Komisaris MDKA Beli 300.000 Saham, Rogoh Kocek Segini

Komisaris PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), Andrew Philip Starkey kini genggam 2,9 miliar saham MDKA.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 27 Januari 2026, 09:28 WIB
Pengunjung mengabadikan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/4/2020). Pergerakan IHSG berakhir turun tajam 1,71% atau 80,59 poin ke level 4.625,9 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Komisaris PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), Andrew Philip Starkey membeli saham MDKA pada akhir Januari 2026.Tujuan pembelian saham itu untuk investasi.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Selasa (27/1/2026), Komisaris PT Merdeka Copper Gold Tbk, Andrew Philip Starkey membeli 300.000 saham MDKA dengan harga Rp 3.078 per saham pada 22 Januari 2026. Nilai pembelian saham MDKA  sekitar Rp 923,40 juta.

“Tujuan transaksi investasi dengan status kepemilikan langsung,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.

Adapun pembelian saham MDKA itu di bawah harga pasar. Pada penutupan perdagangan saham 22 Januari 2026, harga saham MDKA di kisaran Rp 3.270 per saham.

Setelah transaksi, Andrew Philip Starkey memiliki 2.931.700 saham MDKA atau setara 0,012%. Sebelumnya ia memiliki 2.631.700 saham MDKA atau setara 0,011%.

Pada penutupan perdagangan saham Senin, 26 Januari 2026, harga saham MDKA ditutup naik ke Rp 3.420 per saham. Selama lima hari terakhir, harga saham MDKA naik 4,6%.

Kinerja Kuartal III 2025

Sebelumnya, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencatat penurunan pendapatan dan menekan rugi hingga September 2025. Pendapatan Merdeka Copper Gold turun 23% dan rugi terpangkas 48,15% hingga kuartal III 2025.

Sepanjang sembilan bulan yang berakhir pada September, Merdeka Copper Gold membukukan pendapatan sebesar USD 1,28 miliar, turun 23% secara tahunan (Year-on-Year/YoY). Sementara itu, rugi kepada pemilik entitas induk susut 48,15% menjadi USD 34,75 juta hingga September 2025 dari periode sama tahun sebelumnya USD 67,02 juta.

Di tengah penurunan pendapatan tersebut, Merdeka berhasil mencatat EBITDA sebesar USD 295 juta, meningkat 33% YoY. Pencapaian ini didukung oleh kenaikan harga jual rata-rata emas, peningkatan margin emas hingga 59%, dan implementasi efisiensi biaya di seluruh rantai nilai nikel Merdeka yang terintegrasi, yang secara keseluruhan mencerminkan disiplin penerapan dan penguatan kendali operasional.

"Kinerja sembilan bulan 2025 mencerminkan kekuatan portofolio Merdeka yang terdiversifikasi serta fokus berkelanjutan kami pada profitabilitas dan kualitas eksekusi,” kata Presiden Direktur PT Merdeka Copper Gold Tbk, Albert Saputro seperti dikutip dari keterangan resmi, Kamis, 18 Desember 2025.

 

Proyek Strategis Perseroan

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) (Foto: Merdeka Copper Gold)

"Meskipun menghadapi tantangan operasional serta penurunan kontribusi pendapatan dari segmen pengolahan nikel, Merdeka tetap mampu mencatatkan pertumbuhan EBITDA sebesar 33%, didukung oleh harga emas yang lebih tinggi serta perbaikan margin di sebagian besar operasi sebagai hasil dari disiplin pengendalian biaya,” ia menambahkan.

Perseroan juga mencatat kemajuan signifikan pada proyek strategis Tambang Emas Pani yang dikembangkan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), ditandai dengan dimulainya kegiatan penumpukan bijih (ore stacking). Dengan capaian tersebut, EMAS tetap menargetkan dimulainya produksi emas pada kuartal pertama 2026sesuai rencana.

Target Produksi

Selain itu, EMAS mengonfirmasi laju penumpukan bijih pada fasilitas heap leach serta kapasitas pabrik pengolahan emas dapat ditingkatkan hingga melampaui panduan sebelumnya sebesar 7 juta ton, sehingga memungkinkan peningkatan produksi emas tahunan.

Perseroan juga menargetkan percepatan pengembangan proyek Carbon-in-Leach (CIL) Pani, dengan pekerjaan konstruksi awal yang direncanakan dimulai pada kuartal pertama 2026 (1Q26). Studi Kelayakan (Feasibility Study) yang ditargetkan selesai pada kuartal pertama 2026 kini disusun dengan basis kapasitas CIL sebesar 12 juta ton, menggantikan rencana awal yang memulai operasi pada kapasitas 7,5 juta ton dan kemudian meningkatkannya secara bertahap menjadi 12 juta ton.

 

 

Tambang Emas Perseroan

Tambang PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). (Foto: Merdeka Copper Gold)

Pendekatan ini memungkinkan kapasitas pengolahan yang lebih tinggi dicapai lebih awal dari rencana semula, serta mendukung potensi percepatan pencapaian target produksi puncak Tambang Emas Pani sebesar 500.000 ounces emas per tahun.

Pada 2026, Tambang Emas Tujuh Bukit dan Tambang Emas Pani diharapkan memberikan lonjakan signifikan terhadap produksi emas dan arus kas perseroan.

Di segmen nikel, operasi yang dijalankan melalui PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menunjukkan kinerja yang solid, dengan proyek-proyek utama berjalan sesuai dengan rencana pengembangan.

Produksi tambang nikel SCM (Sulawesi Cahaya Mineral) meningkat dengan output saprolite sebesar 89% dan limonit sebesar 51%. Sementara itu, produksi Nickel Pig Iron (NPI) tercatat lebih rendah, namun tetap mampu mempertahankan tingkat margin yang sehat.

Proyek Acid Iron Metal (AIM) yang dioperasikan oleh PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI) berada pada jalur yang tepat untuk mencapai produksi penuh pada fasilitas pirit, asam, logam klorida, serta pabrik katoda tembaga pada akhir 2025.

Dalam pengembangan High Pressure Acid Leach (HPAL), PT ESG New Energy Material (PT ESG) meningkatkan produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) menjadi 7.181 ton dan mencatatkan penjualan sebesar 7.554 ton pada kuartal ketiga 2025.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya