Liputan6.com, Jakarta - Melewati pergantian tahun, Karina Ranau memilih tidak merayakan momen tersebut seperti kebanyakan orang. Sejak ditinggal suami tercinta, Epy Kusnandar, yang wafat pada 3 Desember 2026, Karina memilih untuk menghabiskan waktunya di makam sang suami. Meski hujan turun, ia tetap bersimpuh di pusara Epy, mengikuti dorongan hati yang membuatnya merasa lebih tenang dan dekat dengan almarhum.
Karina mengungkapkan, keputusannya datang ke makam bukan tanpa alasan. Ia merasa kenyamanan dan ketenangan justru ia dapatkan di tempat peristirahatan terakhir suaminya itu.
Advertisement
“Saya datang ke makam karena memang dorongan hati, karena untuk sampai saat ini saya merasa nyaman, saya merasa tenang, saya merasa bahagia di tempat ini, merasa dekat sama almarhum,” ucap Karina Ranau dalam cuplikan tayangan Hot SHot yang dibagikan ulang ke kanal YouTube SCTV, Selasa (6/1/2025).
Satu bulan berlalu sejak kepergian Epy Kusnandar, namun Karina masih kerap merasa sang suami hanya sedang pergi syuting, seperti kebiasaan yang selama ini dijalani. Bersama sang anak, ia hampir tak pernah absen mengunjungi makam Epy dengan membawa bunga putih untuk meluapkan kerinduan.
“Udah mau sebulan ya pastinya kehilangan, masih belum percaya. Masih kayak dia lagi pergi kerja, karena biasanya juga kalau syuting ditinggalin berbulan-bulan lama gitu. Tapi kita bisa komunikasi lewat handphone, video call. Kalau ini ya dia pergi, ya sudah selamanya kita enggak bisa ngobrol lagi, enggak bisa berdebat lagi,” tuturnya.
Ingin Melupakan Demi Bisa Bangkit
Ditinggal pasangan hidup untuk selamanya membuat Karina Ranau merasakan duka yang begitu mendalam. Rasa kehilangan itu bahkan sempat membuatnya berharap ingatan tentang sang suami bisa terhapus, agar dirinya mampu melanjutkan hidup tanpa terus larut dalam kesedihan.
Keinginan tersebut muncul bukan karena ingin melupakan sosok Epy Kusnandar, melainkan sebagai upaya bertahan dari rasa lelah menghadapi duka yang tak kunjung reda.
Karina pun mengungkapkan pergulatan batin yang ia rasakan sejak hari pertama kepergian suaminya.
“Kalau disuruh ikhlas mau, misalnya melupakan di hari pertama setelah dia dimakamkan terus lupa aja, lupa ingatan itu mau kalau bisa. Supaya saya bisa move on, saya enggak kepikiran, enggak nangis. Capek kan nangis. Cuma kan enggak bisa. Makanya saya bilang ya Allah kalau ingatan saya bisa digeser, dilupakan untuk ini saya mau. Cuma akan kembali lagi, ya memang hidup sudah harus begini,” ucap Karina.