Emas Cetak Rekor Sepanjang 2025, World Gold Council Ungkap Prospek 2026

Emas melonjak 67% sepanjang 2025 dan mencetak rekor tertinggi, World Gold Council ungkap prospeknya ke 2026.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 09 Januari 2026, 14:15 WIB
Memasuki 2026, pasar emas akan mencermati sejumlah faktor kebijakan. Di antaranya adalah putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat terkait tarif. Ilustrasi harga emas dunia (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Emas mencatat kinerja luar biasa sepanjang 2025. World Gold Council (WGC) dalam laporan terbaru Gold Market Commentary menyoroti lonjakan harga emas yang mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, sekaligus mengulas faktor-faktor utama yang membentuk dinamika pasar menjelang 2026.

Dikutip dari laporan tersebut, Jumat (9/1/2026), sepanjang 2025, emas membukukan imbal hasil tahunan mencapai 67 persen. Harga logam mulia ini bahkan menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di level USD 4.449 per troy ons pada Desember. Menariknya, rekor tersebut tercapai di hampir seluruh mata uang utama dunia, meski besaran imbal hasil tahunan bervariasi akibat fluktuasi nilai tukar.

World Gold Council menilai pencapaian ini menegaskan posisi emas sebagai aset lindung nilai atau safe haven yang semakin diminati. Jika sebelumnya dolar AS kerap menjadi pilihan utama investor saat risiko geopolitik meningkat, sepanjang 2025 peran tersebut mulai bergeser.

Ketegangan global dan ketidakpastian kebijakan, termasuk perkembangan geopolitik yang masih berlangsung di Venezuela, mendorong investor beralih ke emas sebagai instrumen perlindungan nilai. Kondisi ini membuat permintaan emas tetap solid, baik dari investor institusi maupun ritel, sekaligus menopang harga di level tinggi.

 

Permintaan Struktural

Ilustrasi harga emas hari ini (dok: Foto AI)

Selain faktor geopolitik, penguatan harga emas juga ditopang oleh permintaan struktural yang kuat. World Gold Council mencatat pembelian emas oleh bank sentral masih berlanjut, mencerminkan peran emas sebagai aset strategis dalam diversifikasi cadangan devisa.

Permintaan jangka panjang ini dinilai memberikan fondasi yang kokoh bagi ketahanan emas memasuki 2026. Di sisi lain, emas juga semakin dipandang sebagai instrumen penting dalam diversifikasi portofolio, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Memasuki 2026, pasar emas akan mencermati sejumlah faktor kebijakan. Di antaranya adalah putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat terkait tarif, serta potensi perubahan ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga Federal Reserve (The Fed).

WGC juga menyoroti penyesuaian di pasar logam mulia lainnya. Seiring meredanya tekanan pasokan pada perak dan platinum, emas diperkirakan kian menegaskan perannya, didukung likuiditas pasar yang lebih dalam dan fungsinya sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya