Perang Melawan Berita Palsu di Finlandia Dimulai Sejak Ruang Kelas Prasekolah

Tidak hanya literasi media, tapi Finlandia juga akrab dengan literasi AI.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 06 Januari 2026, 21:01 WIB
Seorang siswa kelas empat berusia 10 tahun mengerjakan tugas saat mengikuti kelas literasi media di Sekolah Dasar Tapanila, kawasan Tapanila, Finlandia, pada 9 Desember 2025. (Dok. AP/James Brooks)

Liputan6.com, Helsinki - Perang melawan berita palsu atau fake news di Finlandia dimulai sejak anak-anak masih duduk di bangku prasekolah. Selama beberapa dekade, negara Nordik ini telah memasukkan literasi media—termasuk kemampuan menganalisis berbagai jenis media dan mengenali disinformasi—ke dalam kurikulum nasional bagi siswa sejak usia tiga tahun.

Pembelajaran tersebut merupakan bagian dari program antipenyebaran informasi palsu yang kuat, yang bertujuan membuat masyarakat Finlandia lebih tahan terhadap propaganda dan klaim keliru.

Kini, para guru juga dibebani tugas untuk menambahkan literasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) ke dalam kurikulum, terutama setelah Rusia meningkatkan kampanye disinformasi di seluruh Eropa menyusul invasi skala penuh ke Ukraina hampir empat tahun lalu. 

"Kami memandang literasi media sebagai keterampilan kewarganegaraan yang sangat penting," ujar Kiia Hakkala, spesialis pedagogi Pemerintah Kota Helsinki kepada The Associated Press. "Kemampuan ini berperan besar dalam menjaga keamanan negara sekaligus melindungi demokrasi kami."

Literasi AI Menjadi Keterampilan Vital

Di Sekolah Dasar Tapanila, sebuah kawasan tenang di utara Helsinki, guru Ville Vanhanen mengajarkan sekelompok siswa kelas empat cara mengenali berita palsu. Saat layar televisi menampilkan spanduk bertuliskan "Fact or Fiction?", siswa bernama Ilo Lindgren menilai pernyataan yang ditampilkan.

"Ini agak sulit," ungkap anak berusia 10 tahun itu.

Vanhanen menjelaskan bahwa murid-muridnya telah belajar tentang berita palsu dan disinformasi selama bertahun-tahun, dimulai dari membaca judul berita dan teks pendek. Dalam sebuah pelajaran terbaru, para siswa kelas empat diminta menyusun lima hal yang perlu diperhatikan saat mengonsumsi berita daring agar dapat memastikan kepercayaannya. Kini, mereka mulai beralih ke literasi AI, yang semakin dianggap sebagai keterampilan penting.

"Kami juga mempelajari cara mengenali apakah sebuah gambar atau video dibuat oleh AI," tutur Vanhanen, yang menjabat sebagai guru sekaligus wakil kepala sekolah.

Media Finlandia turut berperan dalam upaya ini dengan menyelenggarakan "Pekan Surat Kabar" setiap tahun, di mana surat kabar dan materi berita lainnya dibagikan kepada generasi muda untuk dibaca. Pada 2024, surat kabar Helsingin Sanomat yang berbasis di Helsinki berkolaborasi dalam penerbitan "ABC Book of Media Literacy" yang dibagikan kepada setiap remaja berusia 15 tahun di seluruh negeri saat mereka mulai menempuh pendidikan menengah atas.

"Bagi kami, sangat penting untuk dipandang sebagai tempat di mana Anda bisa mendapatkan informasi yang telah diverifikasi, dapat dipercaya, dan dibuat oleh orang-orang yang Anda kenal secara transparan," ujar Jussi Pullinen, pemimpin redaksi harian tersebut.

 

Demokrasi Ditantang oleh Disinformasi

Literasi media telah menjadi bagian dari kurikulum pendidikan Finlandia sejak tahun 1990-an. Selain itu, tersedia pula kursus tambahan bagi orang dewasa yang lebih tua, yang dinilai rentan terhadap misinformasi.

Keterampilan ini telah begitu mengakar dalam budaya Finlandia sehingga negara Nordik dengan populasi sekitar 5,6 juta jiwa tersebut secara rutin menempati peringkat teratas dalam Indeks Literasi Media Eropa. Indeks ini disusun oleh Open Society Institute yang berbasis di Sofia, Bulgaria, antara tahun 2017 hingga 2023.

"Saya rasa kita tidak membayangkan dunia akan terlihat seperti ini," kata Menteri Pendidikan Finlandia Anders Adlercreutz. "Bahwa kita akan dibombardir oleh disinformasi, bahwa institusi kita akan ditantang—demokrasi kita benar-benar ditantang—melalui disinformasi."

Seiring pesatnya perkembangan teknologi AI, para pendidik dan pakar pun berlomba-lomba mengajarkan siswa serta masyarakat luas cara membedakan antara fakta dan berita palsu.

"Di ruang informasi saat ini, sudah jauh lebih sulit untuk mengetahui mana yang nyata dan mana yang tidak," kata Martha Turnbull, direktur pengaruh hibrida di European Centre of Excellence for Countering Hybrid Threats yang berbasis di Helsinki. "Kebetulan saat ini masih relatif mudah mengenali konten palsu buatan AI karena kualitasnya belum sebaik yang mungkin dicapai."

"Namun, seiring berkembangnya teknologi tersebut, terutama ketika kita bergerak menuju hal-hal seperti agentic AI, saya pikir saat itulah akan menjadi jauh lebih sulit bagi kita untuk mengenali mana yang palsu dan mana yang nyata."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya