HSBC Prediksi Bank Indonesia Longgarkan Suku Bunga Sepanjang 2026

HSBC menilai Indonesia saat ini memiliki ruang lebih luas dalam kebijakan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Langkah dilakukan dengan memangkas suku bunga.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 12 Januari 2026, 20:00 WIB
Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Managing Director sekaligus Chief India Economist and Macro Strategist serta ASEAN Economist HSBC Global, Pranjul Bhandari, memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan menurunkan suku bunga. Diperkirakan total pemangkasan suku bunga sebesar 75 basis poin (bps) sepanjang 2026.

Penurunan suku bunga tersebut diproyeksikan berlangsung secara bertahap dalam tiga tahap, masing-masing pada kuartal I, kuartal II, dan kuartal III tahun 2026.

"Perkiraan kami adalah kita dapat melihat tiga pemangkasan suku bunga (BI) lagi, pada dasarnya berjumlah 75 basis poin hingga tahun 2026 seiring berjalannya tahun,” ujar Pranjul dalam acara Outlook Makro Ekonomi dan Prospek Investasi Indonesia 2026 di Jakarta, Senin (12/1/2026)

Ia menilai, dibandingkan kebijakan fiskal, Indonesia saat ini masih memiliki ruang yang lebih luas dalam kebijakan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, salah satunya melalui penurunan suku bunga acuan.

“Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kesempatan untuk melakukan lebih banyak pelonggaran kebijakan moneter, pemotongan suku bunga saat ini, daripada melakukan lebih banyak pelonggaran fiskal saat ini,” ujar Pranjul.

Pranjul menekankan, pentingnya kehati-hatian bank sentral dalam menentukan waktu pemangkasan suku bunga. Salah satu momentum yang dinilai tepat adalah ketika indeks dolar Amerika Serikat (AS) berada dalam tren pelemahan.

Sementara dari sisi fiskal, ia menilai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan fiskal saat ini memiliki risiko yang lebih tinggi, seiring defisit fiskal Indonesia yang mencapai 2,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) per Desember 2025.

Meski demikian, ia menilai pelebaran defisit fiskal tersebut tidak menjadi persoalan besar, terutama dengan adanya potensi pemulihan ekonomi global pada 2026.

“Menurut saya, pemerintah sebenarnya tidak perlu mengkhawatirkan hal itu (defisit), dan tetap dapat melanjutkan banyak pengeluaran, terutama dalam skema makanan gratis dan skema kesejahteraan sosial, hanya karena menurut saya pendapatan pajak akan sedikit lebih baik tahun ini,” ujar Pranjul.

Dalam kesempatan tersebut, Pranjul kembali menegaskan bahwa ruang kebijakan moneter Indonesia masih relatif lebih longgar dibandingkan kebijakan fiskal.

 

 

Pangkas Suku Bunga Acuan, Gubernur BI Kasih Beberapa Syarat

Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan penjelasan kepada wartawan di Jakarta, Kamis (20/6/2019). RDG Bank Indonesia 19-20 Juni 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI7DRR sebesar 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo masih membuka kemungkinan terkait penurunan suku bunga acuan di akhir 2025 ini. Menurut dia, pemangkasan BI rate bakal dilakukan jika beberapa syarat telah terpenuhi.

Pertama, bank sentral bakal menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate jika tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional dalam kondisi terkendali.

"Ada ruang penurunan BI rate ke depan. Kapan dan besarnya itulah yang kami pertimbangkan, adalah seberapa besar inflasi ke depan yang terkendali dan ruang pertumbuhan ekonomi," kata Perry dalam konferensi pers hasil rapat KSSK di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Senin (3/11/2025).

Namun yang terpenting, ia menekankan soal efektivitas transmisi kebijakan moneter kepada pihak perbankan, utamanya soal penurunan suku bunga kredit.

"BI akan terus mencermati efektivitas transmisi kebijakan moneter longgar yang ditempuh. Bagaimana ini diikuti dengan perkembangan Deposit Facility dan Lending Facility," bebernya.

"Bagaimana kelonggaran dari ekspansi moneter, termasuk juga tambahan dana Rp 200 triliun dari Pak Menteri Keuangan, mendorong kredit dan juga pertumbuhan ekonomi," dia menambahkan.

 

 

Fokus Minta Bunga Kredit Turun

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan November 2023, dikutip Kamis (23/11/2023).

Adapun Gubernur Bank Indonesia telah berulang kali menuturkan, bank sentral masih membuka opsi penurunan suku bunga acuan lanjutan ke depan. Meskipun Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21-22 Oktober 2025 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 4,75 persen.

Pery sebelumnya mengatakan, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak 6 kali. Oleh karenanya, pihak bank sentral saat ini fokus untuk memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter kepada pihak perbankan, utamanya soal penurunan suku bunga kredit kredit.

"Penurunan suku bunga BI rate telah diikuti penurunan suku bunga di pasar uang. Bahkan suku bunga yield imbal hasil SBN juga sudah turun," ujar Perry dalam sesi konferensi pers hasil RDG BI Oktober 2025 lalu.

 

DPK dan Bunga Kredit Masih Lambat

Teller menunjukkan mata uang rupiah di bank, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi terhadap dolar Amerika Serikat sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia dan mekanisme pasar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

"Isunya, masalahnya adalah bagaimana suku bunga dana pihak ketiga dan suku bunga kredit yang turunnya masih berjalan lambat. Itu yang kami terus dorong. Tentu saja agar suku bunga kredit bisa turun dan mendorong pertumbuhan ekonomi," bebernya.

Sehingga, Bos BI memandang ruang penurunan suku bunga ke depan masih terbuka lebar. Dengan dasar pertimbangan, bahwa inflasi 2025-2026 masih rendah.

"Terutama inflasi inti yang rendah dan terkendali di kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen. Oleh karenanya terbuka ruang penurunan suku bunga," imbuhnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya