Rupiah Tertekan Sentimen Suku Bunga Fed dan Invasi AS ke Venezuela

Gejolak pasar tenaga kerja AS dan spekulasi suku bunga The Fed membuat nilai tukar rupiah merosot ke posisi Rp 16.780.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 07 Januari 2026, 17:45 WIB
Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, mencatat mata uang rupiah kembali melemah di level Rp 16.780 pada penutupan perdagangan Rabu (7/1/2026) sore.

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 22 poin sebelumnya sempat melemah 30 poin di level Rp 16.780 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.758," kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (7/1/2026).

Adapun sejumlah faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah diantaranya, pertentangan pendapat terkait suku bunga dana Fed. Gubernur Fed Stephen Miran, Aktivitas bisnis AS tetap solid, namun hal itu membenarkan perlunya suku bunga yang lebih rendah.

Bertentangan dengan pendapatnya, Presiden Fed Richmond Thomas Barkin menyatakan bahwa suku bunga dana Fed berada dalam level netral, yang tidak merangsang maupun menghambat aktivitas ekonomi.

Ibrahim mejelaskan, kontrak berjangka dana Fed masih memperkirakan sekitar 82% kemungkinan suku bunga akan tetap stabil pada pertemuan bank sentral AS berikutnya pada tanggal 27 hingga 28 Januari, menurut alat CME FedWatch.

Namun demikian, ketegangan geopolitik yang terus-menerus dan ekspektasi berkelanjutan akan dua kali pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve (Fed) tahun ini terus mendukung kenaikan harga emas secara lebih luas, menjaga harga tetap berada di sekitar rekor tertinggi.

"Investor akan mengamati dengan cermat data penggajian non-pertanian untuk bulan Desember, yang akan dirilis Jumat, untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang suku bunga. Kekuatan pasar tenaga kerja merupakan pertimbangan utama bagi Federal Reserve dalam mengubah suku bunga," ujarnya.

 

Gejolak Amerika Serikat dan Venezuela

Kendaraan lapis baja Garda Nasional memblokir sebuah jalan yang mengarah ke Istana Kepresidenan Miraflores di Caracas, Venezuela, Sabtu, (3/1/2026) di tengah eskalasi ketegangan pasca penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istri oleh Amerika Serikat. (Dok. AP/Cristian Hernandez)

Invasi AS ke Venezuela juga tetap menjadi poin penting yang perlu diwaspadai oleh pasar. Presiden Donald Trump mengatakan Caracas telah setuju untuk memasok antara 30 juta hingga 50 juta barel minyak ke Amerika Serikat, setelah Washington menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro akhir pekan lalu.

"Perselisihan diplomatik antara Jepang dan Tiongkok meningkat pekan ini setelah Beijing membatasi ekspor barang-barang dengan potensi aplikasi militer ke Jepang," ujarnya.

 

Faktor Internal

Suasana gedung bertingkat dan permukiman warga di kawasan Jakarta, Senin (17/1/2022). Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 mencapai 5,2 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara, didalam negeri yang mempengaruhi pelemahan rupiah yakni pernyataan pemeringkat international seperti IMF dan Bank Dunia serta Bank Indonesia memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 dikisaran 5%.

"Namun Menteri Kuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 6%, angka tersebut tidak sulit tercapai karena pihaknya telah menyiapkan sejumlah strategi," ujarnya.

Sedangkan sejumlah strategi untuk mengerek pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6%, salah satunya akselerasi anggaran. Purbaya ingin agar belanja fiskal bisa digelontorkan di awal-awal tahun. Kemudian disinkronkan dengan kebijakan moneter dari Bank Indonesia.

Selain itu, iklim usaha yang mulai membaik bisa mengembalikan kepercayaan investor, termasuk investor asing. Hal ini seiring dengan penyelesaian masalah debottlenecking atau hambatan investasi maupun usaha. Kebijakan tersebut membuat investor asing semakin oftimis dengan perubahan kebijakan tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya