Harga Minyak Diprediksi Turun Setelah AS Kuasai Venezuela

Harga minyak dunia diprediksi akan turun.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 07 Januari 2026, 12:15 WIB
Sebuah pabrik pengolahan minyak milik perusahaan negara Petroleos de Venezuela (PDVSA) difoto di Maracaibo, Negara Bagian Zulia, Venezuela, pada 11 Juli 2024. (Federico PARRA/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Indonesia Gas Society, Aris Azof memprediksi harga minyak dunia akan turun. Hal ini dikarenakan Amerika Serikat akan menguasai lahan minyak Venezuela setelah menangkap presiden dan ibu negara mereka.

Aris melanjutkan, setelah menguasai Venezuela, Amerika Serikat diprediksi akan meningkatkan produksi minyak yang saat ini sangat rendah atau kurang dari 1 juta BOPD. Sementara, potensi cadangan minyak Venezuela mencapai 303 mulliae barrel.

“Secara jangka menengah dan panjang, kemungkinan akan mendorong turunnya harga minyak dunia, mengingat Amerika akan mengendalikan Venezuela untuk meningkatkan produksi minyak yang saat ini sangat rendah,” katanya kepada Liputan6.com, Rabu (6/1/2026).

Ia melihat, turunnya harga minyak dunia akan mengurangi pendapatan bagi Indonesia dari sisi hulu. Namun, sebaliknya di sisi hilir, Indonesia akan menikmati dengan berkurangnya beban subsidi BBM.

Meski begitu, kata dia, dalam skala internasional dampak pada harga minyak tidak akan berubah banyak. Selama tiada kerusuhan masal di Venezuela yang bisa membawa instabilitas ke wilayah Amerika Selatan. 

Secara jangka pendek Harga Brent tidak naik secara signifikan. Pada awal pekan ini saja, Senin (5/1/2026), tercatat bergerak berada di kisaran harga USD 60–62 per barel dalam beberapa hari terakhir. Padahal, saat minggu lalu sebelum Penculikan Presiden Maduro, berada di USD 60.80 per Barrel. 

“Sedangkan untuk Indonesia juga tidak terlalu besar, karena indonesia diversifikasi impor minyak dari negara lain seperti Afrika Barat, Timur Tengah dan Asia Tengah,” jelasnya. 

Begini Kondisi Pasokan dan Harga Minyak Imbas Penangkapan Presiden Venezuela Maduro

Sebuah patung tangan yang memegang rig pengeboran minyak difoto di luar perusahaan minyak milik negara Petroleos de Venezuela S.A. (PDVSA) di Caracas pada 26 Februari 2025. Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan pada 26 Februari 2025 bahwa ia akan membatalkan "konsesi" minyak yang diberikan oleh pendahulunya, Joe Biden, kepada Venezuela pada 26 November 2022, ketika Chevron diizinkan beroperasi di negara Karibia tersebut. (Pedro MATTEY/AFP)

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo, menilai dinamika politik dan ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela tidak akan berdampak signifikan terhadap harga minyak dunia maupun harga energi di dalam negeri. 

Menurut Hadi, produksi minyak Venezuela saat ini hanya berada di kisaran 800 ribu barel per hari (bopd), angka yang sangat kecil dibandingkan total produksi minyak global yang mendekati 100 juta bopd. Dengan porsi tersebut, Venezuela tidak memiliki pengaruh besar terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan global.

“Venezuela bukan choke point seperti Selat Hormuz. Dalam lima tahun terakhir, meski terjadi berbagai dinamika di Venezuela, harga minyak dunia justru cenderung turun. Dampaknya ke harga minyak domestik juga hampir tidak ada,” ujar Hadi saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (6/1/2026).

Hadi juga menyinggung konflik lama antara pemerintah Venezuela dan perusahaan minyak Amerika Serikat. Pada 2007, Venezuela menasionalisasi aset kontraktor kontrak kerja sama (K3S) asing yang menyebabkan perusahaan minyak AS kehilangan aset hingga US$8 miliar, yang nilainya diperkirakan telah berlipat ganda saat ini.  

Meski telah ada putusan lembaga peradilan internasional, Venezuela disebut belum memenuhi kewajiban pembayaran kompensasi.

“Dalam konteks itu, Amerika Serikat ingin mengembalikan rule of business sesuai hukum internasional. Namun kami meyakini AS tetap akan menghormati kontrak-kontrak yang sudah berjalan, termasuk kerja sama dengan Pertamina,” katanya.

 

Cadangan Minyak Besar

Sekretaris Jenderal Aspermigas, Elan Biantoro, menyebut Venezuela sebagai negara dengan cadangan minyak besar, namun gagal mengelolanya secara optimal akibat kebijakan yang tertutup terhadap investor asing.

“Cadangan minyak Venezuela jauh di atas Indonesia, tetapi produksinya hanya sekitar satu juta barel per hari karena minim investasi,” kata Elan.

Elan mengingatkan bahwa dampak geopolitik terhadap harga minyak tidak akan terasa dalam waktu dekat. Namun dalam satu hingga dua tahun ke depan, kontraksi ekonomi global berpotensi terjadi.

“Jika harga minyak terlalu tinggi, itu tidak menguntungkan ekonomi. Jika terlalu rendah, penerimaan negara dari sektor migas bisa turun. Karena itu Indonesia harus waspada, menjaga iklim investasi, dan tetap bermain cantik mengingat investor besar migas masih didominasi perusahaan Amerika,” pungkasnya. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya