Mobil Listrik Tak Lagi Jadi Pilihan Warga Singapura

Meski penjualan mobil listrik melonjak pada 2025 dengan BYD sebagai primadona, tetapi kekhawatiran masih menghantui pemilik mobil listrik terkait biaya dan kualitas pengisian daya.

oleh Azkal Azkia NurrohmatDiterbitkan 13 Januari 2026, 17:11 WIB
Resmi Digelar, Singapore Motorshow 2025 jadi Panggung Mobil Hybrid dan Listrik Terkini (ist)

Liputan6.com, Jakarta - Dalam sebuah survei yang dilakukan Mobility Consumer Index (MCI) EY 2025, menyebutkan sebanyak 32 persen responden berencana membeli kendaraan berbasis mesin pembakaran internal (ICE) dalam dua tahun ke depan di Singapura

Hal tersebut didasarkan atas kekhawatiran masyarakat Singapura atas infrastruktur pengisian daya EV dan biaya lain yang menghantui.

Dilansir dari Businesstimes, Pemimpin Industri EY-Parthenon Sriram Changali, mengungkapkan masyarakat pembeli mobil listrik di Singapura mempertimbangkan kembali pilihan mereka. 

“Meskipun hasil MCI tahun lalu mencerminkan optimisme yang kuat seputar pembelian kendaraan listrik, survei tahun ini mengungkapkan bahwa pembeli mobil di Singapura mempertimbangkan kembali pilihan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE),” ujar Sriram. 

Antusiasme yang menurun menunjukkan sebuah pandangan masyarakat yang lebih hati-hati dan praktis terhadap kepemilikan. 

Pergeseran mobil berbahan bakar listrik ke bensin ini mencerminkan tren global di mana para pengemudi kembali ke mesin bensin yang sudah familiar. Meskipun data penjualan 2025 menunjukkan angka registrasi kendaraan listrik yang tinggi. 

Singapura dikenal dengan pasar otomotif terkemuka di Asia Tenggara untuk kendaraan listrik. Meski begitu, kepercayaan konsumen akan kendaraan listrik masih kurang karena kekhawatiran praktis, khususnya pada jaringan pengisian daya dan harga pengganti baterai. 

Terlepas dari meredanya sentimen pasar, Singapura tetap menjadi pemimpin regional dalam hal adopsi.

Dalam laporan terpisah tahun 2025, distributor otomotif global Inchcape mencatat bahwa Republik Singapura menempati peringkat tinggi di Asia Tenggara untuk adopsi kendaraan energi baru (NEV). 

Kendaraan Listrik Masih Mendominasi, Tetapi Tidak dengan Tren

BYD, produsen otomotif asal Tiongkok menjadi yang terlaris di Singapura pada Mei 2025, mengalahkan raksasa otomotif lainnya, seperti Toyota untuk pertama kalinya. 

Pangsa pasarnya melonjak di angka 19,7 persen dalam sembilan bulan pertama 2025. Namun demikian, pada bulan Juli lalu mereka meluncurkan mobil bermesin bensin di Singapura untuk pertama kalinya.

Kendaraan listrik di Singapura mencakup 43 persen dari pendaftaran mobil baru selama sembilan bulan pertama tahun 2025.

Sebagai perbandingan, Kendaraan listrik hanya menyumbang 33,8 persen dari penjualan mobil baru sepanjang 2024 dan 18,2 persen pada 2023.

Di sisi lain, proyeksi periode transisi yang terkelola dengan mobil berbahan bakar bensin akan tetap digunakan.

Hal tersebut menandakan, meski kendaraan listrik melonjak, Pemerintah Singapura hanya akan mengizinkan kendaraan “energi bersih” untuk pendaftaran mobil baru di 2030. 

Kesenjangan infrastruktur pengisian daya pun juga disorot di Singapura karena kualitas, meski pemerintah memperluas stasiun pengisian daya. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya