Menperin: Industri Makanan dan Minuman Jadi Kontributor Terbesar ke PDB Manufaktur

Industri makanan dan minuman Indonesia masih memiliki potensi pertumbuhan yang besar.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 22 Januari 2026, 21:40 WIB
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Kemenperin mendapatkan alokasi anggaran Rp 2,91 triliun di tahun 2023. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita melihat peluang Industri makanan dan minuman Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang besar. Bukan tanpa alasan, sebab didukung oleh sumber daya alam dan permintaan domestik yang terus meningkat. 

Agus mencontohkan, pada Triwulan III Tahun 2025, PDB industri makanan dan minuman mampu bertumbuh sebesar 6,49% lebih dari sektor non migas dan nasional.

“Lebih tinggi dari pertumbuhan PDB industri pengolahan non-migas sebesar 5,58% dan PDB nasional sebesar 5,04%,” kata Agus dalam acara Business Matching Pati Ubi Kayu, di Gedung Kemenperin Widya Chandra, Kamis (22/1/2026).

Selain mencatat pertumbuhan tinggi, industri makanan dan minuman juga menjadi kontributor terbesar terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada periode tersebut. Kondisi ini menempatkan sektor makanan dan minuman sebagai subsektor dengan kontribusi PDB terbesar di dalam industri manufaktur nasional.

“Pada periode yang sama, industri makanan dan minuman juga menjadi kontributor terbesar terhadap PDB industri pengolahan non-migas, sehingga menjadikannya sebagai subsektor dengan kontribusi PDB terbesar,” jelasnya.

Tumbuh 5,17%, Industri Manufaktur Jadi Motor Utama Pertumbuhan Ekonomi RI

Pengelolaan barang manufaktur menyumbang gas emisi rumah kaca. (Foto: Freepik/usertrmk)

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan, industri pengolahan nonmigas tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus memberikan kontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB) dan investasi sepanjang tahun 2025.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan nonmigas mencatat pertumbuhan sebesar 5,17 persen sepanjang Triwulan I–III 2025. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,01 persen.

“Pertumbuhan industri manufaktur nasional mencapai 5,17 persen atau meningkat sebesar Rp92,16 triliun secara tahunan. Ini menunjukkan industri manufaktur masih menjadi penggerak utama perekonomian Indonesia,” ujar Agus dalam acara Business Matching Pati Ubi Kayu, di Gedung Kemenperin Widya Chandra, Kamis (22/1/2026).

Ia menjelaskan, nilai tambah industri pengolahan nonmigas atas dasar harga konstan meningkat dari Rp1.783,17 triliun pada 2024 menjadi Rp1.875,33 triliun pada periode yang sama di 2025. Kinerja ini mempertegas daya tahan sektor manufaktur di tengah dinamika ekonomi global.

Selain tumbuh positif, kontribusi industri manufaktur terhadap PDB nasional juga tergolong besar. Sepanjang Triwulan I–III 2025, sektor ini menyumbang 17,27 persen atau setara Rp3.051,58 triliun terhadap PDB nasional atas dasar harga berlaku.

“Kontribusi yang signifikan ini menegaskan bahwa industri pengolahan nonmigas masih menjadi tulang punggung struktur ekonomi nasional,” kata Agus.

 

Sisi Investasi

manufaktur adalah ©Ilustrasi dibuat Stable Diffusion

Dari sisi investasi, sektor industri manufaktur juga menunjukkan performa yang kuat. Realisasi investasi industri pengolahan nonmigas mencapai Rp552,0 triliun atau setara 38,49 persen dari total investasi nasional sebesar Rp1.434,3 triliun sepanjang Triwulan I–III 2025.

Menurut Agus, tingginya kontribusi investasi tersebut mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek industri manufaktur nasional yang masih sangat menjanjikan.

Optimisme pelaku usaha industri juga tetap terjaga, tercermin dari sejumlah indikator kepercayaan. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Desember 2025 berada di level 51,90, yang masih menunjukkan fase ekspansi meskipun sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya.

Sementara itu, Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Desember 2025 tercatat di level 51,2. Angka ini menandakan aktivitas manufaktur nasional masih terus berekspansi. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya