Manchester United Terlihat Bebas Usai Amorim, Tantangan Sebenarnya Baru Dimulai

Manchester United tampak lebih bebas setelah kepergian Ruben Amorim, tetapi kemenangan derby di bawah Michael Carrick membuka tantangan baru yang lebih kompleks

oleh Richard Andreas LuturmasDiterbitkan 19 Januari 2026, 14:33 WIB
Manchester United berhasil memenangkan laga saat menjamu Manchester City dalam pertandingan lanjutan Liga Inggris 2025/2026 di Old Trafford, Manchester, Inggris, Sabtu (17/01/2026) waktu setempat. (AFP/Darren Staples)

Liputan6.com, Jakarta - Ada alasan kuat mengapa Manchester United terlihat lebih lepas dalam derby terbaru mereka. Kemenangan itu datang tak lama setelah kepergian Ruben Amorim, sosok yang sebelumnya diharapkan menjadi jawaban jangka panjang klub.

Di sisi lain, hasil tersebut juga menjadi hari yang kelam bagi Pep Guardiola. Derby itu tercatat sebagai salah satu kekalahan paling menyeluruh yang ia alami di Manchester dalam hampir satu dekade terakhir.

Namun, di balik euforia singkat, muncul pertanyaan yang lebih besar. Apakah perubahan ini sekadar efek emosional pasca-pergantian pelatih, atau awal dari fase yang lebih stabil bagi United.


Awal Meyakinkan Carrick dan Kontras dengan Amorim

Bek Manchester United Harry Maguire menanduk bola ke gawang Manchester City pada laga Liga Inggris 2025/2026 di Old Trafford, Sabtu (17/1/2026). (AP Photo/Dave Thompson)

Michael Carrick mengulang sejarah dengan memenangkan derby Manchester dalam laga pertamanya, sebagaimana ia lakukan 13 bulan sebelumnya. Awal impresif ini sekaligus menyoroti kontras tajam dengan masa Amorim.

Carrick memilih pendekatan berbeda: lini belakang empat pemain, sayap yang agresif, Bruno Fernandes sebagai nomor 10, serta Kobbie Mainoo di lini tengah. Keputusan ini memberi struktur yang jelas dan eksekusi yang rapi.

Penjelasan paling sederhana mungkin bahwa Carrick melakukan kebalikan dari apa yang biasa diterapkan Amorim. United memulai laga dengan cepat, memenangi babak kedua, dan mencatatkan clean sheet, sesuatu yang jarang terlihat sebelumnya.


Pemain yang Sama, Pendekatan yang Berbeda

Gelandang Manchester United asal Inggris bernomor punggung 37, Kobbie Mainoo, berduel dengan bek Manchester City asal Inggris bernomor punggung 82, Rico Lewis, selama pertandingan Liga Inggris antara Manchester United dan Manchester City di Old Trafford, Manchester, barat laut Inggris, pada 17 Januari 2026. (Darren Staples/AFP)

Menariknya, sebelas pemain yang diturunkan Carrick sejatinya bisa disusun dalam skema 3-4-3 favorit Amorim. Namun hanya Casemiro yang benar-benar bermain di posisi serupa seperti di era sebelumnya.

Mainoo, yang belum mendapat starter di Liga Inggris di bawah Amorim, langsung dipercaya. Sementara Lisandro Martinez dan Harry Maguire yang biasa bermain dalam tiga bek, kini beradaptasi dengan garis pertahanan empat pemain.

Pilihan tersebut memunculkan kesan bahwa United sebelumnya terhambat oleh keputusan yang terlalu dogmatis. Mainoo memang bukan gelandang bertahan murni, tetapi kemampuannya tampak lebih bernilai daripada yang diakui sebelumnya.


Rasa Bebas dan Hubungan dengan Publik Old Trafford

Pelatih interim Manchester United, Michael Carrick, memberi ucapan selamat kepada gelandang asal Kamerun Bryan Mbeumo saat meninggalkan lapangan setelah ditarik keluar dalam pertandingan Liga Inggris antara Manchester United dan Manchester City di Old Trafford, Manchester, Sabtu (17/1/2026). (Darren Staples / AFP)

Derby itu juga memperlihatkan ikatan kuat antara pemain dan penonton. Meski publik tidak pernah berbalik melawan Amorim, suasana stadion menunjukkan rasa lega yang nyata.

Lisandro Martinez mengungkapkan pesan sederhana dari Carrick kepada tim.

Lanjut Baca:

“Satu hal penting yang Michael Carrick katakan adalah, ‘gunakan energi dari orang-orang’.” Fenomena ini bukan hal baru bagi United. Dalam beberapa periode singkat di bawah mantan pemain yang menjadi pelatih sementara, tim kerap tampil lebih hidup, seolah menikmati kembalinya pendekatan yang terasa lebih masuk akal.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya