Hari Apa Diperingati Setiap Tahun pada 7 Januari? Simak Daftar Selengkapnya!

Tanggal 7 Januari menyimpan peringatan dan peristiwa menarik dibaliknya. Bukan hanya sekedar hari setelah libur panjang tahun baru, hari ini dirayakan dengan berbagai peringatan. Ada hari apa saja?

oleh Rizqi Tri NovitasariDiterbitkan 07 Januari 2026, 06:30 WIB
Apakah Tanggal 1 Januari 2026 Libur? Ilustrasi kalender 2026. Foto: Gemini

Liputan6.com, Jakarta - Tanggal 7 Januari menyimpan peringatan dan peristiwa menarik dibaliknya. Bukan hanya sekedar hari setelah libur panjang tahun baru, hari ini dirayakan dengan berbagai peringatan yang hadir dari latar belakang budaya, tradisi, dan pengetahuan yang berbeda-beda.

Bagi umat Kristen Ortodoks, hari ini, Rabu (7/1/2026) adalah Hari Natal yang dirayakan berdasarkan kalender Julian.

Di sisi lain, pecinta kuliner mengenal hari ini sebagai Hari Tempura Nasional, momentum yang pas untuk menikmati hidangan khas Jepang yang renyah dan sudah mendunia.

Hari ini juga diperingati sebagai Hari Distaff atau Hari Roc, yang mengajak kita untuk mengingat peran penting akan perempuan di masa lalu melalui tradisi memintal benang, sebuah pekerjaan rumah tangga yang dulu sangat menentukan kehidupan keluarga dan masyarakat.

Tak hanya itu, 7 Januari juga dikenang dalam sejarah astronomi sebagai Hari ditemukannya Callisto, salah satu bulan terbesar Jupiter, oleh Galileo Galilei pada tahun 1610.

Sementara itu, Hari Batuan Tua mengajak kita berhenti sejenak dan mengagumi perjalanan panjang Bumi serta ilmu geologi yang membantu manusia memahami usia planet ini.

Lantas, ada hari apa saja yang diperingati setiap tahunnya pada 7 Januari 2026? Simak selengkapnya dihimpun Liputan6.com dari berbagai sumber:

Hari Natal Ortodoks

(Sumber: Lukisan sosok Santo Porphyrius di Patriarkat Ortodoks Yunani Yerusalem (Jerusalem-patriarchate.info))

Melansir dari laman BBC, bagi jutaan umat Kristen Ortodoks di berbagai belahan dunia, Natal tidak dirayakan pada 25 Desember, melainkan pada 7 Januari. 

Perbedaan ini berakar pada penggunaan kalender yang berbeda dalam penentuan hari-hari besar keagamaan. Gereja Ortodoks tetap berpegang pada Kalender Julian, sementara sebagian besar dunia Barat menggunakan Kalender Gregorian.

Tradisi ini dapat ditelusuri hingga abad ke-4 Masehi, ketika para pemimpin gereja menetapkan dasar perhitungan hari raya berdasarkan Kalender Julian yang saat itu digunakan Kekaisaran Romawi. 

Seiring perkembangan ilmu astronomi, kalender tersebut diketahui memiliki selisih waktu sekitar 11 menit per tahun dari tahun surya, yang kemudian menimbulkan ketidaksinkronan tanggal.

Untuk memperbaiki hal ini, Kalender Gregorian diperkenalkan pada 1582 dan secara bertahap diadopsi oleh banyak negara Kristen. Namun, Gereja Ortodoks menolak perubahan tersebut dan mempertahankan kalender lama.

Akibat selisih 13 hari antara kedua kalender, Natal Ortodoks jatuh pada 7 Januari. Peringatan Hari Natal Ortodoks tidak hanya menandai kelahiran Yesus Kristus, tetapi juga menjadi puncak dari masa puasa selama 40 hari. 

Perayaan ini sarat makna spiritual, ditutup dengan misa malam Natal dan kebersamaan keluarga sebagai simbol iman, ketekunan, serta kesinambungan tradisi keagamaan yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Hari Tempura Nasional

IlustrasiTempura Udang Renyah Gurih Enak / Freepik by topntp26

Dikutip National Today, Hari Tempura Nasional yang diperingati setiap 7 Januari menjadi momentum untuk merayakan salah satu hidangan paling ikonik dalam kuliner Jepang. 

Tempura dikenal sebagai sajian sayuran, makanan laut, atau bahan lain yang digoreng dengan balutan adonan tipis dari tepung, telur, dan air, sehingga menghasilkan tekstur renyah namun ringan. Meski kini identik dengan Jepang, tempura sejatinya memiliki sejarah panjang yang berakar dari pengaruh asing.

Hidangan ini diperkenalkan pada abad ke-16 oleh para misionaris Portugis di Nagasaki melalui teknik menggoreng yang saat itu masih jarang dikenal di Jepang. 

Awalnya, tempura disajikan selama masa Prapaskah Kristen, ketika konsumsi daging dibatasi. Bahkan, istilah “tempura” diyakini berasal dari frasa Latin ad tempora cuaresme, yang merujuk pada periode tersebut.

Seiring waktu, teknik memasak ini diadaptasi dan disempurnakan oleh masyarakat Jepang hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner lokal.

Dalam perkembangannya, tempura berevolusi dari hidangan sederhana menjadi sajian khas dengan berbagai variasi, mulai dari ikan, udang, hingga aneka sayuran. 

Peringatan Hari Tempura Nasional tidak hanya merayakan kelezatan makanan ini, tetapi juga menegaskan keberhasilan Jepang dalam mengolah pengaruh asing menjadi identitas kuliner yang unik dan mendunia.

Disstaf Day

Ilustrasi mesin tekstil (unsplash)

Mengutip dari laman National Today, Hari Distaff atau Hari Roc yang diperingati setiap 7 Januari merupakan perayaan simbolik atas peran penting perempuan dalam sejarah kerja domestik dan industri tekstil tradisional, khususnya pada masa Abad Pertengahan. 

Perayaan ini berfokus pada distaff, alat sederhana namun krusial yang digunakan untuk menahan serat wol atau rami sebelum dipintal menjadi benang. Kehadiran alat ini mempermudah proses pemintalan dengan menjaga serat tetap rapi dan tidak kusut, sehingga menjadi fondasi awal dalam produksi pakaian.

Secara historis, Hari Distaff berakar dari tradisi Eropa ketika perempuan kembali menjalankan pekerjaan rumah tangga mereka dua belas hari setelah Natal.

Pemintalan benang bukan sekadar aktivitas domestik, melainkan pekerjaan vital yang menopang kebutuhan sandang masyarakat. 

Sebelum ditemukannya roda pemintal pada abad ke-16, distaff dan gelendong menjadi alat utama perempuan dalam mengolah serat menjadi benang. Praktik ini kemudian melekat sebagai simbol kerja keras, ketekunan, dan peran keibuan dalam struktur keluarga.

Peringatan Distaff Day tidak hanya mengenang alat pemintal sebagai artefak sejarah, tetapi juga mengapresiasi kontribusi perempuan yang selama berabad-abad menjadi penggerak utama produksi tekstil. 

Peristiwa Penemuan Callisto

Gunung raksasa di Planet Jupiter ini memiliki ketinggian 11 mil, lebih tinggi dari Mount Everest yang ketinggiannya hanya sebesar 5,5 mil.

Pada 7 Januari 1610, Galileo Galilei menemukan bulan terbesar di tata Surya, Ganymede. Bulan itu merupakan orbit dari planet Jupiter. Penemuan terjadi ketika Galileo sedang melakukan observasi langit di Universitas Padua.

Menurut European Space History, Galileo bahkan menemukan tiga bulan sekaligus, yakni Ganymede, Io, dan Europa. Ia menggambarkan bulan-bulan itu sebagai "tiga bintang dengan posisi tetap" yang berbaris di sisi Jupiter. 

Hampir seminggu kemudian, Galileo menemukan satu bulan lagi yang kemudian dinamakan Callisto. Astronom modern menyebut empat satelit itu sebagai Bulan Galileo.

Ganymede adalah bulan terbesar di tata surya dengan radius 2.631 km. Nama bulan ini berasal dari seorang pangeran dari kota Troya pada mitologi Yunani.

Berkat parasnya yang rupawan, ia menjadi kesayangan Dewa Zeus dan ditugaskan sebagai pembawa minuman bagi para dewa. Ia pun dijadikan Zeus sebagai rasi bintang Aquarius yang disimbolkan membawa kendi air.

Space.com mencatat Ganymede lebih besar dari planet Merkurius dan Pluto, serta hampir seukuran Mars. Ganymede bisa saja disebut planet jika mengorbit matahari dan bukan Jupiter.

Bulan berusia 4,5 miliar tahun ini ini diprediksi memiliki samudera air asin di bawa permukaan esnya sehingga ada dugaan planet ini cocok untuk makhluk hidup.

Badan Antariksa Eropa berencana mengirimkan wahana untuk menjelajah bulan ini pada 2022 mendatang. Wahana itu bernama Jupiter Icy Moon Explorer (JUICE).

Hari Batuan Tua

Penampakan meteorit lebih tua dari Tata Surya (Sumber: Museum Victoria)

Hari Batuan Tua yang diperingati setiap 7 Januari merupakan momen reflektif untuk menghargai perjalanan panjang Bumi serta kontribusi ilmu geologi dalam memahami asal-usul dan dinamika planet ini. 

Sejak awal peradaban, manusia telah bergantung pada batuan sebagai fondasi kehidupan, mulai dari tempat tinggal, alat, hingga sumber daya alam yang menopang aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, peringatan ini juga menjadi bentuk apresiasi terhadap para ilmuwan yang membuka tabir sejarah Bumi melalui kajian batuan.

Kajian tentang batuan telah dimulai sejak era Yunani Kuno melalui pemikiran Theophrastus dan kemudian dikembangkan oleh Plinius Tua yang mendokumentasikan berbagai mineral dan kegunaannya. 

Perkembangan ilmu geologi semakin nyata ketika istilah “geologi” diperkenalkan pada awal abad ke-17, diikuti dengan pembuatan peta geologi pertama oleh William Smith yang menata lapisan batuan berdasarkan fosil. 

Gagasan revolusioner James Hutton pada abad ke-18 kemudian mengubah cara pandang manusia dengan menegaskan bahwa usia Bumi jauh lebih tua dari perkiraan sebelumnya.

Peringatan Hari Batuan Tua mengingatkan bahwa batuan bukan sekadar benda mati, melainkan arsip alam yang merekam sejarah miliaran tahun. 

Infografis Daftar Diskon Tarif Tol Selama Libur Natal hingga Tahun Baru. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya