Liputan6.com, Pangkep- Tim SAR gabungan terus memfokuskan pencarian korban pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang jatuh di kawasan puncak Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep pada Sabtu (17/1/2026). Meski badan dan ekor pesawat telah ditemukan, hingga saat ini belum ada tanda-tanda keberadaan penumpang maupun awak pesawat.
Komandan Kodim 1421/Pangkep, Letkol Czi Bhakti Yuhandika menegaskan bahwa pencarian korban menjadi prioritas utama sebelum mengevakuasi bangkai pesawat.
Advertisement
"Untuk saat ini kita masih menunggu perintah dari atasan tapi kita tetap fokus mengevakuasi korban dulu. Jadi kita mencari korban manusianya, baru nanti kita memikirkan untuk mengevakuasi dari pesawat itu sendiri," ujar Bhakti di Kantor Desa Tompobulu, Kabupaten Pangkep, Minggu (18/1/2026).
Hingga pukul 12.30 Wita, Bhakti memastikan bahwa belum ada tanda-tanda adanya penemuan korban. Baik dalam bentuk mayat utuh maupun serpihan bagian tubuh.
"Sampai dengan saat ini belum ada tanda-tanda adanya korban baik yang dalam bentuk mayat utuh ataupun dalam bentuk serpihan. Saat ini belum ada, hanya ditemukan serpihan-serpihan dari pesawat ataupun barang-barang dari pesawat yang meledak itu," katanya.
Penyisiran Dilakukan 4 Tim, Kendala Cuaca dan Medan
Proses pencarian korban dilakukan dari Posko Tompobulu dengan empat tim yang bergerak ke titik lokasi penemuan bangkai pesawat. Seluruh tim itu dikerahkan untuk fokus mencari korban.
"Proses evakuasi dari Posko Tompobulu ini tadi pagi, dari semua rekan-rekan tim gabungan ini yang berada di sini sudah melaksanakan evakuasi ada 4 tim," ujar Bhakti.
Tim Aju diberangkatkan pada pukul 06.20 WITA dan pada pukul 08.20 WITA menemukan serpihan pesawat yang sebelumnya terpantau dari udara.
"Yang pertama ada Tim Aju yang berangkat pada pukul 06.20 Wita, tadi pada pukul 8.20 menemukan serpihan-serpihan yang (awalnya) ditemukan berdasarkan pantau dari udara," katanya.
Tim kedua kemudian dikirim ke ketinggian yang sama, namun terhambat cuaca.
"Kemudian jam berikutnya kita mengirimkan satu tim lagi pada ketinggian yang sama di Bulusaraung untuk melaksanakan evakuasi yang kedua, namun sampai saat ini kita masih terkendala cuaca," ujarnya.
Sementara itu, tim tiga dan empat menyusuri jalur alternatif dari arah bawah melalui jalan poros menuju Kecamatan Balocci.
"Yang terakhir dari evakuasi tersebut kira ada dari sudut yang lainnya, kita mengirimkan satu tim gabungan lagi tim 3 dan 4. Di situ kita menyusuri jalanan yang ada di bawah ini, untuk alternatif sebagai tempat ke titik lokasi, jalan poros menuju Balocci," jelas Bhakti.
Dari Posko Tompobulu, jarak ke lokasi penemuan puing sekitar 3 sampai 3,5 kilometer dengan waktu tempuh jalur darat sekitar 3 jam 30 menit. Lokasi berada di elevasi 700 sampai 800 meter, dengan medan terjal, berbatu, dan jurang curam.
"Medannya ini medan terjal, gunung-gunung berbatu, ada jurang-jurang yang sangat curam itu dan itu membutuhkan perencanaan yang sangat matang dan safety," kata Bhakti.
Kondisi cuaca di puncak Bulusaraung mulai memburuk sejak pukul 10.00 WITA. Kabut dan rintik hujan membuat penyisiran menjadi sulit, terutama untuk tim yang turun secara vertikal.
"Tadi dari pukul 10.00 WITA, sudah mulai turun kabut dan ada sedikit rintik-rintik hujan. Dan ini menyulitkan tim yang akan melaksanakan penyisiran ke bawah, terutama menyulitkan tim vertikal ke bawah ini. Jadi kita utamakan faktor safety dulu,” jelasnya.
Rencana Evakuasi Korban
Jika korban ditemukan di puncak Bulusaraung, evakuasi akan dilakukan menuju Posko Tompobulu. Namun bila korban ditemukan dekat jalur poros, evakuasi diarahkan ke Kecamatan Balocci.
"Untuk evakuasi kita siapkan dua alternatif, yang pertama apabila jenazah ataupun korban ini berada di puncak Bulusaraung, otomatis jalan satu-satunya harus dievakuasi ke Posko Tompobulu. Tapi apabila mendekati jalan poros ini kita temukan jenazah maka evakuasinya bisa kita lakukan ke Kecamatan Balocci. Kita arahkan ke arah bawah," jelas Bhakti.
Evakuasi udara belum bisa dipastikan karena keterbatasan landasan helikopter dan cuaca, meski tetap disiapkan sebagai opsi.
"Evakuasi udara belum bisa dipastikan. Berkaitan dengan landasan heli yang tidak memungkinkan dan juga kondisi cuaca. Tapi opsi ini tetap dijadikan alternatif sesuai arahan komando atas," pungkas Bhakti.