Liputan6.com, Jakarta - Viktor Gyokeres datang ke Arsenal dengan ekspektasi besar. Klub London Utara itu rela menggelontorkan dana hingga 64 juta poundsterling demi mendatangkan penyerang asal Swedia tersebut pada bursa transfer musim panas lalu. Ia digadang-gadang sebagai kepingan terakhir yang akan menyempurnakan ambisi juara The Gunners.
Namun, seiring Arsenal melaju kencang dan kini unggul enam poin di puncak klasemen Liga Inggris, kontribusi Gyokeres justru nyaris tak terasa. Penyerang berusia 27 tahun itu lebih sering menjadi penumpang dalam laju impresif tim asuhan Mikel Arteta.
Advertisement
Secara statistik, performa Gyokeres bahkan tergolong mengecewakan. Dari 15 penampilan terakhirnya di Premier League, ia hanya mampu mencetak satu gol dari situasi open play. Angka tersebut jelas jauh dari standar striker utama klub papan atas.
Data Opta menunjukkan bahwa masalah Gyokeres tidak hanya soal ketajaman. Meski memiliki postur menjulang dengan tinggi sekitar 188 cm, ia tidak dominan dalam duel fisik.
Rata-rata duel suksesnya hanya 3,06 per laga, menempatkannya di peringkat ke-46 dari 53 penyerang Premier League yang telah bermain minimal 800 menit musim ini.
Buruknya Statistik Gyokeres
Kemampuan duel udara pun tak terlalu membantu. Gyokeres hanya mencatatkan 1,32 duel udara sukses per pertandingan, membuatnya berada di posisi ke-24 dalam kategori tersebut. Ironisnya, sepanjang musim terakhir bersama Sporting Lisbon, ia bahkan tak mencetak satu gol pun lewat sundulan kepala.
Sebagai penyerang tengah, Gyokeres juga dinilai kurang efektif dalam membangun permainan. Hingga kini, ia belum mencatatkan satu assist pun di semua kompetisi. Rata-rata sentuhan bolanya hanya 24,38 per laga, terburuk ketiga di antara para striker Premier League.
Menariknya, Gyokeres justru cukup sering berada di kotak penalti lawan dengan rata-rata 6,25 sentuhan per pertandingan, angka yang menempatkannya di posisi ketujuh. Sayangnya, keberadaan tersebut tidak berbuah gol maupun assist.
Dalam laga kontra Liverpool tengah pekan lalu, kontribusinya semakin dipertanyakan. Ia hanya menyentuh bola delapan kali sepanjang pertandingan, termasuk saat kick-off.
Statistik umpannya pun tak jauh berbeda, dengan rata-rata 6,74 operan sukses per laga, kembali menempatkannya di papan bawah daftar striker.