Curah Hujan Tinggi, Ini Cara Pramono Tangani Cuaca Ekstrem di Jakarta

Pemprov DKI juga mengevaluasi penanganan banjir, khususnya yang terjadi pada 12, 18, dan 22 Januari 2026.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 23 Januari 2026, 13:56 WIB
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung usai rapat terbatas (Ratas) penanganan banjir di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (23/1/2026) (Liputan6.com/Winda Nelfira)

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut bahwa operasi modifikasi cuaca (OMC) adalah kebijakan jangka pendek untuk mengantisipasi cuaca ekstrem di ibu kota. Pasalnya, kata dia, selama cuaca ekstrem, curah hujan di Jakarta tercatat cukup tinggi sehingga dikhawatirkan bakal menyebabkan banjir.

“Yang kami tangani dengan modifikasi cuaca ini kan memang bersifat jangka pendek karena cuacanya ini kan given, bukan kita yang membuat,” kata Pramono usai rapat terbatas (Ratas) penanganan banjir di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (23/1/2026).

Adapun di dalam Ratas di Balai Kota Jakarta, Pemprov DKI juga mengevaluasi penanganan banjir, khususnya yang terjadi pada 12, 18, dan 22 Januari 2026. Dalam rapat tersebut, dirumuskan langkah-langkah strategis yang ditetapkan sebagai standar operasional prosedur (SOP) penanganan banjir di Jakarta.

“Rapat ini kami fokuskan untuk mengevaluasi kejadian banjir yang telah terjadi sekaligus mempersiapkan langkah antisipasi ke depan. Dari rapat tersebut, kami menyepakati sejumlah kebijakan yang kemudian dirumuskan menjadi SOP penanganan banjir di DKI Jakarta,” ujar Pramono.

 

SOP Penanganan Banjir

Ia menjelaskan, SOP penanganan banjir di DKI Jakarta melibatkan seluruh unsur perangkat daerah dan pemerintah wilayah. Pelibatan lintas sektor ini dilakukan agar penanganan banjir dapat berjalan cepat, terkoordinasi, dan menyeluruh.

“Kami melibatkan Dinas Sumber Daya Air, para wali kota dan bupati, serta perangkat daerah lain seperti Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, dan Dinas Bina Marga. Dengan kolaborasi ini, penanganan banjir tidak dilakukan secara parsial, tetapi terintegrasi,” jelasnya.

Pemprov DKI kini juga mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan meningkatkan frekuensi penerbangan atau sortie menjadi tiga kali sehari sebagai langkah antisipasi banjir di tengah cuaca ekstrem yang melanda Jakarta dan sekitarnya.

“Sekarang setiap hari sudah menerbangkan tiga, artinya memang modifikasi cuaca yang dilakukan karena budget-nya sudah tersedia, bahkan budget-nya kita sediakan sampai dengan 30 hari ke depan sehingga tidak ada hambatan atau handicap terhadap hal itu,” kata Pramono.

 

Curah Hujan Tinggi

Pramono menjelaskan, berdasarkan catatan Pemprov DKI, puncak curah hujan tertinggi di Jakarta terjadi pada 18 Januari, mencapai 267 milimeter (mm) per hari. Menurutnya, angka tersebut tergolong sangat tinggi dan jarang terjadi di Jakarta.

“Puncak tertingginya ada di tanggal 18, yaitu 267 milimeter per hari dan itu tinggi sekali. Jakarta rasanya jarang sekali seperti itu,” tandasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya