sistem keamanan berbasis kecerdasan buatan (AI) langsung ke dalam HP.

Kolaborasi strategis ini menandai debut global IntelliBron Aman, solusi keamanan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) milik ITSEC Asia, yang kini tertanam pada unit Infinix NOTE Edge 5G+ di pasar Indonesia.

Berbeda dengan aplikasi keamanan konvensional yang seringkali membebani performa perangkat, IntelliBron Aman dirancang untuk bekerja secara otomatis di latar belakang (background). Sistem ini berfungsi sebagai filter proaktif yang mendeteksi ancaman sebelum sempat menyentuh perangkat pengguna.

"Keamanan siber ke depannya tidak hanya diukur dari perlindungan organisasi, tetapi juga bagaimana kita mampu melindungi masyarakat sehari-hari," ujar President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher, Selasa (27/1/2026) di Jakarta.

Ia menegaskan, langkah ini adalah upaya membawa standar keamanan kelas enterprise ke perangkat genggam konsumen secara luas.

Fokus utama dari sistem ini adalah memitigasi risiko digital yang kerap menimpa masyarakat umum, seperti:

  • Phishing dan Tautan Berbahaya: Memblokir upaya pencurian data melalui link palsu.
  • Situs Tidak Aman: Memberikan peringatan dini saat pengguna mengakses platform mencurigakan.
  • Koneksi Mencurigakan: Memantau integritas jaringan untuk mencegah peretasan data saat bertransaksi online.

Fondasi Keamanan pada Ekonomi Mobile-First

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya