Aliran Dana Asing Topang IHSG pada Awal Tahun

Penerbitan obligasi diperkirakan tetap terkendali yang akan menjaga likuiditas tetap melimpah di pasar.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 18 Januari 2026, 16:37 WIB
Investor asing mencatatkan aksi beli saham pada 12-15 Januari 2026. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Saham-saham Indonesia terutama saham komoditas telah mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih tinggi sejak awal 2026. Hal ini membuat posisi unik Indonesia di antara negara-negara ASEAN yang terkait dengan komoditas.

Kenaikan saham juga didorong dari aliran dana asing yang masuk sejak September tahun lalu. Hal itu karena likuiditas dan sentimen terus membaik di pasar saham domestik.

Mengutip riset Ashmore Asset Management Indonesia, ditulis Minggu (18/1/2026), selama sepekan, aliran dana investor asing yang masuk ke pasar saham mencapai USD 193 juta atau Rp 3,26 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.910).

Sementara itu, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 0,47% pada perdagangan Kamis, 15 Januari 2026 sehingga membawa indeks ke rekor tertinggi sepanjang masa di 9.075,40. Kinerja IHSG secara year to date (ytd) naik 4,96%. Di ASEAN, kinerja IHSG berada di posisi ketiga di bawah bursa saham Filipina dan Vietnam.

Di pasar obligasi, sentimen mengenai defisit fiskal yang tumbuh lebih dari yang diperkirakan menjadi 2,92% meski masih di bawah batas 3% ditambah dengan pelemahan mata uang rupiah telah menimbulkan kekhawatiran dari investor global. Selain itu, sentimen itu juga menekan imbal hasil obligasi Indonesia lebih tinggi karena premi risiko. Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun terkoreksi menjadi 6,25%. Sementara itu, imbal hasil tenor dua tahun naik menjadi 5,1%.

Di sisi lain, dalam anggaran negara 2026, pemerintah menargetkan defisit 2,68% dengan harapan pendapatan dan belanja yang lebih tinggi, tetapi defisit tetap berada dalam batas 3%.

“Ke depannya, pemerintah akan memantau dan mengintervensi stabilitas mata uang, sementara penerbitan obligasi akan tetap terkendali, yang akan menjaga likuiditas tetap melimpah di pasar sejalan dengan kebijakan dari Kementerian Keuangan,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia.

 

Kekhawatiran Pasar

Pedagang bekerja di New York Stock Exchange, New York, 10 Agustus 2022. (AP Photo/Seth Wenig, file)

Pasar saat ini mengalami tekanan seiring kenaikan imbal hasil secara bertahap seiring premi risiko yang dirasakan. “Namun, kita dapat melihat peluang untuk mengakumulasi (obligasi-red) durasi tenor lebih panjang,”.

Sedangkan di pasar global pada pekan ini sangat sensitive terhadap perkembangan berita termasuk data ekonomi. Data inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) tetap sesuai dengan konsensus dan tidak mengubah harapan terhadap keputusan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) yang akan datang untuk mempertahankan suku bunga.

Namun, risiko tambahan muncul terkait independensi the Federal Reserve (the Fed) yang sekali lagi hadir dan ketegangan geopolitik terkait Amerika Serikat.

"Latar belakang makroekonomi masih mendukung narasi siklus pelonggaran global yang lebih luas, tetapi pasar masih khawatir kalau jalan suku bunga untuk turun masih rapuh,”.

 

Faktor-Faktor yang Memicu Volatilitas

Steven Kaplan (tengah) saat bekerja dengan sesama pialang di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok karena investor menunggu langkah agresif pemerintah AS atas kejatuhan ekonomi akibat virus corona COVID-19. (AP Photo/Richard Drew)

Selain itu, faktor-faktor yang masih memicu volatilitas termasuk politik terkait anggota the Fed yang berkaitan dengan independensi the Fed selain ketahanan pasar tenaga kerja.

Sejak pelantikan Presiden AS Donald Trump, pemerintahannya telah mendorong pemangkasan suku bunga agresif yang hingga kini belum terlihat karena the Fed tetap independent dan berbasis data.

“Berita utama baru-baru ini menunjukkan laporan kalau Departemen Kehakiman AS mengeluarkan surat panggilan terkait renovasi gedung the Fed, tetapi pasar masih mengharapkan the Fed untuk terus beroperasi sesuai dengan mandat dan independensinya.”

Selain itu, geopolitik terus menjadi faktor penting dalam selera risiko dan harga komoditas global di mana premi risiko dalam lingkungan saat ini telah meningkat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya