Target 5 Hari Sudin Lingkungan Hidup Jaktim Atasi Lonjakan Sampah Pasar Induk Kramat Jati

Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur (Sudin LH Jaktim) menargetkan timbulan sampah di Pasar Induk Kramat Jati dapat dituntaskan dalam waktu lima hari.

oleh Devira PrastiwiDiterbitkan 09 Januari 2026, 10:55 WIB
Personel dan armada truk dari jajaran Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengangkut tumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. (Antara)

Liputan6.com, Jakarta - Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur (Sudin LH Jaktim) menargetkan timbulan sampah di Pasar Induk Kramat Jati dapat dituntaskan dalam waktu lima hari.

"Untuk mengatasi kondisi tersebut, Sudin LH Jakarta Timur menargetkan penanganan perbantuan dapat dituntaskan dalam lima hari ke depan," ujar Kepala Sudin LH Jakarta Timur Julius Monangta di Jakarta, melansir Antara, Jumat (9/1/2026).

Dia menyebut, langkah itu diambil menyusul meningkatnya volume sampah secara signifikan selama musim buah yang menyebabkan penumpukan di sejumlah titik kawasan pasar tersebut.

"Sebanyak 25 armada perbantuan dikerahkan untuk melakukan penanganan sampah secara intensif sehingga akumulasi sampah tidak mengganggu aktivitas pasar dan lingkungan sekitar," ucap Julius.

Menurut dia, penanganan sampah di Pasar Induk Kramat Jati sejatinya dilakukan setiap hari. Namun, kata Julius, pada periode tertentu, terutama saat musim buah, volume sampah meningkat signifikan dan melampaui kapasitas penanganan rutin.

"Saat ini, kemampuan penanganan sampah di kawasan tersebut sekitar 160 ton per hari. Sementara pada musim tertentu, timbulan sampah bisa mencapai hingga 220 ton per hari. Artinya, terjadi akumulasi atau 'tabungan' sampah sekitar 60 ton setiap harinya," terang dia.

Selain itu, Julius menjelaskan, armada pengangkut sampah diprioritaskan untuk melakukan dua rit pengangkutan per hari menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang agar tumpukan sampah dapat segera terurai.

"Dalam pelaksanaan perbantuan itu, Sudin LH Jakarta Timur mengerahkan 23 pengemudi, dua operator alat berat, serta empat pengawas lapangan," papar Julius.

 

Proses Pengangkutan Sampah

Tumpukan sampah yang membludak ke jalan akibat TPS tidak dapat menampung sampah di TPS Bhakti Jaya, Sukmajaya, Depok. (Liputan6.com/Dicky Agung Prihanto)

Selain itu, menurut Julius, proses pengangkutan sampah juga melibatkan 13 unit kendaraan berat (dump truck), 10 unit tronton, dan dua unit sekop (shovel loader) guna mempercepat proses pemindahan dan pengangkutan sampah di area pasar.

Pengangkutan sampah itu sebagaimana Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah dan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 102 Tahun 2021 tentang Kewajiban Pengelolaan Sampah di Kawasan dan Perusahaan, kawasan komersial.

"Termasuk pasar, memiliki kewajiban untuk mengelola sampah secara mandiri, baik melalui pengelolaan internal maupun kerja sama dengan pihak ketiga," ucap Julius.

Saat ini, lanjut dia, Sudin LH Jakarta Timur melakukan perbantuan karena Pasar Induk Kramat Jati merupakan fasilitas publik yang strategis. Namun, kewajiban pengelolaan sampah secara mandiri tetap harus dijalankan oleh Perumda Pasar Jaya sesuai ketentuan yang berlaku.

Sebelumnya, pengelola Pasar Induk Kramat Jati menjelaskan penyebab terjadinya penumpukan sampah di area belakang pasar yang dipicu keterbatasan jumlah armada pengangkut yang tersedia.

"Kondisi yang terjadi sekarang ini memang idealnya dari 120 ton sampah yang ada, kita butuh setiap harinya itu 12 sampai dengan 15 armada. Namun demikian, maksimal yang bisa dilakukan oleh Sudin LH itu hanya sekitar delapan armada," kata Manager Pasar Induk Kramat Jati Agus Lamun di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis 8 Januari 2026.

 

Banyaknya Volume Sampah

Besi Penghalang Sampah Pandawara Dicuri. (dok. Tangkapan layar Instagram @pandawaragroup/https://www.instagram.com/reel/DSm3JFUD6Dc/?igsh=NGt3azFubWgzdDYy

Agus menyebutkan tingginya volume sampah harian itu tidak sebanding dengan jumlah armada pengangkut yang tersedia. Setiap hari, Pasar Induk Kramat Jati menghasilkan sampah dalam jumlah besar, yakni berkisar antara 120 hingga 150 ton.

"Volume tersebut berasal dari aktivitas perdagangan yang berlangsung selama hampir 24 jam, mulai dari lapak pedagang hingga area bongkar muat," kata Agus.

Setelah sampah dikumpulkan di Tempat Penampungan Sementara (TPS), pihak pengelola pasar kemudian berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta untuk proses pengangkutan ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.

"Sayangnya, keterbatasan jumlah armada menjadi kendala utama dalam proses tersebut," ucap Agus.

Menurut Agus, idealnya diperlukan sekitar 12 hingga 15 armada pengangkut sampah setiap hari untuk mengangkut seluruh sampah yang dihasilkan Pasar Induk Kramat Jati.

"Namun pada praktiknya, jumlah armada yang dapat disediakan oleh Sudin LH Jakarta Timur hanya sekitar delapan unit per hari. Keterbatasan armada tersebut mengakibatkan tidak seluruh sampah dapat terangkut setiap hari," jelas Agus.

Infografis Cara hingga Titik Buang Sampah Besar Gratis Pemprov DKI Jakarta. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya