Kotak Hitam Jet Pribadi yang Tewaskan Panglima Militer Libya Ditemukan di Turki

Apa penyebab kecelakaan jet pribadi yang membawa Kepala Staf Angkatan Bersenjata Libya Mohammed Ali Ahmed al-Haddad?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 25 Desember 2025, 09:04 WIB
Tim penyelamat Turki mencari jenazah di lokasi jatuhnya jet pribadi yang membawa Kepala Staf Angkatan Bersenjata Libya Mohammed Ali Ahmed al-Haddad dan empat orang lainnya. Pesawat jatuh pada Selasa (23/12/2025), setelah lepas landas dari Ankara dan menewaskan seluruh orang di dalamnya. (Dok. AP/Efekan Akyuz)

Liputan6.com, Ankara - Otoritas Turki menemukan perekam suara kokpit dan perekam data penerbangan (kotak hitam) dari jet pribadi Falcon 50 yang jatuh di dekat Ankara dan menewaskan Kepala Staf Umum Angkatan Darat Libya Letnan Jenderal Mohammed al-Haddad bersama empat ajudannya.

Pesawat nahas itu dilaporkan meminta pendaratan darurat beberapa menit setelah lepas landas dari Bandara Ankara, akibat gangguan kelistrikan.

Namun, sebelum berhasil mendarat, kontak dengan pesawat terputus. Jet tersebut diketahui tengah dalam perjalanan kembali ke Tripoli usai misi resmi di Turki, dikutip dari laman France24, Kamis (25/12/2025).

Puing-puing pesawat kemudian ditemukan oleh aparat keamanan Turki di Distrik Haymana, wilayah pedesaan sekitar Ankara. Menteri Dalam Negeri Turki Ali Yerlikaya mengatakan perekam suara kokpit dan perekam data penerbangan telah berhasil diamankan dari lokasi kecelakaan.

“Proses pemeriksaan dan evaluasi terhadap perangkat ini telah dimulai,” kata Yerlikaya kepada wartawan di lokasi kejadian.

Sementara itu, Menteri Transportasi dan Infrastruktur Turki Abdulkadir Uraloglu menyatakan analisis kotak hitam akan dilakukan di negara netral guna memastikan transparansi penyelidikan.

“Analisis perekam suara dan perekam data penerbangan untuk menentukan penyebab kecelakaan akan dilakukan di negara netral. Hasilnya akan dibagikan kepada publik dan komunitas internasional secara terbuka,” ujar Uraloglu melalui platform X.

Delapan Penumpang di Dalam Pesawat

Letjen Mohammed al-Haddad dan empat ajudannya berada di dalam pesawat bersama tiga awak, sehingga total terdapat delapan orang di dalam jet tersebut. Mereka baru saja menyelesaikan pertemuan dengan pejabat militer Turki di Ankara sebelum kembali ke Libya.

Perdana Menteri Libya Abdulhamid Dbeibah menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Haddad, yang telah menjabat sebagai kepala staf umum angkatan darat Libya sejak Agustus 2020.

Yerlikaya menyebut jenazah para korban masih berada di area kecelakaan yang mencakup wilayah sekitar tiga kilometer persegi. Delegasi Libya yang terdiri dari 22 orang, termasuk lima anggota keluarga almarhum Haddad, telah tiba di Ankara untuk proses lanjutan.

“Kami memanjatkan doa bagi mereka yang meninggal dunia dalam kecelakaan tragis ini dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban,” kata Yerlikaya.

Sebanyak 408 personel gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Turki (AFAD), kepolisian, dan tenaga medis dikerahkan ke lokasi kejadian. Otoritas juga mengerahkan drone untuk memantau area kecelakaan dan mendukung operasi evakuasi.

 

Penyelidikan Bisa Berlangsung Berbulan-bulan

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Libya Jenderal Mohammed Ali Ahmed al-Haddad didampingi oleh sejumlah pejabat militer saat mengalami kecelakaan pesawat pada Selasa (23/12/2025). (Dok. Kementerian Pertahanan Turki/AFP)

Kejaksaan Ankara telah membuka penyelidikan resmi untuk mengungkap penyebab kecelakaan tersebut. Pakar penerbangan dari Universitas Bahcesehir Istanbul, Tolga Tuzun Inan, menilai gangguan listrik tunggal tidak serta-merta menyebabkan pesawat kehilangan seluruh sistemnya.

“Satu kegagalan listrik biasanya tidak membuat pesawat benar-benar gelap total. Namun jika dikombinasikan dengan faktor lain, termasuk kondisi cuaca, situasi berbahaya bisa terjadi,” kata Inan kepada stasiun televisi swasta NTV.

Ia menambahkan, data dari kotak hitam akan menjadi kunci utama untuk mengetahui rangkaian kejadian sebelum kecelakaan, meski proses analisis kemungkinan memakan waktu hingga beberapa bulan.

Belasungkawa Erdogan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada Perdana Menteri Libya Abdulhamid Dbeibah melalui sambungan telepon, menurut pernyataan resmi kantor kepresidenan Turki.

Libya hingga kini masih terpecah antara pemerintahan yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa di Tripoli, yang dipimpin Dbeibah, dan pemerintahan saingan di wilayah timur yang dipimpin oleh Panglima Militer Khalifa Haftar.

Negara Afrika Utara itu terus dilanda instabilitas sejak pemberontakan yang didukung NATO pada 2011 menggulingkan dan menewaskan pemimpin lama Moamer Kadhafi.

Turki diketahui memiliki hubungan erat dengan pemerintah Libya yang diakui PBB di Tripoli dan selama ini memberikan dukungan ekonomi serta militer. Meski demikian, Ankara dalam beberapa waktu terakhir juga berupaya menjalin komunikasi dengan otoritas di Libya timur. Kepala Badan Intelijen Turki Ibrahim Kalin tercatat bertemu Khalifa Haftar di Benghazi pada Agustus lalu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya