Definsi DNA Manchester United yang Kembali Diperdebatkan Usai Ruben Amorim Dipecat

Pemecatan Ruben Amorim kembali memunculkan istilah DNA Manchester United. Apa maknanya dan mengapa konsep ini selalu muncul saat klub berada dalam krisis?

oleh Asad ArifinDiterbitkan 08 Januari 2026, 22:35 WIB
Pemain Manchester United, Diogo Dalot, Matheus Cunha, dan Benjamin Sesko, berdiri di lapangan dengan ekspresi kecewa usai laga Premier League/Liga Inggris antara Man Utd vs Wolves di Manchester, Inggris, Selasa, 30 Desember 2025. (AP Photo/Dave Thompson)

Liputan6.com, Jakarta - Pemecatan Ruben Amorim dari kursi manajer Manchester United bukan hanya soal hasil di lapangan. Keputusan itu kembali membuka perdebatan lama tentang arah klub dan identitas permainan Setan Merah.

Dalam situasi transisi, satu istilah kembali mengemuka: DNA Manchester United. Sebuah frasa yang kerap muncul ketika klub berada dalam fase sulit dan mencari pegangan filosofis.

Banyak pihak menilai kegagalan Amorim tidak semata soal taktik. Ada jarak antara pendekatannya dengan nilai-nilai yang dianggap melekat pada sejarah panjang klub.

Pencarian manajer baru pun tidak lagi sekadar berbicara soal rekam jejak. United kini dituntut menemukan sosok yang diyakini mampu menghidupkan kembali DNA mereka.


Apa yang Dimaksud DNA Manchester United?

Pemain Manchester United, Benjamin Sesko, mencetak gol dalam pertandingan Liga Inggris melawan Burnley di Turf Moor, Inggris, Kamis (8/1/2026). (AP Photo/Ian Hodgson)

Istilah DNA Manchester United merujuk pada gaya bermain dan nilai historis yang dibangun sejak era Sir Matt Busby dan dipertegas di bawah Sir Alex Ferguson. Sepak bola cepat, menyerang, agresif, dan menghibur menjadi fondasi utamanya.

Gary Neville menegaskan pandangan tersebut saat membahas arah klub usai Amorim pergi. Ia berkata kepada Sky Sports penting bagi klub punya gaya bermain yang jelas dan harus jadi pedoman.

"Barcelona tidak akan pernah berubah untuk siapa pun. Saya tidak percaya Manchester United juga harus berubah untuk siapa pun," kata Neville kepada Sky Sports.

"Klub harus menemukan manajer yang berpengalaman dan bersedia memainkan sepak bola cepat, menghibur, menyerang, dan agresif," tegas sang mantan kapten.


Mengapa DNA Selalu Muncul Saat Krisis?

Pemain Burnley, Lucas Pires (kiri), dan pemain Manchester United, Matheus Cunha, saling berebut bola dalam pertandingan Liga Inggris di Turf Moor, Inggris, Kamis (8/1/2026). (AP Photo/Ian Hodgson)

Seruan kembali ke DNA hampir selalu terdengar ketika Manchester United berada dalam tekanan. Konsep ini menjadi semacam jangkar emosional, mengingatkan pada masa kejayaan dan stabilitas yang pernah ada.

Fenomena serupa juga terjadi di klub lain. Mantan striker Liverpool, John Aldridge, menulis di X setelah hasil imbang tanpa gol melawan Leeds United yang jadi laga terakhir Ruben Amorim.

"Itu seperti kita telah kehilangan DNA kita. Tidak ada dorongan, keinginan, dan kurangnya gagasan," tulis John Aldridge.

Di United, pemilik minoritas Sir Jim Ratcliffe dan jajaran manajemen terlihat mempertimbangkan faktor sejarah. Darren Fletcher ditunjuk sebagai karteker, sementara Ole Gunnar Solskjaer dan Michael Carrick masuk dalam radar manajer sementara.

Di sisi lain, Amorim sempat menyinggung kuatnya bayang-bayang masa lalu di Old Trafford. Amorim merasa klub sangat sensitif ketika dapat kritik dari legenda klub seperti Gary Neville.

Sumber: BBC Spoort

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya