Kinerja Bursa Saham Negara Berkembang Cemerlang Sepanjang 2025

Indeks MSCI Emerging Market mengungguli kinerja indeks MSCI World pada 2025. Berikut sentimennya.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 26 Desember 2025, 15:51 WIB
Seorang pria berjalan melewati indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Rudal tersebut menuju wilayah Tohoku dekat negara Jepang. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham negara berkembang siap mengakhiri 2025 dengan positif. Hal ini seiring gelombang momentum positif mendorong indeks saham ke level tertinggi sepanjang masa dan diprediksi terus berlanjut pada 2026. Salah satunya ditunjukkan dari kinerja indeks saham acuan di Yunani.

Mengutip CNBC, Jumat (26/12/2025), indeks MSCI Emerging Markets yang terdiri dari saham-saham berkapitalisasi besar dan menengah yang tercatat di berbagai negara berkembang melonjak 30% sejak awal tahun. Kinerja indeks MSCI Emerging Markets naik mengungguli ketiga indeks acuan di wall street.

Sebagai perbandingan, indeks MSCI World yang hanya mencakup saham-saham berkapitalisasi besar dan menengah dari pasar negara maju termasuk Amerika Serikat (AS) naik lebih dari 20% pada 2025.

Beberapa negara dalam kelompok ini telah mengalami tahun yang sangat cemerlang. Indeks komposit Athena, indek acuan Yunani telah melonjak hampir 44% sepanjang 2025 dan akan ditingkatkan statusnya menjadi pasar negara maju pada September 2026.

Namun, kenaikan pasar negara berkembang tahun ini bukan hanya karena satu, atau bahkan beberapa, kinerja luar bbiasa dari masing-masing negara.

Indeks acuan Chili dan Republik Ceko, keduanya naik sekitar 50,8% sepanjang 2025. Sementara itu, indeks BET Rumania naik lebih dari 42%.

Tahun Perubahan

Pada acara diskusi meja bundar di London menjelang akhir November, para manajer dana di perusahaan manajemen investasi Ninety One yang mengelola aset USD 203 miliar menunjukkan nada optimistis. Hal itu yang mengindikasikan kenaikan lebih lanjut di berbagai sektor pasar negara berkembang pada 2026.

"Jika Anda ingin meringkas 2025 dengan baik dalam satu kata, itu adalah perubahan. Ini adalah tahun perubahan di berbagai lapisan,” ujar Manajer Portofolio di divisi ekuitas pasar negara berkembang perusahaan tersebut, Varun Laijawalla.

Dolar AS Melemah

Petugas menunjukkan uang rupiah di penukaran uang, Jakarta, Senin (9/11/2020). ). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat pada perdagangan di awal pekan ini Salah satu sentimen pendorong penguatan rupiah kali ini adalah kemenangan Joe Biden atas Donald Trump. (Liputan6.com/Angga Yuniar

Ia mengatakan, tingkat perubahan pertama adalah hanya ada satu tren perdagangan di pasar selama 15 tahun terakhir.

"Tren tersebut adalah pasar negara maju yang sebenarnya adalah Amerika Serikat, dan itu telah berubah tahun ini,” ujar dia.

Laijawalla juga mencatat dolar AS telah melemah pada 2025, setelah 15 tahun tren satu arah. Sejak awal tahun, indeks dolar AS yang mengukur nilai dolar AS terhadap sekeranjang mata uang lainnya telah turun sekitar 9%. Hal ini dipicu oleh aksi jual aset AS pada April yang dikenal sebagai “Sell America”.

Dolar AS yang kuat dapat menekan negara-negara berkembang yang bergantung pada modal asing. Seiring hal itu meningkatkan biaya mata uang lokal untuk utang berdenominasi dolar AS dan dapat mengurangi arus masuk investasi dari luar negeri.

Selain itu, kata Laijawalla, telah terjadi serangkaian perubahan di tingkat negara pada 2025, dengan menunjuk China dan Korea Selatan sebagai contoh. Yang pertama, menurut dia, telah menyaksikan munculnya DeepSeek – penantang Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buata AS – dan kembali merangkul sektor swasta tahun ini. Sementara itu, Korea Selatan memiliki pemerintahan baru yang telah menerapkan reformasi tata kelola perusahaan yang sangat dibutuhkan.

"Dari 24 pasar yang dapat kita investasikan di sisi ekuitas, pasar yang memiliki tata kelola lemah secara terus-menerus adalah Korea Selatan, jadi jika Anda mengatasi masalah utama di pasar tersebut, jelas itu merupakan perubahan arah yang sangat positif,” ujar dia.

 

Penawaran Saham

Ilustrasi bursa saham Asia (Foto by AI)

Menurut Laijawalla, pendorong utama yang paling menonjol adalah perubahan dalam penerbitan saham, bagaimana saham masuk dan keluar dari pasar publik.

"Mengapa kelas aset ini berkinerja lebih rendah daripada pasar negara maju? Hanya ada satu alasan,penerbitan bersih, yang kita sebut pengenceran,” katanya.

"Selama 15 tahun terakhir di pasar negara berkembang, hambatan dari penerbitan sangat besar,” kata dia, menunjuk pada gelombang IPO, khususnya di China.

"Itulah alasan keuangan mendasar mengapa ekuitas pasar negara berkembang berkinerja lebih rendah daripada AS dan pasar negara maju. Jadi jika Anda melihat angka itu, penerbitan selama tiga tahun terakhir, penerbitan bersih di Tiongkok, yang telah menjadi pelaku utama, menyempit secara drastis."

Aksi Beli Saham

Ilustrasi bursa saham Asia (Foto by AI)

Ia menambahkan, juga terjadi peningkatan besar dalam pembelian kembali saham di China pada 2024, dan pergeseran yang lebih luas dalam perilaku alokasi modal perusahaan yang mencakup peningkatan pembayaran dividen.

"Yang saya katakan adalah bahwa hambatan yang ada dengan cepat berkurang, dan pada suatu titik akan menjadi pendorong,” ujar dia.

"Dan saya pikir konsep itu sama sekali tidak dipahami oleh pasar. Di situlah letak perbedaan sebenarnya. Saya pikir kondisi pasar negara berkembang belum pernah semenarik ini selama 15 tahun terakhir.”

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya