BRIN Dorong Pengembangan Analisis Input-Output untuk Industri Manufaktur Berkelanjutan

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan riset berbasis Analisis Input-Output (I-O) sebagai fondasi riset menuju industri manufaktur berkelanjutan.

oleh Nikmah Laily HawaDiterbitkan 29 Januari 2026, 03:10 WIB
Gedung Badan Riset dan Inovasi Nasional, Jalan MH Thamrin, Jakarta. (Liputan6.com/Muhammad Ali)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan riset berbasis Analisis Input-Output (I-O) untuk merumuskan kebijakan industri dengan memperhatikan keterkaitan antar sektor dan dampak lingkungan.

Melalui riset ini, BRIN terus menguatkan komitmennya sebagai lembaga yang berperan dalam penyediaan landasan ilmiah dan transformasi sistem industri manufaktur nasional yang berkelanjutan dan rendah emisi.

Riset ini tidak hanya mengedepankan asas ekonomi, tapi juga memperhatikan dampak lingkungan.

Komitmen tersebut terlihat pada Seminar “Transformasi Sistem Industri Manufaktur Berkelanjutan untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional 8%” yang diselenggarakan di Auditorium Gedung 71 Kawasan Sains dan Teknologi (KST) BJ Habibie di Serpong, pada Kamis, 22 Januari 2026. 

Kegiatan ini menjadi forum strategis yang mempertemukan perspektif riset dan kebijakan dalam merespons tantangan transformasi industri nasional.

Peneliti Litbang Kompas Wirdatul Aini mengungkapkan, analisis I-O merupakan instrumen penting untuk membaca struktur ekonomi secara menyeluruh.

Menurutnya, pendekatan ini mampu mengidentifikasi sektor unggulan, memetakan keterkaitan antar sektor, serta mengukur dampak kebijakan industri terhadap perekonomian secara sistemik.

“Analisis I-O memungkinkan perencana kebijakan melihat posisi sektor industri manufaktur dalam rantai nilai nasional, sekaligus menghitung dampak total permintaan akhir melalui multiplier effect output, pendapatan, dan penyerapan tenaga kerja,” ujar Aini, dilansir Liputan6.com dari laman resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) www.brin.go.id, Selasa (27/1/2026).

Transformasi Industri Manufaktur

Menurut Aini, saat ini tantangan transformasi industri manufaktur tidak hanya bergantung pada peningkatan produktivitas.

Persoalan emisi, ketergantungan bahan baku, serta limbah dan inefisiensi sumber daya juga menjadi komponen dalam transformasi industri manufaktur. 

Oleh karena itu, transformasi industri perlu diarahkan dari sistem linear menuju sistem manufaktur berkelanjutan.

“Perkembangan sistem manufaktur bergerak dari conventional dan efficient manufacturing menuju green dan circular manufacturing,” terang Aini.

“Pada tahap ini, terjadi perubahan mendasar pada struktur input-output, karena limbah yang sebelumnya tidak bernilai dapat dimanfaatkan kembali sebagai input sekunder,” imbuhnya.

BRIN melalui Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan sampai saat ini terus mengembangkan pendekatan analitis yang mendukung perumusan kebijakan industri hijau. 

Perekayasa Ahli Utama BRIN Ugay Sugarmansyah menjelaskan hasil kajian yang menggabungkan antara analisis ekonomi dengan lingkungan, menggunakan metode Environmentally Extended Input-Output (EEIO).

“Pendekatan EEIO memungkinkan analisis dampak ekonomi dan lingkungan dilakukan secara simultan. Dengan model ini, kita dapat melihat hubungan antara peningkatan permintaan akhir, khususnya konsumsi rumah tangga dengan pertumbuhan output industri dan emisi karbon,” jelas Ugay.

Riset BRIN untuk Industri Rendah Karbon

Ugay mengungkapkan, peningkatan output produksi industri manufaktur cenderung diikuti oleh peningkatan emisi karbon. 

Maka strategi mitigasi emisi, kata Ugay, perlu dirancang secara selektif dan berbasis bukti ilmiah.

“Melalui pendekatan kuadran, BRIN mendorong prioritas dekarbonisasi pada sektor industri dengan output dan emisi tinggi, sekaligus merumuskan strategi yang berbeda bagi sektor dengan karakteristik lainnya,” terangnya.

Hasil riset ini menjadi bagian dari upaya BRIN untuk menjembatani riset akademik dengan kebutuhan kebijakan nasional. 

Ke depannya, analisis IO juga akan dikembangkan dengan mengintegrasikan data limbah cair dan limbah padat per sektor untuk memperkuat perencanaan industri berkelanjutan.

“Meskipun memiliki keterbatasan, analisis input-output tetap merupakan pendekatan yang sangat kuat karena dapat diintegrasikan dengan berbagai data lain. Ini menjadi bekal penting bagi BRIN dalam mendukung transformasi industri nasional yang berdaya saing sekaligus ramah lingkungan,” tutup Ugay.

Infografis Menerapkan Gaya Hidup Ramah Lingkungan. (Liputan6.com/Triiyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya