Liputan6.com, Wellington - Upaya penyelamatan dalam skala besar tengah berlangsung di wilayah terpencil South Island, Selandia Baru, setelah puluhan paus pilot terdampar. Peristiwa yang terjadi pada Kamis, (8/1/2026), tersebut menyebabkan enam ekor mati, sementara 15 lainnya masih bertahan hidup.
Hewan-hewan tersebut tersapu ke pantai Farewell Spit, sebuah formasi pasir sempit yang kerap menjadi lokasi kejadian serupa. Meski mayoritas kawanan sempat kembali ke laut, sekelompok paus justru terdampar lagi dan tersebar di garis pantai sepanjang satu kilometer.
Advertisement
Departemen Konservasi Selandia Baru melaporkan penerimaan informasi pertama mengenai kelompok paus di perairan dangkal kawasan itu sekitar pukul 11 pagi waktu setempat.
Rekaman dari organisasi konservasi kelautan, Project Jonah, memperlihatkan para relawan mengelilingi mamalia laut tersebut dan menyiramkan air menggunakan ember. Langkah itu bertujuan mencegah paus mengalami kepanasan sembari menanti air pasang.
Louisa Hawkes dari Project Jonah menjelaskan strategi penyelamatan vital tersebut kepada BBC. "Saat air pasang datang, kita harus bergerak sangat cepat untuk menyatukan paus-paus tersebut, lalu memindahkan mereka ke perairan yang lebih dalam," ujar Hawkes, melansir Independent, Kamis, (15/1/2026).
"Kita harus melakukan semua itu sebelum air pasang berbalik dan surut kembali,” tambahnya.
Paus pilot dikenal sebagai hewan sosial, dan tim penyelamat meyakini ikatan kelompok yang kuat dapat meningkatkan peluang bertahan hidup jika kawanan disatukan kembali. Relawan berupaya menggiring paus yang tersisa menjadi apa yang digambarkan Hawkes sebagai "kelompok yang rapi dan kompak” agar bisa kembali menjalin kontak sebelum mencoba berenang keluar bersama-sama.
Pada Jumat, Project Jonah menyampaikan via RNZ bahwa paus-paus itu berada di zona pasang surut dan menunjukkan tanda-tanda perilaku yang menggembirakan. Tim penyelamat dibantu oleh penjaga hutan, kapal, dan drone dari Departemen Konservasi terus memantau situasi tersebut.
Jebakan Geografis Farewell Spit
Farewell Spit memiliki sejarah panjang terkait insiden serupa. Departemen Konservasi sebelumnya menggambarkan area itu sebagai "perangkap paus alami" mengingat lokasinya berada di jalur migrasi paus pilot sirip panjang.
"Kami beruntung dengan pasang surut sampai sekarang, tetapi sayangnya paus pilot mulai terdampar saat air surut," kata seorang juru bicara departemen.
Menurut departemen tersebut, geografi tanjung pasir di sana membuat navigasi menjadi sangat berbahaya bagi paus.
"Gundukan pasir tersebut melengkung di sekitar pintu masuk utara ke Golden Bay, membentuk dataran pasir pasang surut yang luas diapit oleh perairan lepas pantai yang landai. Paus dapat dengan mudah tertipu dan terperangkap oleh dataran pasang surut yang landai serta air surut yang cepat," jelas pihak departemen seperti dikutip dari Stuff.
Faktor naluri sosial paus juga turut berperan dalam insiden massal tersebut. Departemen Konservasi menambahkan bahwa paus pilot memiliki ikatan sosial kuat, jika satu ekor menuju air dangkal, sisa kawanan akan mengikuti karena naluri alami untuk saling menjaga.
Lokasi tersebut pernah mencatat salah satu peristiwa terdampar massal terburuk di Selandia Baru pada Februari 2017, ketika lebih dari 400 paus pilot sirip panjang terdampar di pantai yang sama.