Bitcoin Masih Tertahan, Pasar Menanti Arah Jelas

Harga Bitcoin masih bergerak terbatas di bawah level USD 91.000 sejak awal pekan kemarin.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 26 Januari 2026, 06:00 WIB
Ilustrasi Harga Bitcoin (Source: freepik.com)

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin masih bergerak terbatas di bawah level USD 91.000 sejak awal pekan kemarin. Kondisi ini terjadi meskipun pasar saham global justru menguat, seiring rilis data pertumbuhan ekonomi dan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang tergolong solid. Situasi ini membuat pelaku pasar kripto bersikap lebih berhati-hati.

Mengutip Cointelegraph.com, minimnya pergerakan harga menunjukkan bahwa Bitcoin belum mendapatkan dorongan kuat untuk naik. Para trader menilai pasar masih mencari keseimbangan baru setelah koreksi tajam yang terjadi sebelumnya. Akibatnya, minat untuk mengambil posisi agresif pun cenderung menurun.

Salah satu indikator yang mencerminkan kondisi tersebut adalah tingkat pendanaan (funding rate) kontrak berjangka perpetual Bitcoin. Pada Kamis (22/1/2026) pekan lalu, tingkat pendanaan tercatat sekitar 7% secara tahunan. Angka ini berada sedikit di bawah kisaran normal yang biasanya mencerminkan pasar netral hingga optimistis.

Meski terjadi pemulihan dibandingkan awal pekan ketika funding rate hampir nol, permintaan terhadap posisi long dengan leverage tinggi masih tergolong lemah. Hal ini mengindikasikan trader belum sepenuhnya yakin untuk mendorong harga Bitcoin naik dalam waktu dekat.

Dengan kondisi tersebut, perhatian pasar kini tertuju pada level support USD 88.000. Banyak pihak mempertanyakan apakah level ini mampu bertahan jika tekanan jual kembali meningkat dalam beberapa hari ke depan.

 

Trader Besar Pilih Akumulasi

Aset digital kripto Bitcoin. (Foto by AI)

Di tengah keraguan pasar, pelaku besar atau yang kerap disebut “paus” justru diperkirakan masih terus mengakumulasi Bitcoin. Strategi ini tercermin dari aktivitas di pasar opsi yang tidak menunjukkan lonjakan permintaan perlindungan terhadap penurunan harga.

Data dari Laevitas menunjukkan bahwa strategi opsi Bitcoin yang paling aktif dalam dua hari terakhir adalah long straddle dan long Iron Condor. Kedua strategi ini lebih menekankan pada potensi volatilitas, bukan taruhan pada arah harga tertentu.

Pilihan strategi tersebut menandakan bahwa trader besar memperkirakan harga Bitcoin akan bergerak dalam kisaran tertentu atau mengalami fase konsolidasi. Dengan kata lain, pasar diperkirakan akan “mengumpulkan tenaga” sebelum menentukan arah berikutnya.

 

Faktor Global Jadi Penentu Pergerakan Selanjutnya

Ilustrasi Bitcoin (iStockPhoto)

Selain dinamika internal pasar kripto, faktor global juga ikut memengaruhi pergerakan Bitcoin. Pasar kini menanti rilis laporan kinerja sejumlah perusahaan besar Amerika Serikat yang dapat memengaruhi sentimen investor secara luas.

Beberapa perusahaan yang akan melaporkan kinerja keuangan pekan depan antara lain Microsoft dan Tesla, disusul Apple dan Visa. Laporan ini akan menjadi indikator kekuatan konsumsi dan dunia usaha.

Di sisi lain, harga emas justru mencetak rekor tertinggi seiring naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun. Kondisi ini kerap dibaca sebagai sinyal meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal dan potensi inflasi di Amerika Serikat.

Secara keseluruhan, pasar derivatif Bitcoin menunjukkan ketahanan setelah pengujian ulang level USD 88.000. Namun, peluang Bitcoin kembali menguat ke kisaran USD 95.000 masih sangat bergantung pada masuknya dana institusional.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya