Puan Dorong Kader PDIP Kritis, Cerdas, dan Solutif sebagai Partai Penyeimbang

Puan menjelaskan, sikap kritis berarti memiliki analisis yang tajam, berbasis regulasi, berdasarkan data, fokus pada substansi, serta tidak menyerang aspek personal.

oleh Wuri AnggariniDiterbitkan 12 Januari 2026, 18:35 WIB
Ketua Bidang Politik PDI Perjuangan Puan Maharani. Foto: Istimewa

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Bidang Politik PDI Perjuangan Puan Maharani memberikan penjelasan praktis kepada ribuan kader Banteng mengenai peran partai sebagai penyeimbang. Menurut Puan, sikap politik sebagai partai penyeimbang harus dijalankan secara kritis, cerdas, solutif, dan berorientasi pada kerakyatan.

Puan menjelaskan, sikap kritis berarti memiliki analisis yang tajam, berbasis regulasi, berdasarkan data, fokus pada substansi, serta tidak menyerang aspek personal.

“Kritis juga berarti kita berpikiran terbuka dan objektif. Kita juga harus tahu, apakah permasalahan saat ini juga disebabkan oleh kekuasaan yang kita miliki di masa lalu? Sehingga kita harus bijaksana dalam menyampaikan kritik,” kata Puan.

Hal tersebut disampaikan Puan dalam materi bertajuk ‘Kebijakan dan Strategi Politik Partai Penyeimbang’ pada Rakernas I sekaligus perayaan HUT ke-53 PDI Perjuangan yang digelar di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta Utara, Minggu (11/1/2026).

“Kritis tidak berarti selalu menolak apa yang disampaikan pemerintah. Kita mendukung yang baik dan mengkoreksi serta menyempurnakan yang tidak baik,” tegas Ketua DPR perempuan pertama ini.

Lebih lanjut, Puan menjelaskan bahwa sikap cerdas berarti kemampuan menempatkan dan memperjuangkan kepentingan secara efektif, rasional, dan bermartabat, bahkan di tengah situasi politik yang tidak kondusif. Menurutnya, kecerdasan politik tidak ditunjukkan melalui reaksi emosional atau konfrontasi tanpa arah.

“Melainkan melalui ketepatan membaca situasi, kecermatan memilih strategi, serta konsistensi dalam menjaga tujuan. Sebagai Partai Penyeimbang maka kecerdasan adalah kemampuan mengubah keterbatasan menjadi daya tawar, tekanan menjadi peluang, dan perbedaan menjadi penyeimbang,” paparnya.

Ketua DPR RI ini kemudian memberi contoh konkret di DPR RI. “Di DPR RI, satu Fraksi PDI Perjuangan berhadapan dengan tujuh Fraksi lainnya. Tanpa kehadiran Fraksi PDI Perjuangan, setiap Rapat dapat menjadi sah. Dalam kondisi seperti ini, kita harus cerdas menjaga posisi Fraksi agar tetap diperhitungkan,” ujarnya.

Kritik Harus Disertai Solusi dan Keberpihakan pada Rakyat

Ketua Bidang Politik PDI Perjuangan Puan Maharani. Foto: Istimewa

Sebagai Partai Penyeimbang, kata Puan, keberadaan PDI Perjuangan akan bermakna apabila berpijak pada dukungan dan keberpihakan yang nyata kepada kepentingan rakyat.

“Tanpa orientasi tersebut, peran penyeimbang akan kehilangan arah dan menjadikan partai sibuk mengurus kepentingannya sendiri, terjebak pada manuver internal yang terpisah dari kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Puan menegaskan, tujuan kerakyatan ini yang harus selalu diingat para kader PDI Perjuangan agar saat ada permasalahan rakyat yang dihadapi, “maka akan fokus kepada solusi dan bukan hanya sibuk berbunyi.”

“Ini penting agar kita tidak terjebak pada ambisi, tidak terjebak pada emosi pribadi, melainkan kita Insya Allah bisa terus menjalankan posisi penyeimbang yang berdasarkan pada ideologi dan berorientasi pada solusi atas persoalan yang dihadapi rakyat Indonesia,” ujarnya.

Hal ini, kata Puan, seperti yang kita lakukan dengan membantu para korban bencana di Sumatera.

“Di situ kita langsung bergerak, dan bukan hanya berteriak. Seperti yang Ibu Ketu aUmum sampaikan bahwa membantu korban bencana adalah urusan kemanusiaan, bukan urusan politik,” tegas cucu Bung Karno ini.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya