Selain Suku Bunga, Analis Ingatkan Investor Waspadai Dolar AS

Analis menuturkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga ketimbang laba emiten.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 12 Januari 2026, 15:00 WIB
Pengunjung melintas di papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/4/2020). Pergerakan IHSG berakhir turun tajam 1,71% atau 80,59 poin ke level 4.625,9 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman, mengatakan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun ini diperkirakan akan lebih banyak dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga dibandingkan kinerja laba emiten. Selain itu, ia juga mengingatkan untuk tetap mewaspadai dolar Amerika Serikat (AS).

Menurut dia, sensitivitas pasar saham terhadap perubahan suku bunga dinilai masih menjadi faktor dominan di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.

Ia menilai, meskipun tren laba perusahaan mulai menunjukkan perbaikan, investor masih cenderung merespons lebih agresif terhadap perubahan suku bunga acuan.

"Sebenarnya IHSG itu justru ternyata lebih sensitif terhadap perubahan rate dibanding perubahan earning," kata Fanny dalam Morning Investview, Senin (12/1/2025).

Ia menambahkan, meskipun laporan keuangan emiten belakangan menunjukkan perbaikan secara bertahap, sentimen tersebut kerap tertutup oleh kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan suku bunga global dan domestik.

"Jadi, kalau secara earning belakangan mulai membaik, ternyata IHSG kita itu lebih sensitif terhadap perubahan rate," tegasnya.

Dia menilai, kondisi ini membuat kebijakan moneter, baik global maupun domestik, menjadi sentimen utama yang menentukan arah IHSG dalam jangka menengah.

Arah Kebijakan The Fed dan Bank Indonesia

Dari sisi global, kebijakan The Fed menjadi faktor yang paling diperhatikan. Fanny menyebutkan, bank sentral Amerika Serikat diproyeksikan masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga hingga 100 basis poin, meskipun konsensus pasar memperkirakan pemangkasan yang lebih terbatas di kisaran 50 basis poin.

"Kalau kita lihat dari potensi the fed, the fed itu diproyeksikan masih bisa potensi cut rate 100 bps tahun ini, walaupun konsensus ini memprediksi 50 bps saja untuk cut rate nya," ujarnya.

Sementara itu, dari dalam negeri, Bank Indonesia juga diperkirakan berpotensi melakukan cut rate sekitar 25 hingga 50 basis poin sepanjang tahun ini. Arah kebijakan kedua bank sentral tersebut dinilai akan sangat menentukan pergerakan IHSG.

Dolar AS Tetap Perlu Diwaspadai

Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Selain suku bunga, faktor eksternal lain yang turut memengaruhi IHSG adalah pergerakan dolar AS. Fanny mengungkapkan, IHSG memiliki korelasi negatif dengan DXY, di mana pelemahan dolar AS umumnya diikuti oleh penguatan pasar saham domestik.

Saat ini, DXY dinilai memiliki potensi melemah akibat kekhawatiran terhadap rasio utang terhadap PDB Amerika Serikat serta defisit anggaran yang masih tinggi. Kondisi tersebut dapat menjadi sentimen positif bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

"IHSG itu punya korelasi negatif dengan DXY. Jadi, kalau misalkan DXY atau dollarnya melemah biasanya itu diikuti dengan kenaikan IHSG. Posisi sekarang DXY potensi melemah, kenapa? Karena ada ke khawatiran debt to GDP nya US dan ada US budget defisit, itu yang masih menjadi ke khawatirkan," pungkasnya.

Penutupan IHSG pada 9 Januari 2026

Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona hijau pada perdagangan saham Jumat, (9/1/2026). IHSG hari ini menguat terbatas di tengah kenaikan sektor saham siklikal dan transaksi harian saham sentuh Rp 27,5 triliun.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup naik 0,13% ke posisi 8.936,75. Indeks saham LQ45 menguat 0,05% ke posisi 868,02. Sebagian besar indeks saham acuan memerah.

Pada perdagangan Jumat pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 8.981,02 dan level terendah 8.908,17. Sebanyak 359 saham menguat sehingga angkat IHSG. 318 saham melemah dan 137 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 3.468.511 kali dengan volume perdagangan 57 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 27,5 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.816.

Dari 11 sektor saham, tiga sektor saham melemah. Sektor saham infrastruktur merosot 1,08%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham keuangan turun 1,07%, dan sektor saham teknologi merosot 0,43%.

Sektor saham consumer siklikal melambung 3,3%, dan catat kenaikan terbesar. Sektor saham properti menguat 2,39% dan sektor saham basic naik 2,38%. Lalu sektor saham energi mendaki 0,99%, sektor saham industri menanjak 0,12%, sektor saham consumer nonsiklikal bertambah 0,29%. Lalu sektor kesehatan menanjak 1,31% dan sektor saham transportasi bertambah 0,67%.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya