Sosok Pilot ATR Kapten Andy Dikenal Cinta Keluarga, Kerap Video Call Sebelum dan Sesudah Terbang

Pilot Andy terakhir melakukan video call dengan keluarga pada Jumat (16/1/2025) sehari sebelum peristiwa.

oleh Pramita TristiawatiDiterbitkan 19 Januari 2026, 15:58 WIB
Personel tim pencarian dan penyelamatan melihat puing-puing pesawat turboprop Indonesia Air Transport berjenis ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan pada Minggu 18 Januari 2026. Tim gabungan terus mengoptimalkan operasi pencarian dan penyelamatan korban kecelakaan pesawat turboprop Indonesia Air Transport berjenis ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. (Muchtamir Zaide/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Pesawat ATR 42-500 jatuh di Maros pada Sabtu (17/1/2026) setelah dikabarkan hilang kontak. Sebelum insiden terjadi, pilot pesawat Capt. Andy Dahananto sempat melakukan rutinitas pagi video call dengan keluarga pada Jumat, 16 Januari 2026.

"Komunikasi terakhir itu pada hari Jumat jam 8 pagi sebelum take-off seperti biasa, di Jogja beliau kontak, beliau call,"ujar Agus Mahardiyanto, adik kandung pilot Andy Dahananto, di rumah duka di Perumahan PWS RT 06/03, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Senin (19/1/2026).

Penuturannya, Andy tak pernah absen melakukan video call dengan keluarga meski jadwal terbangnya sangat padat. Jika tak sempat sebelum terbang, dia akan menghubungi setelah tiba di kota tujuan.

"Itu rutin dilakukan selama puluhan tahun oleh beliau, tidak pernah absen," katanya.

Keluarga Cemas Tak Ada Kabar

Dalam foto yang disediakan oleh Badan Nasional Pencarian dan Penyelamatan Indonesia (BASARNAS), anggota tim penyelamat melakukan operasi pencarian di sekitar Gunung Bulusaraung, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia, Sabtu 17 Januari 2026. Minggu 18 Januari 2026, Tim SAR gabungan berhasil menemukan badan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (BASARNAS via AP)

Sebelum pesawat dipastikan mengalami kecelakaan, keluarga Pilot Andy cemas menugggu kabar. Andy belum juga memberi kabar hingga pukul 13.17 Wib padahal seharusnya, pesawat landing pukul 12.17 Wib.

"Nah itu yang membuat kami semua khawatir. Dari pihak perusahaan juga sudah menghubungi kami, menyampaikan bahwa terjadi lost contact," jelas Agus.

Namun saat itu, keluarga coba tidak berpikiran negatif sambil terus memantau proses pencarian dan berdoa. Sebab kondisi hilang kontak kerap terjadi dalam dunia penerbangan. Mereka hanya berharap pada mukzijat

"Tidak lain harapan kami adalah mujizat. Mukjizat yang mungkin ya luar biasa sekali, apabila dengan mungkin rekan-rekan melihat kondisi pesawat, wing-nya sudah begitu (hancur), tapi saya rasa mujizat Allah bisa melebihkan," ujarnya. Sebelumnya, pesawat ATR 42-500 milik IAT dinyatakan hilang kontak di wilayah pegunungan Bulusaraung daerah perbatasan Kabupaten Maros-Pangkep, Sulsel saat hendak mendarat di Bandara Hasanuddin. Informasi terkini, dua jenazah berhasil dievakuasi tim SAR gabungan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya