Mekanisme Rekrutmen Tak Efisien Bikin Banyak Lamaran Tak Lolos Kualifikasi, Ini Solusinya

Di tengah kemudahan teknologi digital, dunia rekrutmen menghadapi fenomena baru yang disebut Mencari Jarum di Tumpukan Jerami

oleh Septian DenyDiterbitkan 16 Januari 2026, 15:00 WIB
Ilustrasi CV/ Curriculum Vitae (Photo created by Racool_studio on Freepik)

 

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah kemudahan teknologi digital, dunia rekrutmen menghadapi fenomena baru yang disebut Mencari Jarum di Tumpukan Jerami (The Needle in the Haystack).

 

Statistik menunjukkan, untuk satu posisi korporat, perusahaan rata-rata menerima 250 lamaran, di mana 75% hingga 88% di antaranya sering kali tidak memenuhi kualifikasi. Hal ini menyebabkan tim HR menghabiskan waktu hingga 23 jam hanya untuk menyortir resume demi satu perekrutan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Mimo mengumumkan peluncuran buku perdananya yang berjudul AI for Hiring: Solving the Inefficiency in Finding Human Potential in Modern Recruitment. Peluncuran buku ini merupakan langkah strategis Mimo dalam mengedukasi praktisi HR dan pemimpin bisnis mengenai urgensi transformasi digital dalam proses seleksi talenta di era modern.

"Kami percaya bahwa teknologi seharusnya tidak menggantikan peran manusia, melainkan memampukan mereka. Filosofi utama yang kami angkat dalam buku ini adalah Let Humans be Humans, Let AI be the Robot," kata Penulis Buku AI for Hiring sekaligus Researcher Mimo, Rafli Sodiq Bagaskara, dikutip Jumat (15/1/2026).

Dia menyatakan, Buku AI for Hiring hadir untuk menjawab tantangan inefisiensi tersebut. Buku ini mengupas tuntas bagaimana teknologi AI dapat mengubah proses manual yang melelahkan menjadi keputusan strategis yang cepat dan akurat melalui tiga pilar utama: AI Resume Screening, AI Interview, dan AI Assessment.

"Dengan menyerahkan tugas administratif dan repetitif kepada AI, praktisi HR dapat kembali fokus pada hal yang paling esensial: membangun hubungan antarmanusia dan menilai potensi kandidat secara objektif," tutur dia.

Salah satu sorotan utama dalam buku ini adalah pergeseran metode seleksi dari pencocokan kata kunci (keywords) yang kaku menuju pemahaman "konteks" menggunakan Natural Language Processing (NLP). Teknologi ini memastikan kandidat dengan potensi valid tidak terlewatkan hanya karena format penulisan CV yang berbeda.

Buku ini diharapkan dapat menjadi panduan praktis bagi perusahaan yang ingin meningkatkan efisiensi, akurasi, dan keadilan dalam proses rekrutmen mereka.

 

 

Selain Meraih Gelar Sarjana, Ini Rahasia Menembus Dunia Kerja

perbedaan resume dan cv ©Ilustrasi dibuat AI

Sebelumnya, salah satu pendiri dan direktur pelaksana perusahaan perekrutan dan kepegawaian Flourish, Sarah Skelton mengungkapkan saat ini beberapa industri tidak lagi mempedulikan gelar formal.

Ia menuturkan,banyak perusahaan yang lebih memprioritaskan perekrutan berdasarkan pengalaman yang dimiliki, dilansir dari CNBC Make It, Selasa, (8/7/2025).

Angkatan 2025 memasuki pasar kerja yang penuh tantangan dan kompetitif. Menurut data dari Federal Reserve Bank of New York tingkat pengangguran lulusan baru mencapai 5,8 persen pada Maret, hal ini menunjukan kenaikan dibanding tahun sebelumnya yang hanya 4,6 persen.

Sementara itu, freshgraduate yang “setengah menganggur” atau bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan gelarnya naik dari 40,6 persen pada tahun lalu menjadi 41,2 persen per Maret 2025. Kondisi ini diperparah oleh kehati-hatian para pemberi kerja dalam merekrut, karena ketidakpastian global yang dipicu kebijakan tarif yang berubah-ubah, rekrutmen yang dibekukan, dan gencarnya penggunaan kecerdasan buatan.

Di tengah sulitnya mencari pekerjaan banyak lulusan baru yang keliru dengan berpikir bahwa gelar akademis saja sudah cukup untuk menjamin mendapatkan pekerjaan padahal kenyataannya tidak semudah itu.

"Kadang saya melihat ada anggapan seperti ini: ‘Saya sudah kuliah, saya punya gelar, jadi saya pantas langsung masuk ke level tertentu’," ujar Skelton, yang sepanjang kariernya telah membantu lebih dari 1.000 lulusan mendapatkan pekerjaan.

“Sedangkan orang lain yang mungkin sudah lulus sekolah, sudah [bekerja], siap kerja, dan bisa menunjukkan keterampilan, serta sedikit lebih haus akan hal itu — beberapa bisnis lebih menyukai hal itu,” tambahnya.

Ia juga menyebutkan hal itu tentu saja tetap bergantung pada industrinya. Meskipun gelar mungkin kurang menjadi pertimbangan saat merekrut karyawan untuk posisi bisnis atau penjualan, gelar akan lebih penting untuk industri lain seperti kedokteran.

  

Butuh Pengalaman

contoh membuat cv lamaran kerja ©Ilustrasi dibuat AI

Lulusan baru yang memasuki dunia kerja sering kali dihadapkan pada situasi yang membingungkan: mereka diminta memiliki pengalaman kerja, padahal mereka baru mulai mencari pekerjaan.

Kondisi ini tentu saja menciptakan siklus yang menyulitkan karena sulit mendapat pekerjaan tanpa memiliki pengalaman, tapi tanpa pekerjaan, tak ada cara untuk mendapatkan pengalaman. 

Untuk mengatasi tantangan ini, Skelton menyarankan untuk menjadi kreatif dengan melakukan hal berikut:

  • Optimalkan Profil LinkedIn: Manfaatkan LinkedIn sejak awal perjalanan karier Anda. Pastikan profil Anda profesional dan sesuai dengan posisi yang ingin Anda lamar.
  • Ikut Kegiatan di Luar Akademik: Bergabunglah dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti organisasi, tim olahraga, atau jadi relawan di komunitas. Ini menunjukkan kemampuan kerja sama dan kepedulian sosial.
  • Kreatif Mencari Pengalama: Magang, kerja sukarela, atau sekadar membayangi (shadowing) profesional di bidang yang Anda minati bisa memberi gambaran langsung soal pekerjaan impian Anda.
  • Bangun Jaringan Sejak Dini: Hadiri acara networking, cari mentor yang bisa membimbing, dan jangan ragu meminta referensi dari dosen atau kenalan profesional.
  • Ciptakan Proyek Sendiri: Kerjakan proyek pribadi, buat portofolio, atau mulai ide bisnis kecil. Ini menunjukkan inisiatif dan kemampuan praktis Anda.
  • Perluas Wawasan Industri: Dengarkan podcast, baca buku, atau ikuti media yang relevan dengan bidang yang Anda tuju. Semakin Anda tahu, semakin siap Anda bersaing.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya