Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan induk usaha Google, Alphabet mencatatkan kapitalisasi pasar yang melampaui Apple untuk pertama kali sejak 2019. Kenaikan kapitalisasi pasar itu seiring harga saham Alphabet melonjak lebih dari 2%.
Mengutip CNBC, Kamis (8/1/2026), kapitalisasi pasar Alphabet ditutup di USD 3,88 triliun atau Rp 65.052 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 16.770). Saham Alphabet naik lebih dari 2% pada Rabu pekan ini, ditutup pada harga USD 322,03. Sementara itu, kapitalisasi pasar Apple ditutup di posisi USD 3,84 triliun atau Rp 64.381 triliun. Saham Apple merosot lebih dari 4% selama lima hari terakhir.
Advertisement
Perbedaan arah kapitalisasi pasar ini menggarisbawahi arah yang berbeda yang dituju Alphabet dan Apple dalam hal strategi masing-masing untuk kecerdasan buatan.
Alphabet mengakhiri 2025 sebagai salah satu perusahaan dengan kinerja terbaik di Wall Street setelah menyusun strategi untuk kebangkitan artificial intelligence (AI)-nya atau kecerdasan buatannya. Pada November, perusahaan tersebut meluncurkan Ironwood, generasi ketujuh dari unit pemrosesan tensornya, sebuah chip AI khusus yang muncul sebagai alternatif potensial untuk penawaran Nvidia. Kemudian pada bulan Desember, Google memperkenalkan Gemini 3 yang mendapat ulasan positif.
Saham Alphabet melonjak 65% pada 2025, reli paling tajam perusahaan sejak 2009, ketika sahamnya berlipat ganda setelah krisis keuangan.
CEO Sundar Pichai berulang kali mengatakan perusahaan menanggapi permintaan yang melonjak. Dalam konferensi kinerja keuangan Alphabet Oktober, ia mengatakan bisnis cloud Google menandatangani lebih banyak kesepakatan di atas USD 1 miliar atau Rp 16,7 triliun pada 2025 hingga kuartal ketiga tahun ini daripada gabungan dua tahun sebelumnya.
Sementara itu, Apple sebagian besar tetap absen dari perlombaan AI industri teknologi yang dimulai ketika OpenAI meluncurkan ChatGPT pada akhir 2022.
Apple seharusnya meluncurkan generasi berikutnya dari asisten AI Siri tahun lalu, tetapi perusahaan akhirnya menunda peluncuran tersebut. Apple telah berjanji untuk meluncurkan “Siri yang lebih personal” pada 2026.
Perusahaan Wall Street Raymond James minggu ini menurunkan peringkat saham Apple, dengan mengatakan bahwa keuntungan akan sulit didapatkan pada 2026.
Alphabet Susul Apple hingga Nvidia, Nilai Pasar Tembus USD 3 Triliun
Sebelumnya, Alphabet, induk perusahaan Google, akhirnya mencetak sejarah baru. Nilai pasar perusahaan ini resmi tembus USD 3 triliun atau sekitar Rp 49.236 triliun (estimasi kurs Rp 16.412 per USD). Capaian ini menempatkannya dalam jajatan perusahaan super-elit yang sebelumnya hanya diisi oleh Apple, Microsoft, dan Nvidia.
Saham Alphabet naik tajam di lantai bursa pada perdagangan Senin waktu setempat hingga membawa nilai pasar perusahaan menembus USD 3,05 triliun.
Dikutip dari CNBC, Selasa (16/9/2025), lonjakan ini dipicu sentimen positif dari putusan hakim Amit Mehta pada awal September. Saat itu, hakim menolak tuntutan Departemen Kehakiman AS yang ingin memaksa Google melepas peramban Chrome.
Putusan yang dinilai jauh lebih ringan dari perkiraan investor itu langsung membuat saham Alphabet melejit.
“Departemen Kehakiman AS sebelumnya mendesak Google agar dipaksa melepas peramban Chrome, namun hakim menolak hukuman terberat yang diusulkan,” tulis CNBC.
Presiden Donald Trump bahkan ikut memberi selamat dan menyebut momen ini sebagai “hari yang sangat baik.”
Pencapaian nilai pasar USD 3 triliun ini hadir lebih dari 20 tahun setelah Google melakukan IPO, serta satu dekade lebih sejak berdirinya Alphabet sebagai perusahaan induk.
Tantangan Kecerdasan Buatan
Sejak 2019 kepemimpinan Alphabet berada di tangan Sundar Pichai yang menggantikan salah satu pendiri Google, Larry Page. Pichai kini menghadapi tantangan besar yakni ketatnya persaingan di sektor kecerdasan buatan (AI) serta tekanan regulasi dari AS dan Eropa.
Menariknya, kemunculan pemain baru seperti Perplexity dan OpenAI justru ikut menguntungkan Google dalam putusan antimonopoli tersebut.
Di tengah keketatan persaingan ini, masa depan Alphabet sangat bergantung pada strategi AI. Perusahaan menaruh harapan besar pada Gemini, rangkaian model kecerdasan buatan (AI) unggulan milik Google, untuk memperkuat dominasi mereka di era teknologi berikutnya.
Gemini diproyeksikan menjadi kunci agar Alphabet tetap relevan sekaligus mampu bersaing dengan rival-rival besar yang tengah gencar berinvestasi di bidang AI.