Bitcoin Bergejolak Usai Ketegangan Venezuela, Analis Tetap Optimistis

Gejolak Venezuela memicu volatilitas Bitcoin, namun analis menilai koreksi bersifat sementara.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 04 Januari 2026, 06:00 WIB
sejumlah pelaku pasar kripto menilai koreksi harga Bitcoin hanya bersifat sementara. Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Bitcoin sempat mengalami tekanan dan turun di bawah level USD 90.000 setelah meningkatnya ketegangan geopolitik menyusul aksi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela. Pergerakan harga kripto terbesar dunia itu mencerminkan volatilitas tinggi di tengah kekhawatiran konflik yang lebih luas dan ketidakpastian pasar global.

Dikutip dari coinmarketcap, Minggu (4/1/2026), data TradingView menunjukkan Bitcoin sempat mencapai level tertinggi di kisaran USD 90.940 di bursa Bitstamp sebelum berbalik arah. Tekanan jual meningkat setelah militer AS melancarkan serangan udara di Caracas.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan melalui Truth Social bahwa presiden Venezuela telah ditangkap dan dilengserkan dari kekuasaan. Situasi ini menambah gejolak pasar, terutama karena terjadi saat likuiditas rendah dan pasar keuangan tradisional tutup akhir pekan.

Meski demikian, sejumlah pelaku pasar kripto menilai koreksi tersebut hanya bersifat sementara. Firma analitik @Wealthmanager menilai tekanan jual jangka pendek memang meningkat, namun prospek Bitcoin masih positif dengan target USD 96.000 hingga USD 100.000 dalam beberapa pekan ke depan.

Mereka juga menyoroti kontrak berjangka Bitcoin di CME Group yang ditutup di atas USD 90.000 pekan lalu, yang berpotensi menjadi sinyal teknikal positif.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Reaksi Klasik

Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Analis kripto Lennaert Snyder menilai pekan ini akan menjadi periode krusial seiring kembalinya pelaku pasar keuangan tradisional, yang berpotensi meningkatkan volatilitas. Ia memperkirakan Bitcoin dapat pulih cepat selama ketegangan geopolitik tidak memburuk.

Sementara itu, analis Michaël van de Poppe menyebut pergerakan terbaru sebagai reaksi klasik terhadap isu Venezuela. Ia tetap bersikap bullish selama Bitcoin bertahan di atas rata-rata pergerakan 21 hari di sekitar USD 87.850. Menurutnya, tren awal Januari masih condong ke arah penguatan selama level support utama terjaga.

 

Lebih Baik Dibanding Emas

Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Di sisi lain, Bitcoin juga menunjukkan kinerja relatif lebih kuat dibandingkan emas.

Sepanjang periode Tahun Baru, harga emas sempat menembus USD 4.550 per ons sebelum terkoreksi sekitar 6 persen. Sebaliknya, Bitcoin justru naik sekitar 5 persen, memperkuat narasi potensi peralihan minat investor dari aset lindung nilai tradisional ke aset digital.

“Pola historis menunjukkan reli parabolik Bitcoin sering kali terjadi setelah emas mencapai puncaknya,” ujar analis Bull Theory. Ia menilai puncak harga emas terbaru bisa menjadi sinyal awal rotasi dana ke pasar kripto.

Meski demikian, analis mengingatkan volatilitas pasar masih tinggi seiring perkembangan geopolitik dan kondisi makroekonomi global yang terus berubah. Investor pun diminta tetap mencermati risiko di tengah peluang yang ada.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya