PBB Peringatkan Dunia Masuk Era Kebangkrutan Air Global

Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan sistem air dunia telah melampaui fase krisis dan memasuki kondisi kebangkrutan yang berdampak luas dan berkelanjutan.

oleh Meila Alfauzi SukmawanDiterbitkan 22 Januari 2026, 19:00 WIB
Dunia akan segera menghadapi krisis air global. (Dok. Instagram/@un_water/https://www.instagram.com/p/CjF2X6PjbXP//Dyra Daniera)

Liputan6.com, Jakarta - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan terkait kondisi sumber daya air global. Dalam laporan yang dirilis pada Selasa, PBB menyatakan bahwa dunia kini sedang memasuki era yang disebut sebagai “kebangkrutan air global,” sebuah kondisi ketika sistem air tidak lagi mampu mendorong kebutuhan manusia dan lingkungan secara berkelanjutan.

Laporan yang diterbitkan Institut Air, Lingkungan, dan Kesehatan Universitas PBB (United Nations University Institue for Water, Environment, and Health) mengungkapkan bahwa penurunan terhadap cadangan air tanah yang kronis, alokasi air yang berlebihan, degradasi lahan, deforestasi, dan polusi. Seluruh faktor tersebut diperparah oleh dampak perubahan iklim yang semakin ektsrem.

Menurut laporan,  berbagai wilayah telah melampaui batas hidrologisnya, yakni ambang kemampuan alam dalam menyediakan dan memulihkan sumber daya air. Akibatnya, istilah-istilah umum yang digunakan seperti “stres air” dan “krisis air,” tidak lagi mencerminkan kenyataan di banyak area, melainkan telah memasuki tahap pascakrisis yang ditandai dengan kerugian permanen dan ketidakmampuan untuk pulih ke tingkat  historis.

Penulis utama dalam laporam, Kaveh Madani menilai situasi ini sebagai peringatan keras global. “Laporan ini mengungkapkan kebenaran yang tidak mengenakkan. Banyak wilayah hidup melebihi kapasitas hidrologis mereka, dan banyak sistem air penting telah mengalami kebangkrutan," tuturnya, melansir Antara, Kamis (22/01/2026).

Menurutnya, meski tidak semua negara atau cekungan sungai telah mencapai tahap kebangkrutan air, jumlah sistem utama yang telah melewati ambang batas tergolong signifikan. Hal ini, telah mengubah lanskap risiko global.

Sistem Air Global Dinilai Telah Melewati Fase Krisis

Dalam rangka meningkatkan kesadaran tentang Hari Samudra Dunia pada 8 Juni, Google menambahkan layanan Street View di bawah laut.

Dalam laporan tersebut, perairan permukaan dan lahan basah menyusut dengan cepat. Bahkan  sejak awal tahun 1990-an, lebih dari separuh danau-danau besar di dunia telah mengalami penurunan volume air yang berdmpak kepada sekitar seperempat populasi global.

Dengan berkurangnya cadangan air tanah dan penurunan permukaan tanah ini, menunjukkan bahwa cadangan tersembunyi sedang terkuras.

Sekitar 70 persen akuifer utama di dunia menunjukkan tren penurunan jangka panjang. penyusutan cadangan air tanah ini berdampak langsnng pada penurunan permukaan tanah di berbagai wilayah. Fenome penurunan terkait dengan pemompaan air tanah berlebih kini berdampak kepada hampir 2 miliar orang di seluruh dunia.

Selain kuantitas, kualitas air juga menjadi perhatian serius, degradasi kualitas air semakin mengurangi kesediaan air yang dapat dimanfaatkan. Hal ini dapat menjadi faktor yang mempercepat kebangkrutan air.

Menghadapi kondisi tersebut, laporan itu menyerukan perubahan kebijakan. Pemerintah diminta untuk beralih dari pola respons darurat jangka pendek menuju “manajemen kebangkrutan”yakni pendekatn yang mengakui keterbatasan sumber daya dan menyesuaikan permintaan alam Langkah yag disarankan meliputi pengurangan dan realokasi ualng permintaan air, menekan polusi dan eksploitasi ilegal, serta untuk menetapkan kembali agenda air global menjelang penyelenggaraan Konferensi Air PBB 2026.

INFOGRAFIS: Gedung-Gedung Jakarta Bakal Dilarang Memakai Air Tanah (Liputan6.com / Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya