Liputan6.com, Tel Aviv - Seorang mantan ajudan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa segera setelah serangan Hamas pada Oktober 2023—yang memicu perang dua tahun Israel di Gaza—pemimpin Israel tersebut memerintahkannya untuk mencari cara agar sang perdana menteri dapat menghindari tanggung jawab atas kegagalan keamanan itu.
Mantan juru bicara Netanyahu, Eli Feldstein, yang kini menghadapi persidangan atas dugaan pembocoran informasi rahasia kepada media, seperti dilansir Associated Press menyampaikan tuduhan yang mengejutkan ini dalam sebuah wawancara panjang dengan saluran berita Kan milik Israel pada Senin (22/12) malam.
Advertisement
Para pengkritik telah berulang kali menuduh Netanyahu menolak menerima tanggung jawab atas serangan paling mematikan dalam sejarah Israel. Namun, hanya sedikit yang diketahui mengenai perilaku Netanyahu pada hari-hari segera setelah serangan tersebut, sementara Netanyahu secara konsisten menolak pembentukan penyelidikan negara yang independen.
Dalam wawancara dengan Kan, Feldstein mengatakan bahwa tugas pertama yang ia terima dari Netanyahu setelah 7 Oktober 2023 adalah meredam tuntutan pertanggungjawaban.
"Ia bertanya kepada saya, 'Apa yang mereka bicarakan di berita? Apakah mereka masih membicarakan soal tanggung jawab?'," kata Feldstein.
"Ia meminta saya memikirkan sesuatu yang dapat disampaikan untuk meredam badai media mengenai apakah perdana menteri telah mengambil tanggung jawab atau belum."
Feldstein menambahkan bahwa Netanyahu tampak panik ketika menyampaikan permintaan tersebut. Ia mengatakan bahwa kemudian ia diberi tahu oleh orang-orang di lingkaran terdekat Netanyahu agar menghilangkan kata tanggung jawab dari semua pernyataan resmi.
Respons Netanyahu terhadap Klaim Feldstein
Pada 7 Oktober 2023, militan yang dipimpin Hamas diklaim Israel menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel selatan dan menyandera 251 orang, yang kemudian dibawa ke Gaza. Israel pada hari yang sama melancarkan perang besar-besaran di Gaza yang hingga kini telah menewaskan hampir 71.000 warga Palestina. Sekitar setengah dari korban tewas adalah perempuan dan anak-anak.
Kantor Netanyahu sendiri menyebut wawancara yang dilakukan Feldstein sebagai serangkaian panjang tuduhan bohong dan berulang yang disampaikan oleh seorang pria dengan kepentingan pribadi yang jelas dan sedang berupaya mengalihkan tanggung jawab dari dirinya sendiri.
Pernyataan Feldstein disampaikan setelah ia didakwa dalam sebuah kasus hukum, di mana ia dituduh membocorkan informasi militer rahasia kepada sebuah tabloid Jerman dengan tujuan memperbaiki citra publik perdana menteri pasca tewasnya enam sandera di Gaza pada Agustus tahun lalu.
Selain itu, Feldstein juga menjadi tersangka dalam skandal yang dikenal sebagai "Qatargate". Dalam perkara ini, ia merupakan salah satu dari dua ajudan dekat Netanyahu yang dituduh menerima uang dari Qatar, meskipun pada saat yang sama tetap bekerja untuk perdana menteri.