Cegah Penurunan Tanah, PAM Jaya Usung Konsep Green Mindset dalam Kelola Air Baku

PAM Jaya mengandalkan air permukaan dari Waduk Jatiluhur dan 13 sungai sebagai sumber utama, menghindari eksploitasi air tanah, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan memastikan layanan air bersih berkelanjutan bagi warga Jakarta.

oleh Khamelia MarshaDiterbitkan 27 Januari 2026, 18:30 WIB
PAM Jaya pasang 34 ribu lebih sambungan baru. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Keputusan PAM Jaya mengandalkan Waduk Jatiluhur dan 13 sungai sebagai sumber air baku utama tanpa melakukan pengeboran dinilai sebagai langkah menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mencegah kerusakan ekosistem.

Langkah ini juga diklaim dapat membantu mencegah penurunan muka tanah yang kerap terjadi akibat eksploitasi air tanah secara berlebihan.

Ketua Koalisi Pemerhati Jakarta Baru (KATAR), Sugiyanto, mengatakan strategi tersebut mencerminkan perhatian PAM Jaya tidak hanya pada kebutuhan air saat ini, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan di masa depan.

“Ini adalah bukti bahwa PAM Jaya tidak hanya berpikir soal pelayanan hari ini, tetapi juga tentang masa depan lingkungan Jakarta,” ujar Sugiyanto, melansir Antara, Selasa (27/1/2026).

Menurut dia, kombinasi penerapan green mindset, penguatan infrastruktur, dan transformasi digital membuat PAM Jaya berada di jalur yang tepat untuk menyediakan layanan air bersih yang berkelanjutan, merata, dan berkualitas bagi seluruh warga Jakarta.

“Tidak mengeksploitasi air tanah berarti ikut mencegah penurunan muka tanah dan kerusakan ekosistem," katanya.

Komitmen Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin, dalam mengelola sumber air tanpa mengeksploitasi air tanah merupakan langkah strategis dan visioner. Langkah ini tidak hanya menjaga keberlanjutan pasokan air, tetapi juga menunjukkan perhatian terhadap kelestarian lingkungan serta kesejahteraan warga Jakarta secara jangka panjang.

Green Mindset PAM Jaya untuk Kelestarian Air

Peremajaan peralatan di IPA Buaran. (Foto: Istimewa)

Sugiyanto menekankan bahwa kebijakan tersebut sangat relevan dengan kondisi Jakarta yang selama ini menghadapi persoalan penurunan permukaan tanah akibat penggunaan air tanah berlebihan. 

Pendekatan green mindset yang dilakukan Arief Nasrudin, dinilai sejalan dengan kebutuhan mendesak Jakarta untuk bertransformasi menuju kota yang lebih ramah lingkungan.

Perhatian terhadap kelestarian kawasan hulu, termasuk daerah aliran sungai yang terhubung dengan Waduk Cirata dan Saguling, merupakan langkah strategis yang tidak hanya tanggung jawab teknis, tetapi juga tanggung jawab moral terhadap lingkungan.

"Waduk Jatiluhur adalah sumber utama air baku PAM Jaya. Maka sudah logis jika PAM Jaya juga harus peduli terhadap kelestarian kawasan hulu, termasuk daerah aliran sungai yang terhubung dengan Waduk Cirata dan Saguling," katanya.

Langkah ini memperkuat konsep green mindset yang tidak hanya berfokus pada distribusi air, tetapi juga pada keberlanjutan sumber daya alam, sehingga layanan air bersih yang berkelanjutan dapat tercapai tanpa merusak lingkungan.

Perkuat Layanan Air Bersih dan Kelestarian Sungai

Sugiyanto menyoroti peran aktif PAM Jaya dalam menjaga kualitas lingkungan 13 aliran sungai di Jakarta. Langkah ini dinilai memperkuat konsep green mindset perusahaan yang tidak hanya fokus pada distribusi air, tetapi juga memastikan keberlanjutan sumber daya alam.

Selain itu, ia mengapresiasi pencapaian PAM Jaya dalam memperluas layanan air bersih bagi warga. Sepanjang 2025, perusahaan berhasil menambah sekitar 206.537 sambungan rumah, sehingga cakupan layanan kini mencapai 80,24 persen, sebuah prestasi yang signifikan.

"Capaian ini menjadi fondasi penting untuk menuju target layanan 100 persen pada 2029. Meski tantangan infrastruktur masih besar, arah kebijakannya sudah benar dan konsisten," kata Sugiyanto.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa PAM Jaya mampu menggabungkan peningkatan layanan publik dengan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, sehingga mendukung Jakarta menjadi kota yang lebih berkelanjutan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya