Lenovo Ungkap Tren AI ASEAN, Hybrid AI Kini Jadi Keharusan

Lenovo mengungkap 67 persen organisasi di ASEAN+ sudah menguji AI secara sistematis. Fokus kini bergeser ke integrasi hybrid dan Agentic AI, meski kesiapan perusahaan masih belum merata.

oleh Nariza Riskantia HayaDiterbitkan 14 Januari 2026, 18:00 WIB
Lenovo TechDay2026, Jakarta (13/1/2026). (Liputan6.com/Nariza Riskantia Haya).

Liputan6.com, Jakarta - Adopsi kecerdasan buatan (AI) di kawasan ASEAN terus menunjukkan tren positif. Data terbaru yang terungkap dalam konferensi pers Lenovo Tech Day 2026 menunjukkan 67 persen organisasi di kawasan ASEAN+ sudah melakukan uji coba AI secara sistematis.

Angka ini menegaskan satu hal. AI tidak lagi sekadar eksperimen. Perusahaan mulai mencari cara agar teknologi ini benar-benar berdampak bagi bisnis. Bukan lagi soal membangun model AI, tetapi bagaimana mengintegrasikannya dengan perangkat, infrastruktur, dan sistem sudah berjalan.

Sejumlah sektor tercatat menjadi pionir dalam penerapan AI, di antaranya telekomunikasi, layanan kesehatan, dan pemerintah. Meski begitu, perusahaan-perusahaan masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam mengintegrasikan AI ke dalam lingkungan hybrid yang kompleks.

Dalam kesempatan sama, General Manager, Budi Janto menilai pendekatan AI yang mengandalkan sumber daya manusia sudah tidak relevan di kawasan ASEAN.

“Di lingkungan ASEAN sendiri, strategic AI yang berbasis public money itu sudah nggak praktis. Karena kenapa? Beban untuk load-nya itu sudah tidak mumpuni. Jadi hybrid AI itu bukan pilihan, tapi itu sudah keharusan bagi perusahaan-perusahaan yang di ASEAN,” ujar Budi Janto, di Jakarta, baru-baru ini.

Seiring dengan hal itu, fokus perusahaan di ASEAN+ mulai beralih ke Agentic AI. Tercatat peningkatan fokus pada Agentic AI mencapai 91 persen secara tahunan (year on year).

Sebanyak 43 persen disebut masih membutuhkan waktu hingga 12 bulan untuk mencapai kesiapan. Sementara hanya 11 persen organisasi yang menyatakan siap untuk melakukan scalling Agentic AI.

“Hanya ada 11 persen ini cukup gede dari jumlah company di ASEAN. 11 persen ini yang bilang bahwa dia siap untuk melakukan skalanya agency AI,” ungkap Budi.

Kesenjangan kesiapan ini rupanya masih menunjukkan adanya tantangan mendasar dalam penerapan AI. Terdapat tiga tantangan utama menurut para CIO di ASEAN+, yakni penerapan AI yang dinilai masih belum optimal, keamanan data, serta kualitas data yang belum memadai.

Di sisi lain, kawasan ASEAN memiliki potensi besar sebagai lingkungan uji coba ideal untuk Agentic AI. Berkat kelincahan dan kematangan tata kelola di kawasan ASEAN menjadikannya sebagai lingkungan uji coba yang ideal untuk Agentic AI.yang terus berkembang.

“Pemenangnya di era agentic AI bukan yang paling cepat bergerak, tapi mereka bilang yang paling dapat dipercaya, dan paling dapat tata kelolanya baik,” tegas Budi.

Lenovo Tech Day 2026 Ungkap Pergeseran Besar Strategi AI Perusahaan

Di sisi lain, Lenovo resmi Lenovo Tech Day 2026 dengan tema “The Race for Enterprise AI”. Forum ini menjadi panggung perusahaan asal China tersebut untuk memaparkan arah perkembangan adopsi kecerdasan buatan (AI) di sektor perusahaan.

Dalam acara yang digelar di Jakarta, Selasa (13/1/2026), Lenovo juga memperkenalkan CIO Playbook 2026. Laporan tahunan ini merupakan hasil kolaborasi Lenovo dan IDC yang memasuki tahun keempat.

CIO Playbook 2026 disusun dari riset terhadap lebih dari 920 CIO dan direktur TI di 10 pasar Asia Pasifik, termasuk kawasan ASEAN. Melalui riset ini, Lenovo memetakan kesiapan, kapabilitas, dan prioritas perubahan dalam mengadipsi AI di lingkungan bisnis.

Vice President Commercial Portfolio & Product Management Lenovo, Thomas Butler, menegaskan adanya pergeseran besar dalam cara perusahaan memandang AI.

“Tahun lalu kita banyak membahas ekonomi AI. Diskusinya masih berada di tahap uji coba dan pilot. Namun kini, prioritas bisnis telah bergeser ke bagaimana AI mampu mendorong peningkatan pendapatan dan profitabilitas,” ujar Thomas.

Data CIO Playbook 2026 menunjukkan faktor peningkatan pendapatan melonjak tujuh peringkat dan kini menempati posisi teratas dalam prioritas bisnis. Ini menandai berakhirnya fase eksperimen AI. Perusahaan mulai menuntut dampak bisnis terukur.

Prioritas kedua adalah reinvensi bisnis berbasis AI. Transformasi ini menuntut perubahan budaya organisasi serta peningkatan pelatihan karyawan. Model AI kini dibawa langsung ke lingkungan kerja, sehingga karyawan dituntut mampu memahami dan mengintegrasikan proses berbasis AI ke dalam aktivitas sehari-hari.

Sementara itu, prioritas ketiga adalah peningkatan pengalaman dan kepuasan. Pada 2026 fokus AI didominasi oleh pendekatan berbasis hasil (outcome-based), yang mengisi tiga posisi teratas dalam strategi perusahaan.

Lenovo juga mengungkap bahwa 96% perusahaan berencana meningkatkan investasi AI pada 2026. Investasi tersebut mencakup pengembangan AI generatif, agen AI, komputasi cloud publik, layanan AI, infrastruktur AI on-premise, serta aspek keamanan, kepercayaan, dan transparansi AI.

“Kini, perusahaan tidak hanya melihat pengembalian investasi secara langsung dari AI, tetapi juga peningkatan layanan pelanggan, keterlibatan karyawan yang lebih tinggi, serta pengambilan keputusan yang semakin baik,” terang Thomas.

Lonjakan Implementasi AI

Data Lenovo menunjukkan lonjakan signifikan dalam tahap adopsi AI. Dari 2025 ke 2026, tahap implementasi dan uji coba AI meningkat menjadi 66 persen.

Adopsi AI tidak lagi terbatas pada fungsi IT seperti analitik data, keamanan siber dan pengembangan perangkat lunak, tetapi juga mengarah ke fungsi non-IT.

“Di internal Lenovo sendiri, kami telah memanfaatkan AI dalam rantai pasok dan perencanaan logistik,” ujar Thomas.

Dalam skala yang lebih luas, Lenovo mengidentifikasi sejumlah faktor kunci keberhasilan penerapan AI. Beberapa diantaranya yaitu:

  1. Peningkatan kapabilitas dan keterampilan SDM, termasuk pergeseran dari pendekatan machine learning ke prompt engineering.
  2. Kesiapan infrastruktur, komputasi edge, dan perangkat yang mampu menangani beban kerja AI.
  3. Kolaborasi efektif antara manusia dan AI, yang menuntut pelatihan berkelanjutan agar karyawan mampu menafsirkan hasil AI secara tepat.
  4. Aspek keamanan dan privasi data menjadi faktor paling krusial dalam penerapan AI di lingkungan perusahaan.

“Jika melihat keseluruhan faktor tersebut, inilah alasan mengapa terjadi pergeseran menuju penerapan AI berbasis hibrida. Saat ini, hampir 90 persen organisasi menyatakan lebih memilih atau tengah beralih ke model penerapan AI hibrida,” ungkap Thomas.

Penerapan AI Hybrid

Penerapan AI Hybrid turut dipengaruhi oleh tingginya biaya pengelolaan data di cloud, serta kekhawatiran terkait keamanan dan privasi data.

Kondisi ini secara langsung membatasi perusahaan untuk mengimplementasikan AI di lingkungan cloud. Maka, data diproses di perangkat lokal dan edge akan dikombinasikan dengan kemampuan cloud. Sehingga pendekatan hybrid menjadi standar baru dalam penerapan AI di lingkungan perusahaan.

Sejalan dengan hal ini, prioritas investasi TI pun bergeser ke arah penerapan perangkay AI guna meningkatkan produktivitas dan mendukung proses inferensi AI secara lokal. Perangkat-perangkat yang kini dibawa Lenovo ke pasar telah memiliki kapabilitas AI. Artinya, perangkat tersebut memiliki kemampuan dan kinerja yang diperlukan untuk menjalankan model AI secara lokal di sisi edge .

Banner Infografis 4 Rekomendasi Chatbot AI Terbaik. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Banner Infografis 4 Rekomendasi Chatbot AI Terbaik. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya