Liputan6.com, Dhaka - Kekerasan pecah di Bangladesh setelah kematian seorang pemimpin terkemuka dari gerakan pemuda yang menggulingkan mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina.
Sharif Osman Hadi ditembak oleh penyerang bertopeng saat meninggalkan sebuah masjid di Dhaka pekan lalu dan meninggal dunia akibat luka-lukanya pada Kamis (18/12/2025) saat menjalani perawatan di Singapura.
Advertisement
Penembakan tersebut terjadi sehari setelah otoritas Bangladesh mengumumkan tanggal pemilihan umum pertama sejak pemberontakan pada 2024, yang rencananya akan diikuti Hadi sebagai calon independen.
Ketika kabar kematiannya muncul pada Kamis, ratusan pendukungnya berkumpul di sebuah alun-alun di ibu kota untuk melakukan protes.
Belakangan, para demonstran merusak kantor surat kabar terkemuka Bangladesh, The Daily Star dan Prothom Alo, di mana salah satu gedung dilaporkan dibakar.
"Ratusan orang telah berkumpul di sini dan melakukan penyerangan," ujar seorang perwira polisi kepada BBC Bangla.
Pasukan dikerahkan ke lokasi kejadian, sementara petugas pemadam kebakaran menyelamatkan para jurnalis yang terjebak di dalam gedung.
Hadi, 32 tahun, merupakan pemimpin senior kelompok protes mahasiswa Inqilab Mancha dan dikenal sebagai pengkritik vokal negara tetangga India — tempat Hasina masih berada dalam pengasingan mandiri.
Partai-partai politik Bangladesh telah menyampaikan belasungkawa atas kematiannya dan mendesak pemerintah sementara untuk membawa para pelaku ke pengadilan.
Respons Pemerintah Bangladesh
Peraih Nobel, Muhammad Yunus, yang memimpin pemerintahan sementara, menyebut kematian Hadi sebagai kehilangan yang tidak tergantikan bagi bangsa.
"Perjalanan negara ini menuju demokrasi tidak dapat dihentikan melalui rasa takut, teror, atau pertumpahan darah," katanya dalam pidato yang disiarkan televisi pada Kamis.
Pemerintah sementara menetapkan hari berkabung nasional pada Sabtu (20/12).
Tidak lama setelah Hadi ditembak, Yunus mengatakan bahwa peristiwa tersebut merupakan serangan yang direncanakan sebelumnya dan bahwa tujuan para konspirator adalah menggagalkan pemilu.
"Tidak ada bentuk kekerasan yang bertujuan mengganggu pemilu yang akan ditoleransi," tutur Yunus. "Insiden ini merupakan perkembangan yang mengkhawatirkan bagi lanskap politik negara."
Penyelidikan masih berlangsung dan sejumlah orang telah ditahan terkait penembakan tersebut.
Hasina melarikan diri ke India pada 5 Agustus tahun lalu, setelah berminggu-minggu aksi protes yang dipimpin mahasiswa, yang mengakhiri 15 tahun kekuasaan yang semakin otoriter.
Pada November, ia dijatuhi hukuman mati atas kejahatan terhadap kemanusiaan setelah dinyatakan bersalah karena membiarkan penggunaan kekuatan mematikan terhadap para pengunjuk rasa, yang menyebabkan 1.400 orang tewas selama kerusuhan tersebut.