Liputan6.com, Jakarta - Harga kripto jajaran teratas bergerak di zona hijau pada perdagangan Senin, (22/12/2025) pukul 08.00 WIB. Harga bitcoin (BTC) dan Ethereum kompak menghijau.
Mengutip data coinmarketcap.com, harga kripto kapitalisasi pasar terbesar (BTC) naik 0,40% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga bitcoin bertambah 0,22%. Saat ini, harga bitcoin berada di posisi USD 88.729 atau Rp 1,48 miliar (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.739).
Advertisement
Harga Ethereum (Eth) melonjak 1,68% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga Ethereum terpangkas 1,52%. Kini, harga Ethereum berada di posisi USD 3.032,23 atau Rp 50,74 juta.
Harga kripto hari ini seperti tether (USDT) naik 0,04% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga USDT melemah 0,01%. Saat ini, harga tether berada di posisi USD 0,9997.
Selain itu,harga binance coin (BNB) naik 0,80% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga BNB terpangkas 2,55%. Kini, harga BNB berada di posisi USD 860,68.
Harga XRP terpangkas 0,60% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga XRP merosot 2,94%. Kini, harga XRP berada di posisi USD 1,92.
Di sisi lain, harga USDC berada di zona hijau dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga USDC bergerak di zona merah. Kini, harga USDC berada di posisi USD 0,9999.
Harga solana (SOL) naik 0,53% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga solana merosot 2,74%. Kini, harga solana berada di posisi USD 126,58.
Harga tron (TRX) bertambah 2,26% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga tron melonjak 3,43%. Saat ini, harga tron berada di posisi USD 0,2881.
Harga dogecoin (DOGE) naik 0,14% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga dogecoin merosot 2,35%. Kini, harga dogecoin berada di posisi USD 0,1319.
Harga cardano (ADA) terpangkas 1% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga cardano merosot 7,32%. Saat ini, harga cardano berada di posisi USD 0,3685.
Kapitalisasi pasar kripto naik 0,53% selama 24 jam terakhir. Saat ini, kapitalisasi pasar kripto tercatat USD 3,01 triliun atau Rp 50.386 triliun.
Pencurian Kripto oleh Peretas Korea Utara Meningkat 51% pada 2025
Sebelumnya, peretas asal Korea Utara telah mencuri kripto senilai USD 2,02 miliar atau Rp 33,73 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.700).Berdasarkan laporan Chainalysis yang dirilis Kamis pekan ini, angka ini naik 51% dari tahun lalu dan merupakan tahun dengan angka pencurian kripto terkait the Democratic People’s Republic of Korea (DPRK) terbesar yang pernah tercatat.
Secara keseluruhan, kripto telah mengalami pencurian senilai USD 3,4 miliar atau Rp 56,7 triliun pada tahun ini, menurut laporan tersebut. Hal ini berarti serangan DPRK menyumbang 59% dari dana yang dicuri ini.
Chainalysis percaya data tersebut menunjukkan "evolusi" dari Korea Utara. Hal ini mereka mulai melakukan lebih sedikit serangan tetapi menimbulkan kerusakan yang jauh lebih besar dengan setiap serangan. Serangan Bybit senilai USD 1,5 miliar pada Februari, yang dikaitkan FBI dengan DPRK, adalah contoh kunci dari evolusi ini.
"Bagi industri mata uang kripto, evolusi ini menuntut peningkatan kewaspadaan terhadap target bernilai tinggi dan peningkatan deteksi pola pencucian uang khusus DPRK," demikian pernyataan laporan tersebut.
Pola Pencucian Uang
“Preferensi konsisten mereka terhadap jenis layanan dan jumlah transfer tertentu memberikan peluang deteksi, membedakan mereka dari penjahat lain, dan dapat membantu penyelidik mengidentifikasi jejak perilaku mereka di blockchain.”
Chainalysis mengklaim telah mengidentifikasi pola pencucian uang tiga gelombang yang berbeda, berlangsung selama 45 hari, yang biasanya diikuti oleh penyerang Korea Utara.
Ciri-cirinya termasuk penggunaan layanan berbahasa Mandarin, ketergantungan yang besar pada aset penghubung lintas blockchain untuk membingungkan pelacakan, dan penggunaan layanan pencampuran kripto yang lebih besar. Pola ini, menurut laporan tersebut, telah bertahan selama beberapa tahun terakhir.
Tujuan Pencurian Kripto
Chainalysis mengatakan kepada Decrypt pola pencucian uang yang berbeda ini cukup untuk menghubungkan serangan ke Korea Utara.
"Dalam banyak kasus, mata uang kripto yang dicuri secara langsung mendanai program senjata pemusnah massal mereka," ujar Head of National Security Intelligence Chainalysis Andrew Fierman, kepada Decrypt.
"Laporan MSMT baru-baru ini merinci bagaimana dana ini digunakan untuk pengadaan segala sesuatu mulai dari kendaraan lapis baja hingga sistem rudal pertahanan udara portabel."
Semakin sering, serangan datang dari pelaku kejahatan yang disewa oleh perusahaan kripto. Penyerang kemudian berupaya mendapatkan akses istimewa sebelum mencuri informasi atau dana penting.
Binance mengatakan kepada Decrypt pada musim panas peretas Korea Utara mencoba untuk dipekerjakan oleh bursa terpusat utama setiap hari. Binance’s Chief Security Officer, Jimmy Su menjelaskan penyerang bahkan dapat menggunakan video langsung dan pengubah suara yang dihasilkan AI pada panggilan dalam upaya untuk dipekerjakan.
Bursa tersebut telah mengidentifikasi beberapa tanda umum penyerang Korea Utara, dan membagikan informasi ini dengan bursa kripto lainnya melalui Telegram dan Signal.