Haji 2026, Alissa Wahid Senang Dengar Penambahan Petugas Haji Wanita di Tahun Ini

Wamenhaj mengatakan, pada musim haji 2026 ini, jumlah petugas perempuan melampaui target menjadi 33,2 persen dari target 30 persen.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 21 Januari 2026, 12:12 WIB
Anggota Amirul Hajj Perempuan 2023–2024, Alissa Wahid (Liputan6.com/Asnida Riani)

Liputan6.com, Jakarta - Jemaah perempuan masih mendominasi pelaksanaan haji 2026. Diperkirakan, jemaah haji perempuan lebih dari 50 persen karena proses pelunasan masih berjalan.

Anggota Amirul Hajj Perempuan 2023–2024, Alissa Wahid, memaparkan dua tantangan terbesar jemaah perempuan. Pertama, pengalaman hidup perempuan.

"Salah satunya adalah siklus reproduksi. Perempuan ada datang bulan," katanya saat mengisi kelas Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa, (20/1/2026).

Selain itu, dari segi kebutuhan kelengkapannya, berbeda dari laki-laki. Misalnya saja pakaian ihram. Beberapa perempuan juga membutuhkan pendamping salah satunya ketika melakukan ibadah.

"Laki-laki dua lembar, perempuan berapa lapis? Hijab dan dalaman hijab, atasan dan dalaman, dalaman celana, kaus kaki, banyak,” ujarnya.

Belum Semua Layanan Ramah Perempuan

Tantangan kedua, menurut dia, tak semua fasilitas haji ramah perempuan. Seperti jumlah pendamping perempuan dan kamar mandi.

Namun kini, Alissa sedikit lega karena petugas haji perempuan juga ditambah untuk menjawab keadaan tersebut. Wamenhaj pernah menyebut persentase jumlah petugas haji perempuan 2026 mencapai 33,2 persen dari target 30 persen.

"Kita sangat senang jumlah petugas haji perempuan terus ditambah, karena kebutuhannya memang real, terutama pembimbing ibadah perempuan. Selain itu, pemerintah juga perlu mempertimbangkan fasilitas yang dibutuhkan perempuan," ujar Alissa.

Alissa kemudian mencontohkan pengalamannya ketika menjadi petugas haji. Dia dan beberapa petugas sempat membuat kebijakan terkait penggunaan setengah kamar mandi laki-laki untuk jemaah perempuan.

"Karena meski jumlah kamar mandinya itu sama, sementara proses jemaah haji perempuan di kamar mandi berbeda dengan laki-laki. Mau-nggak mau, kita harus membuat kebijakan-kebijakan spontan, on the spot di lapangan. Yang kayak gitu-gitu perlu direspons secara sistematis," ujarnya.

 

Ibadah Haji Ramah Perempuan

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menjanjikan penyelenggaraan Haji 2026 yang ramah perempuan. Hal itu ditegaskan Direktur Bina Petugas Haji Reguler Kemenhaj, Chandra Sulistio Reksoprodjo.

"Di sana itu ramai, orang kita badannya kecil, paling tidak, misalnya saat beribadah, kita (petugas haji) membuat lingkaran untuk melindungi jemaah perempuan. Petugas haji harus sudah paham hal-hal seperti itu," katanya setelah mengisi materi diklat PPIH Arab Saudi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, 13 Januari 2026.

Jemaah perempuan dari Indonesiabiasanya takut bertanya dalam situasi baru. Bahkan untuk sekadar bertanya lokasi kamar mandi. Di situlah, peran petugas sangat vital.

"Kita (petugas haji) sudah harus membaca, langsung punya feeling, bilang, 'Maaf ibu, kalau membutuhkan kamar kecil, ada di sebelah sana. Atau, 'Ibu, kalau air minum kita sudah siapkan di sebelah sini," katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya