Liputan6.com, Jakarta - Anggota DPRD DKI Lukmanul Hakim meminta kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta untuk menangani banjir dengan tindakan preventif atau pencegahan, karena isu ini sampai saat ini di Ibu Kota belum terpecahkan.
"Banjir dan macet seharusnya mendapat perhatian khusus karena sudah menjadi problem laten di Jakarta," kata Lukman seperti dilansir Antara, Jumat (23/1).
Advertisement
"Kita apresiasi langkah temporer seperti menerapkan bekerja dari rumah dan pendidikan jarak jauh (PJJ). Tapi itu kuratif. Mohon preventif diutamakan," ujarnya.
Lukman mengingatkan, tata ruang di Jakarta yang kacau menjadi biang kerok banjir dan kemacetan lalu lintas.
Karenanya, siapa pun yang memimpin Jakarta masih harus memprioritaskan penanganan banjir dan kemacetan lalu lintas.
Ia meminta gubernur melakukan tindakan konkret dengan memastikan semua saluran air dan pompa berfungsi sebagaimana mestinya.
"Jangan lupa, kerugian material dan waktu yang warga Jakarta terima akibat banjir tidak sedikit. Ini yang harus dipikirkan. Apa Pak Gubernur mau menanggung juga?" katanya.
Pramono Temukan Penyebab Banjir di Kelapa Gading hingga Cilincing, Ternyata Ini Akar Masalahnya
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menemukan penyebab banjir yang kerap melanda wilayah Jakarta Utara (Jakut). Masalah banjir di daerah Jakut seperti Kelapa Gading hingga Cilincing ternyata adalah penyempitan aliran air.
Untuk itu, Pramono mengatakan bakal melakukan normalisasi Kali Cakung Lama sebagai langkah utama mengatasi banjir di Jakut. Menurutnya, normalisasi akan menjadi program prioritas penanganan banjir usai ditemukan adanya penyempitan alur (bottleneck) sungai yang menghambat aliran air menuju laut.
“Dan ini menyebabkan beberapa daerah kemudian banjir di antaranya adalah Kelapa Gading, Sukapura, dan Cilincing, Pegangsaan Dua, dan sebagainya,” kata Pramono saat meninjau segmen Sungai Begog dan Pedongkelan di Cilincing, Jakarta Utara, pada Jumat (23/1/2026).
Menurut Pramono, Kali Cakung Lama merupakan titik krusial sebelum air mengalir ke laut. Oleh karena itu, ia memerintahkan jajarannya untuk melakukan normalisasi sepanjang sekitar 2 kilometer (km).
“Ini adalah penyebab bottleneck utama sebelum air itu turun ke laut. Maka tadi saya sudah meminta kepada Bu Ika untuk segera dilakukan normalisasi dan mungkin sampai dengan 2 kilo,” kata dia.
Pramono menyampaikan, selama ini proses untuk melangsungkan normalisasi belum berjalan optimal karena masih ada penolakan dari sebagian warga. Namun, kondisi banjir yang terus berulang membuat sikap masyarakat berubah.
“Dari waktu ke waktu di sini selalu banjir, apalagi dalam dua minggu ini terjadi banjir yang sama, sekarang ini sebagian besar masyarakat sudah bersedia untuk dilakukan normalisasi,” ucapnya.
Penyempitan Aliran Air jadi Penyebab Utama
Ia menjelaskan, penyempitan sungai menjadi persoalan utama. Dari lebar awal sekitar 15 hingga 20 meter, kini alur Kali Cakung Lama di sejumlah titik hanya tersisa sekitar dua meter.
“Padahal awalnya di sini ini sekitar 20 meter, 15 sampai 20 meter,” kata Pramono.
Pramono memastikan persetujuan normalisasi telah ia berikan secara langsung dan akan segera ditindaklanjuti melalui rapat teknis yang rencananya berlangsung pekan depan.
“Saya sudah memberikan persetujuan secara langsung dan langsung minggu depan kita rapatkan untuk kita lakukan normalisasi di sungai ini supaya Kelapa Gading dan sebagainya tidak berdampak seperti sekarang ini,” kata Pramono.