Payung Hitam dan Cerita Seorang Ibu yang Setia Menunggu Janji Negara di Setiap Kamis

Setiap Kamis, di depan Istana Negara, Sumarsih masih menunggu Indonesia menepati janjinya.

oleh Siti Khoirul InayahDiterbitkan 18 Januari 2026, 21:06 WIB
Sumarsih saat aksi Kamisan di Jakarta. (Liputan6.com/ Khoirul Inayah)

Liputan6.com, Jakarta - Setiap Kamis, di depan Istana Negara, waktu seperti berhenti. Di antara hiruk-pikuk kendaraan dan langkah sibuk pejalan kaki, payung-payung hitam terbuka. Bukan untuk menahan hujan, melainkan untuk mengingatkan bahwa ada luka yang belum sembuh, ada keadilan yang belum datang.

Di bawah payung hitam itu berdiri Maria Catarina Sumarsih. Wajahnya tenang, tetapi menyimpan kisah panjang tentang kehilangan, penantian, dan keyakinan yang tak pernah padam.

Bagi Sumarsih, 1998 bukan sekadar deretan angka dalam buku sejarah. Tahun itu menjadi titik balik hidupnya. Anak sulungnya, Bernardinus Realino Norma Irmawan, mahasiswa Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, gugur dalam Tragedi Semanggi I, pada 13 November 1998.

Sore itu, sebuah telepon berdering, mengabarkan bahwa Wawan (sapaan akrab anaknya) tertembak. Sumarsih bergegas ke rumah sakit yang sudah dipenuhi mahasiswa. Harapannya runtuh saat dokter menyatakan peluru yang menembus dada kiri anaknya kena ke jantung dan paru-paru.

"Sejak saat itu, rumah terasa hampa," ucapnya getir.

Saat ditemui awak Liputan6.com, Kamis (15/1/2026), Sumarsih menceritakan, berbulan-bulan setelah kepergian Wawan, hari-harinya hanya dihabiskan dengan tangis dan doa. Ia terus membaca kitab suci, memohon kekuatan, sembari menyimpan pertanyaan yang terus menghantui. Banyak pertanyaan muncul dibenaknya. Mengapa anaknya ditembak? Siapa pelakunya? Dan di mana negara ketika warganya tewas ditembak?

Ia merasa sendirian, meski dikelilingi keluarga. Kesibukan tak pernah benar-benar menghapus rasa kehilangan. Yang tertinggal hanyalah kekosongan. Begitu pula yang di rasakan ayah dan adik mendiang.

Mencari Kebenaran, Menabrak Tembok Kekuasaan

Awalnya, Sumarsih dan keluarga korban mencari kebenaran. Harapan sempat menyala ketika Undang-Undang Pengadilan HAM Nomor 26 Tahun 2000 diterbitkan. Mereka percaya, keadilan akhirnya menemukan jalannya.

Namun kenyataan berkata lain. Berkas penyelidikan Komnas HAM tak pernah beranjak ke meja pengadilan.

"Dikantongi oleh Kejaksaan Agung," katanya, dengan nada tertahan namun penuh tekanan, seolah setiap kata membawa beban puluhan tahun penantian.

Kekecewaan itu tak membuat Sumarsih mundur. Justru dari sanalah Aksi Kamisan lahir. Sejak 18 Januari 2007, ia rutin hadir, berdiri diam di bawah payung hitam.

"Sepanjang saya sehat dan berada di Jakarta, saya akan datang," ucapnya tanpa keraguan.

Aksi yang bermula dari keheningan itu tumbuh menjadi gerakan solidaritas. Kini, aksi Kamisan menjalar ke sekitar 80 kota di Indonesia, sebuah pengingat bahwa luka masa lalu belum selesai.

Payung hitam bukan sekadar simbol. Bagi Sumarsih, payung adalah perlindungan terakhir ketika negara absen.

"Kalau perlindungan duniawi tidak saya dapatkan, saya percaya Tuhan akan melindungi," katanya.

Ia menampik rasa lelah. Namun harapan, sekecil apapun, selalu ia rawat. Sebab tanpa harapan, perjuangan akan berhenti sebelum sampai tujuan.

 

Nada Perlawanan dari Panggung Jalanan

Aksi Kamisan kala itu tak hanya diisi dengan diam dan doa. Band Sukatani, grup musik independen yang dikenal lantang menyuarakan kritik sosial, turut hadir. Lagu-lagu seperti Gelap Gempita dan Tumbal Proyek menggema di depan istana.

Musik menjadi bahasa lain untuk menyampaikan kemarahan, duka, dan perlawanan. Di sela lagu dan orasi, teriakan massa membelah udara "Jangan diam! Lawan!”

Sumarsih tidak meminta belas kasihan. Kepada pemerintah, ia hanya menuntut keberanian mempertanggungjawabkan 12 kasus pelanggaran HAM berat yang telah diakui negara.

Kepada generasi muda, ia menitipkan pesan. Sederhana namun bermakna.

"Jangan lupa, dan jangan diam," ucapnya.

"Tugas kalian melanjutkan agenda reformasi," katanya menambahkan.

Di bawah payung hitam itu, Sumarsih tak sekedar mengenang anaknya. Ia menjaga ingatan kolektif agar bangsa ini tidak melupakan janji keadilan, dan supaya hari Kamis tidak selamanya menjadi hari menunggu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya